
Wow...
Rasa kagum tampak jelas dalam setiap wajah para rombongan pegawai sekaligus teman Tika yang terdiri dari joko, vivi dan beberapa pegawai yang lain.
Mereka tampat terkejut melihat kontrakan Tika yang sangat jauh dari kata
'biasa biasa saja'.
Beberapa menit yang lalu Tika di buat bingung karena tiba tiba saja semua pegawai toko ingin datang menjenguk nya tapi tak menemukan Tika di kontrakan lama nya.
Walau sudah berkata bahwa dia tidak apa apa tapi tetap saja mereka tidak tenang jika tidak melihat sendiri secara langsung.
Akhir nya Tika pun memberikan alamat tempat kontrakan nya yang baru yang berimbas dia harus menyetujui bahwa dia akan tinggal serumah dengan Bima.
Tentu nya dengan sarat bahwa tidak ada seorang pun yang boleh tahu perihal hal tersebut.
Dan sial nya ternyata Bos Andra termasuk dalam rombongan orang orang yang menjenguk nya.
"Wah kemajuan yang sungguh sangat pesat. Kemarin rumah angker sekarang rumah mewah.
Banyak uang kamu Tik? Ngepet kemana nih kok ngak ngajak ngajak. "
Rasanya ada yang kurang jika joko tidak nyiyir sebentar saja.
Plak... Vivi memukul lengan joko dengan keras yang di jawab dengan senyum sambil mengelus tangan nya yang terkena pukulan.
"Kalau ngomong yang bener. Ngepat ngepet, memang kamu pikir Tika cewek apaan."
"Betul banget mbak." Tika membetul kan perkataan vivi.
"Eh Tik berapa biji tuyul yang kamu pelihara sampe bisa ngontrak di sini."
"Ye... Sama aja kaya mas joko."
"Habis lihat nih. Ini seperti bumi dan langit sama kontrakan kamu yang lama.
Kalau yang kemarin kita kita pada ogah main ke tempat kamu.
Soal nya butuh kekuata jiwa yang extra buat bertahan di tempat kamu barang sepuluh menit saja.
Kalau yang ini mah seharian juga betah main di sini." kata Vivi panjang lebar.
"Jauh banget mbak perumpamaan nya."
"Berapa juta tik per bulan nya?" Joko semakin penasaran dengan rumah baru tika.
"Eh... anu... itu... ngak mahal kok pokok nya. Adik kakak lah sama yang lama."
"Serius kamu? rumah sebagus ini cuma ratusan ribu. Kok bisa?" Vivi terheran heran mendengar penjelasan Tika
"Ya bisa lah."
Semua orang di buat kaget dengan kedatangan seseoran yang tak lain adalah Bima.
"Kok kamu bisa ada di sini?" Untuk pertama kali nya Bos Andra membuka suara.
"Aku juga lagi jengukin Tika."
"Adik nya Bos tuh." Bisik joko dengan suara yang tidak begitu pelan pada Vivi
"Iya tahu." Balas Vivi
"Eh si adik bos kok bisa tahu ya harga kontrakan Tika?" Tanya joko lagi
"Mungkin dia yang punya kali." jawab Vivi lagi
"Bukan aku yang punya tapi temen aku."
"Hehehe... Kedengeran ya." Jawab joko sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Gimana cerita nya kok akhir nya rumah temen kamu bisa di pakai si Tika?" Bos Andra tampat penasaran dengan masalah kontrakan ini.
"Ya awal nya aku kasihan aja lihat kontrakan Tika yang tidak layak huni.
Bayangin aja,udah rumah nya jauuh.... banget sama jalan raya. Udah gitu jauh dari tetangga dan mesti lewat kebon dulu baru nyampe.
Yang lebih parah nya lagi, itu rumah seperti menyatu dengan pemakaman hih... serem."
Bos Andra menganguk kan kepala nya tanda bahwa dia memahami semua nya, karena jujur saja dia juga menganggap bahwa kontrakan Tika yang lama memang menyeramkan.
"Karena adik kakak yang satu ini baik dan tidak sombong, jadi aku iseng iseng aja tanya temen yang punya rumah sederhana yang lagi ngak kepake.
Ya jadi nya ini deh."
"Wow...holang kaya Vi, rumah kaya gini sederhana kata nya." Kali ini Joko benar benar berbisik pada Vivi.
"Kok jadi pada ngomongin kontrakan sih, ayo pada duduk di buka tuh bungkusan nya." Tika mencoba mengalihkan pembicaraan tentang kontrakan yang tidak ada habis nya dari tadi.
Dan mereka pun akhir nya duduk bersama dan mengobrol sambil memakan makanan yang di bawa. Saking asyik nya mereka mengobrol sampai mereka lupa waktu hingga tak terasa hari sudah sangat malam.
"Eh udah malam aja, waktu nya pamit nih." ucap Vivi
"Makasih ya udah sempet sempetin dateng kemari."
"Iya santai aja, eh bener bahu kamu udah ngak apa apa?"
"Iya bener, tiga hari lagi udah di lepas ini bungkusan nya." jawab Tika sambil menunjukkan bahu nya dengan menggerak kan nya secara pelan.
"Lontong kali Tik pake di bungkus. " jawab Joko
"Paling lama seminggu an aku udah balik kerja lagi. Tempat aku jangan di kasih yang lain ya Bos"
"Sip deh. Eh kok aku ngak lihat mobil kamu Bim, naik apa ke sini?"
"Tumben, yaudah aku antar pulang aja. Sekalian kita lanjut ngobrol. Udah lama juga ngak mampir ke tempat kamu."
Waduh bisa gawat nih,batin Bima. Padahal dia sudah menantikan bisa tidur serumah dengan orang yang membuat hatinya tidak karuan selama beberapa hari ini.
Sedang kan Tika berpikir ini adalah kesempatan yang bagus untuk menjauh kan Bima dari rumah ini.
"Wah kebetulan sekali Bos, tadi adik Bos bilang kalau dia rinnduuu...pake banget sama kakak nya. Ngak nyangka ternyata perasaan kalian bisa nyambung banget."
"Eh kapan aku ngomong kalau..." Bima berusaha menyangkal
"Yaudah Bos buruan pulang,keburu malem. Makasih loh untuk semua nya karena udah mau jenguk aku." Tika memotong perkataan Bima agar dia bisa segera mengusir nya dari rumah itu.
Kampret si Tika, batin Bima. Pasti dia sengaja.
Dan akhir nya semua tamu sudah pulang ke rumah masing masing. Setidak nya untuk malam ini Tika bisa tidur dengak nyenyak.
*************
"Waduh waduh....anak perawan kok gini amat ya. Bocah SD aja udah mau pulang sekolah lah ini masih asik tidur aja. Bangun woi... bangun."
"Apa sih Jo."
"Jo Ja Jo. BANGUN.... "
Bima terus saja menggoyang dengan pelan badan Tika agar ter bangun
Sedangkan si pemilik sedang asik berkelana di dunia mimpi.
Dalam mimpi nya,dia bertemu dengan seorang pria yang sedang berlutut di bawah kaki nya sambil terus memohon pada nya agar menerima cinta nya.
BANGUN ........
Bima terus saja berteriak.
Merasa ada memanggil nya,Tika membuka mata nya perlahan.
Dan jantung nya langsung berdetak tak karuan begitu membuka mata.
"Ganteng nya." Ucap Tika tanpa sadar
"Ya aku memang ganteng." Ucap Bima, dia pun beralih mengecup kening Tika
"Good morning sayang."
"Kok bukan Jimin?" Tika berucap heran
"Hah? Jimin ? siapa?"
Setelah sadar Tika pun mendorong tubuh Bima yang dari tadi mengungkung tubuh nya. Dia pun langsung menduduk kan tubuh nya.
Sambil mengumpul kan sisa nyawa nya dia mulai melihat dengan jelas tubuh
Bima
Astaga...
Bagaimana Tika tidak di buat deg degan melihat Bima. Ternyata dari tadi Bima bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek saja.
Lihat saja kotak kotak yang ada di perut nya.
Alamak.... Ngak kuat hati aku bang.
Udah mirip artis korea yang sering di impikan Tika selama ini.
Sementara yang sedari tadi di tatap Tika tampak tidak terganggu sama sekali.
"Malah bengong, buruan mandi sana. Denger ya Tik, karena bahu kamu masih sakit aku kasih kompensasi ngak usah buat sarapan dulu. Tapi Harus temenin makan. Buruan keluar, udah aku siapin makan nya." Setelah selesai berbicara, Bima segera beranjak keluar. setelah dia menutup pintu kamar Tika dengan sempurna Bima langsung mengelus dada nya.
"Gima keadaan kamu di sana jantung dan hati ku? aman kan? sabar ya,sebentar lagi aku pasti bisa dapetin pemilik kalian."
ternyata dari tadi Bima sudah merasa deg deg an sewaktu masuk kamar Tika. tapi karena gengsi dia menahan semua itu. apalagi saat dia dengan tiba tiba mencium kening Tika. rasa nya seperti jantung dan hati nya ingin keluar dari tubuh nya.
Bahkan saat sedang makan bersama pun Bima masih merasakan hal yang sama.
"Besok jadwal kamu periksa ke dokter kan? tunggu aku pulang biar aku anterin." Saat ini mereka sedang sarapan bersama.
"Eh ngak usah. Entar ngrepotin."
"Udah ngak papa."
"Yaudah aku berangkat dulu.inget ngak usah macem macem dulu biar cepet sembuh bahu nya."
"iya"
"Di rumah aja,ngak usah keluyuran."
"iya"
"Nih uang buat kamu kalau butuh apa apa. Tapi beli nya online aja biar ngak usah keluar."
Buset...udah kaya suami yang sedang pamit kerja pada istri aja batin Tika.
"Aku berangkat sayang."
cup...
Tak lupa sebuah ciuman Bima darat kan di dahi Tika.
untuk sementara dahi dulu ya sayang.besok besok baru bibir kamu.