
PATRICK JONATHAN KUSUMA
Belum habis satu masalah kini bertambah satu lagi masalah. Dari tadi aku mencemaskan bagaimana nasib motor ku yg ku titip kan di warung, sekarang aku masih harus memikirkan nasib Laras.
Sejak tadi Laras terus saja menangis dan meracau tidak jelas sambil memanggil nama Dodit. Bahkan supir taxi yg ku tumpangi memandang ku dengan raut wajah yg mencurigakan sejak tadi.
Di pikir nya aku ini sedang menculik wanita yg sudah bersuami. Sungguh brengsek si Dodit, dasar batang pisang sialan.
" Udah dong Ras nangis nya. Cup.. Cup.. Entar aku beliin es ya. Atau mau makan ayam? Biasa nya kan kamu ayam mania."
" AYAM... OH AYAM... Tega benar kau menghianatiku. Kembalikan semua yg ku berikan padamu. Jiwa raga yg telah ku korban kan untuk mu. Hiks.... Hiks...Dodit....MasDodit... "
Ya Tuhan. Bisa gila aku kalau begini. Mana si supir taxi semakin memandang aneh padaku lagi.
Terus bagaimana aku harus membawa Laras pulang dalam keadaan begini. Aku sudah lumayan kenal baik dengan orang tua Laras karena sering mengantar jemput laras, tapi hanya di anggep temen.
Di antar pulang salah, ngak di pulangin malah tambah salah.
Akhir nya setelah mempertimbangkan segala hal, Aku memutuskan untuk membawa Laras ke tempat kos ku.
Tempat kecil yg hanya terdiri dari satu kamar ruang tamu kecil satu kamar mandi dan sisa ruang yg kujadikan dapur. Di sini lah aku tinggal setelah aku hidup mandiri tanpa bantuan orang tua ku.
Sesampai nya di tempat kos Aku langsung membawa Laras masuk ke dalam, untung keadaa sedang sepi kalau tidak pasti para tetangga berfikir macam macam.
Ku duduk kan Laras di tepi sebuah ranjang kencil yg biasa aku gunakan untuk tidur.
"Ras kamu mandi dulu gih sana "
" Hah....sama siapa? "
"Apa nya yg sma siapa? Emang kamu mau aku mandiin? "
"Ok Jo. " Laras pun segera berdiri tapi sejenak kemudian terlihat seperti akan jatuh dan reflek aku segera menangkap nya.
" Ngak usah mandi aja deh kamu, Aku bantu kamu cuci muka aja trus ganti baju sendiri. "
Setelah Aku membantu nya cuci muka, Aku segera meninggal kan nya agar bisa berganti baju. Setelah itu Aku kembali membantu nya duduk di ranjang.
" Nah akhir nya beres satu masalah,tinggal pikirin gimana ngasih alasan buat ortu kamu besok "
"Alasan?Aku juga ngak tahu Jo apa alasan nya kok bisa hidupku sesial ini hiks... Hiks... Hiks... "
" Hus... Hus... Cup cup udah jangan nangis lagi. Bisa gawat kalau tetangga pada tahu kalau aku pulang bawa cewek. Dasar minuman setan, di minum dikit aja efek nya bisa ber kepanjangan kayak gini. Lagian heran aku kok bisa bisa nya itu warung nge jual minuman beralkohol.
Udahlah Ras ngak usah di inget inget lagi, mati satu tumbuh sejuta,ilang satu batang cari batang yg lain. "
" Aku kan kesel Jo. Aku udah rugi banyak. "
" Cuma rugi waktu dan uang doang. Anggep aja itu harga yg harus kamu bayar buat belajar menilai orang. "
" Masalah nya bukan cuma itu aja. Aku tuh udah menaruh banyak harapan sama Mas Dodit. Kamu tahu kan orang tuaku udah mulai cerewet minta aku nikah mulu.Dan juga aku udah nge bayangin banyak hal Kalau Seandai nya kami nanti pacaran. Aku ngebayangin kalau aku bisa... bisa.. "
" Bisa apa?"
" Ngak papa, lupain aja. "
" Kok gitu sih,penasaran kan jadi nya. Emang kamu ngebayangin bisa apa? Bisa kencan berdua? "
" Enggak "
" Makan ? "
" Enggak "
" Nonton berdua? "
" Enggak "
" Gandengan tangan berdua? Muter muter se indonesia berdua atau berpe... "
" CIUMAN... Puas kamu. "
"Apa? "
" Akutuh penasaran banget sama yg nama nya ciuman kayak yg di tv itu. Aku kan ngak pernah. Aku pernah pacaran sekali waktu SMA tapi ngak pernah ciuman.Baru juga pacaran sebulan udah putus aja karena di selingkuhin"
" Jadi... Ciuman ya? "
" Selama itu ciuman kamu ngak peduli kan dengan siapa Kamu melakukan nya?"
" Maksudnya? "
Tanpa berfikir panjang lagi aku langsung memegan wajah nya dan menempel kan bibir ku. Mula nya dia terlihat kaget dan memundurkan kepala nya tapi tertahan oleh ke dua tangan ku yg memegangi kepala nya.
Hal berikut nya yg terjadi adalah Laras mulai memejamkan mata nya. Mungkin rasa penasaran mulai menguasai diri nya.
Kini aku mulai ******* dan menghisap bibir nya seperyi orang yg sedang kelaparan. Tangan ku kini mulai bergerilya turun masuk semakin ke bawah.
Dari bibir kini mulutku berpindah ke leher nya membuat Laras mengeluarkan suara *******.
Tanpa sadar aku mulai membaringkan tubuh Laras dengan tangan tangan yg masih memainkan bukit kembar nya.
Semakin lama bermain main dengan tubuh Laras semakin membuat aku gila hingga tanpa sadar mulai melucuti satu persatu pakaian Laras setelah itu giliran pakaian milik ku sendiri.
Barulah setelah itu aku memasuki yg tak seharus nya. Tak ku pedulikan rasa Sakit yg di rasakan Laras, Aku terus memacu nya sampai aku merasakan pelepasan ku sendiri hingga tak ku sadari Laras menangis kesakitan.
" Ras maafin aku ya, Aku khilaf. "
Laras tak menjawab perkataan ku. Dia memejamkan mata,memiringkan tubuh nya menghadap ku dan memelukku.
Tak lama setelah itu dia pun tertidur. Aku pun membalas pelukan nya sambil menyesali semua yg telah terjadi. Tapi sedetik kemudian aku mensyukuri nya, karena kini sudah di pastikan aku akan memiliki wanita pujaan hati ku. Aku pun mulai memejamkan mata dan ikut jatuh kealam mimpi bersama nya. Biarlah hari esok aku pikirkan esok.
**********
Aku lanngsung berlutut memohon ampun kepada kedua orang tua Laras.
Ayah Laras hanya bisa terduduk lemas mengetahui anak gadis satu satu nya telah ternoda. Sedang kan Ibu nya, dia langsung berjalan menuju dapur. Mungkin mau membuat teh untuk suami nya.
Tapi tak lama kemudian calon Ibu mertua ku keluar dari dapur, dengan membawa panci yg pantat nya sudah menghitam.
"Dasar laki laki brengsek. " Plak... Sambil memukul kan panci ke tubuh ku
"Kamu pikir kamu siapa?" Buk...
"Berani sekali kamu menyakiti Putri ku."
Buk...buk... buk...
Pukulan demi pukulan aku terima dengan ikhlas. Setelah panci yg di gunakan untuk memukul ku berubah rata barulah calon ibu mertua berhenti memukul.
"Maaf kan saya Bu. Saya tahu saya salah, dan saya tidak bisa mengembalikan Laras kembali seperti semula. Saya akan berusaha memperbaiki semua. Saya akan menikahi Laras. "
Tak jauh berbeda dengan orang tua Laras, ke dua orang tua ku juga marah mengetahui apa yg kulakukan.
Ayah ku menampar ku dengan sangat keras setelah itu dia memeluk ku.
"Kamu tahu kan kesalahan apa yg udah kamu lakukan? Tapi semua sudah terjadi, keputusan kamu tepat untuk menikahi nya. Dan buktikan kalau kamu memang topcer. Semoga kamu segera memberi ayah cucu. Hahaha.... "
Ayah tertawa senang mengetahui aku akan segera menikah. Dan ibu ku memeluk Laras dengan erat. Sedangkan Laras terheran heran mengetahui siapa keluarga ku yg sebenar nya.
Persiapan pernikahan dilakukan dengan cepat dan sederhana mengingat latar belakang pernikahan kami. Satu bulan kemudian kami sudah sah menjadi suami istri. Dan di sini lah kami saat ini. Sebuah hotel bintang lima yg menjadi tempat resepsi sekaligus kamar pengantin kami.
"Ras... " Aku menyentuh tangan Laras yg duduk di samping ku. Raut wajah kecewa menghiasi wajah nya.
"Ya Jo eh... Mas"
"Maaf ya, semua jadi begini karena kebodohan aku. "
" Nasi udah jadi bubur, ngak bisa jadi nasi goreng. Tambahin aja ayam sama sambel biar bisa di nikmati"
" Yah kok bubur? Lembek dong punyaku. "
" Apa nya yg lembek? idih jorok pikiran nya. Lagian rasa nya gimana aja aku ngak ingat. Mana aku tahu punya Mas lembek atau keras. "
Oh iya ya...Waktu itu kan Laras ngak sadar.
" Yaudah, coba lagi yuk biar inget. Aku jamin kali ini bakalan enak. "
" Ayok."
Begitulah kisah rumah tanggaku di mulai.Ke bahagiaan Kami semaking bertambah saat Kami di beri seorang Putra.
Pada awal nya Aku ingin menjodoh kan Anak ku dengan Anak dari teman ku Dani dengan tujuan agar semakin mempererat hubungan pertemanan Kami. Tapi sayang ternyata anak dari Dani ternyata juga lelaki. Mungkin nanti jika Kami sama sama sudah mempunyai cucu kami bisa berbesanan.