
Semilir angin yang menerpa dedaunan menambah kesejukan di siang hari ini. Sunyi nya keadaan pemakaman siang hari ini menambah nelangsa nya hati seorang Juminten saat ini.
Sedari tadi Juminten terlihat hanya melamun saja. Tak di hiraukan nya hantu Belanda yang sedari wara wiri di depan nya yang mencoba menarik perhatian nya.
"Woi Minten melamun aja dari tadi,kesambet setan baru tahu rasa."
"Emang kita kurang setan apa lagi sampai ada setan yang berani merasuki setan."
"Eh bener juga ya. Eh BTW kamu lagi nglamunin apa dari tasi bengong terus?"
"Opo sih Jo BTW... BTW an segala. Ndak mudeng aku bahasa mu."
"Dasar setan kuno. BTW tuh arti nya ngomong ngomong. Oh nya lagi nlamunin apa kamu dari tadi diem aja."
"Lagi bingung nih Jo,aku kayak nya mau pergi aja deh ninggalin dunia ini."
"Emang udah iklas lahir batin buat ninggalin semua nya?"
"Ada sih yang belum kesampaian hingga saat ini."
"Apa?"
"Aku tuh pengen deket dan pengen makan bareng cowok yang ganteng,bobok bareng kalau bisa."
"Gila ya kamu,sungguh cita cita yang sangat membahayakan buat kaum lelaki."
"Ye...kata nya kemarin mau bantu."
"Eh iya. Mumpung lagi di sini aku mau ngomong nih ma kamu."
"Emang dari tadi kita ngapain?"
"Serius ini."
"Lanjut kan bang."
"Aku mau kamu nanti ikut aku. Terus kamu masukin tuh badan si Tika tapi tunggu kode dari aku dulu."
"Gila ya kamu Jo,mau bikin aku mati dua kali. Kamu kan tahu sendiri gimana pinternya bocah yang satu itu kalau urusan sama hantu. Mbah Parno dukun kampung sebelah aja kalah sama Tika."
"Denger dulu. Pokok nya aku yang bakalan bantuin dan sokong kamu dari belakang. Aman deh. Entar kalau ada apa apa aku yang tanggung jawab. Kata nya mau makan bareng cowok cakep."
"Memang bisa?"
"Ya bisa lah Paijo gitu yang atur."
"Yaudah deh Aku nurut aja,pokok nya kalau ada apa apa kamu yang tanggung jawab."
"Sip lah."
"Kalau memang ada apa apa sama diri ini memang sudah nasib. Mungkin juga karena hukun karma juga."
"Emang kamu ngapain sampai berfikir dapat hukum karma segala. Udah kaya ratapan anak tiri aja."
"Dulu itu ya Jo waktu jaman nya aku masih susah,aku itu sampai harus jual miras diem diem di warung aku buat nambah nambah penghasilan."
"Astaga Juminten. Sungguh terlalu dirimu."
"Dan lagi ya pada suatu hari aku tuh ngak sengaja jual miras pada seseorang yang kayak nya lagi depresi gitu Jo."
"Terus?"
"Waktu itu dia dateng sama kekasih nya kayak nya sih. Si cewek kelihatan sedih banget sampe nangis nagis gitu. Kan aku jadi kaaihan. Waktu dia beli minum di warung ku eh...ada satu botol miras yaudah aku kasih aja ke cewek itu. Kan kata Bapak bapak yang suka minum itu miras bisa meringankan segala beban pikiran Jo. Yaudah aku kasih aja siapa tahu emang bener."
Kok kayak nya cerita Juminten ngak asing deh batin Paijo.
"Trus?"
"Apa?"
"Mereka akhir nya nikah gara gara si cewek mabok dan si laki khilaf ha....ha...ha..."
Ting....tiba tiba saja Paijo teringat dengan kisah hidup nya sendiri.
"Dasar setan bangsat. Jadi kamu yang jual miras itu ke istri aku!"
"Hah? Kok jadi istri kamu sih Jo."
"Yang baru saja kamu ceritain dan tertawakan itu ya Aku."
"Serius kamu?"
"Seribu rius. Kamu kan pemilik warung yang di gang jambu itu?"
Betul Jo.Trus gimana?"
"Apa nya yang gimana. Nasi udah jadi bubur ya nikmatin aja. Lagian kalau ngak mabuk waktu itu belum tentu juga aku bisa nikah sama istriku."
"Wuidih mantep Jo."
"Paijo gitu lhoh!"
Dan mereka pun tertawa bersama mengingat cerita masa lalu mereka yang kini terasa konyol jika di ingat ingat lagi.
"Jadi kamu setuju ya Minten sama rencana kita."
"Beres setuju."
"Pokok nya begitu aku kasih aba aba kamu langsung masuk tubuh Tika trus kamu mulai beraksi."
"Beraksi yang gimana Jo maksud kamu?"
"Terserah kamu deh. Mau kamu apain nanti cowok Tika."
"Cium boleh?"
"Boleh."
"Pegang pegang?"
"Boleh."
"Di ajak bobok?"
"Bo...eh jangan dong. Bisa ternoda dong tubuh cucu aku nanti."
"Lah terus ngapain cuma di cium saja,ngak asik nih Paijo."
"Pokok nya ikuti saja instruksi ku. Jangan macem macen kalau tidak ada arahan dari ku."
"Siap deh Jo. Trus kapan rencana nya di laksanakan?"
"Sekarang."
"Hah...beneran sekarang?"
"Iya sekarang. Buruan yuk kita pergi."
"Siap laksanaakan."
Dan mereka berdua pun terbang bersama sama ke tempat tujuan mereka. Mereka pergi ke sebuah tempat yang tak asing lagi bagi Paijo.
Ya mereka berdua pergi ke tempat Bima. Ke kantor Bima tepat nya. Tempat yang saat ini sedang ramai oleh banyak orang karena sedang ada sebuah acara di sana.