
Begitu keluar dari kantor Bima dia ingat sesuatu. Tika ingat kalau yang jadi penyebab semua ini adalah sepasang setan kurang ajar bernama Juminten dan Paijo.
Dengan amarah yang sudah di ubun ubun Tika bergegas pergi ke kontrakan lama nya untuk mencari mereka berdua.
Karena tadi dia keluar terburu buru jadi dia lupa membawa tas dan ponsel nya. Hanya bermodalkan uang lima puluh ribu Tika mulai menaiki angkot yang akan mengantar nya ke tempat yang dia tuju.
Sesampai nya di tempat yang di tuju,Tika langsung berjalan menyusuri gang gang kecil untuk sampai di tempat kontrakan lama nya.
Setelah melewati beberapa gang sampailah Tika di kontrakan lama nya. Langsung saja dia menuju ke arah belakang rumah tersebut yang merupakan sebuah pemakaman umum desa.
Sesampai nya di pemakaman Tika terlihat kesal dengan pemandangan di depan nya.
Bagaimana dia tak kesal. Setelah sampai di sini ternyata Juminten sedang asik beraksi sebagai seorang biduan. Tak nampak batang hidung si Paijo tapi tampak Juminten sedang asik bernyanyi sambil menggoyang kan pantat nya sampai bawah.
Sedang kan di sekeliling nya tampak beberapa hantu pria yang sedang asik berjoget sampai ada yang menyelipkan bunga di dada nya sebagai ganti uang sawer
"Eh kenapa kamu kalau nonton aku suka nya bilang..."
"Bukak sitik joss..." jawab mereka serempak
Mereka terus saja asik berjoget tanpa menyadari kedatangan Tika.
"JUMINTEN...." Tika berteriak kesal
Mendengar nama nya di panggil Juminten menoleh ke arah sumber suara.
"Wah gawat bestie ada yang datang tapi bukan mantan. Menyeramkan tapi bukan setan. Ayo kabur kawan kawan." Secepat kilat para kerumunan hantu itu membubarkan diri tak terkecuali Juminten.
"Jangan lari Juminten,awas kalau sampai tertangkap ya kamu." Dan begitulah akhir nya Tika mengejar Juminten yang terbang naik turun menyusuri dahan dahan pohon untuk menghindari kejaran Tika.
Tika yang tak menyerah pun terus mengejar dengan sekuat tenaga. Sudah seperti orang gila Tika berlari sambil berteriak memanggil nama juminten. Setiap orang yang berpapasan dengan nya menatap aneh ke arah Tika.
Di pikir nya kasian sekali gadis muda ini. Cantik cantik kok gila. Sementara Tika yang tak menghiraukan sekitar nya terus saja berlari sambil berteriak.
"Juminten setan terkutuk berhenti ngak?"
"Ya enggak lah."
"Gila Jum aku udah lelah banget. Awas aja ketangkep. Bakalan aku bakar kaya sate kamu."
"Maka nya berhenti mengejar kalau capek.Tangkep aja kalau bisa wek..." ejek Juminten pada Tika.
Aksi kejar kejaran terus berlanjut hingga setelah beberapa saat akhir nya menyerahlah Tika. Dia sampai terduduk di jalanan sambil ngos ngosan karena sudah tidak sanggup lagi berlari.
Di atur nya nafas nya secara perlahan.
"Hos..hos...Gila si juminten,emang dasar setan ngak ber perikemanusiaan. Dikira gampang apa ngejar setan. Mana haus lagi." Di lihat nya ke adaan di sekitar nya.
"Wah asik tuh ada es cendol,ngadem dulu ah."
Di ambil lah sisa uang yang ada di kantong nya untuk membeli es cendol. Tapi karena semangkuk cendol di rasa kurang akhir nya Tika juga membeli gado gado yang berjualan di samping tukang es cendol.
"Ah...kenyang nya. Pulang dulu deh baru nanti mikir lagi gimana cara nya buat nangkep si Juminten."
Di raba nya kantong baju nya lagi
"Astaga... kok duit nya udah habis aja. Terus gimana nih aku pulang nya. Mana ngak hapal lagi jalanan sini."
Tika sungguh lupa kalau dia hanya membawa sedikit uang itupun sudah terpakai sebagian untuk ongkos naik angkot. Kini dengan terpaksa dia harus berjalan kaki menyusuri jalan karena saat ini dia sudah tidak memiliki sedikit pun uang. Mau meminta bantuan pun percuma karena dia tidak membawa ponsel.
Walau membawa pun juga percuma karena di kota ini dia hanya punya tiga kenalan yaitu Bos Andra,Vivi dan Joko.
Kalau Vivi dan Joko dia punya nomor mereka sedangkan Bos Andra dia tidak punya. Mau meminta bantuan pada Vivi atau pun Joko pun dia masih sungkan karena dia masih anak baru di tempat kerja.
"Kalau Bima pasti dia mau bantu."
Haduh kok jadi keinget Bima sih batin Tika. Dia jadi ingat kalau selama ini dia tidak punya nomor ponsel Bima padahal mereka sudah tinggal serumah cukup lama.
Ngomong ngomong soal Bima Tika jadi sadar tujuan utama nya. Seharus nya dia membeli pil KB dulu sebelum mengejar ngejar si setan terkutuk Juminten. Kok bisa bisa nya dia melupakan hal sepenting itu.
Bukan nya dapat apa yang dia mau sekarang malah dia harus berjalan kaki di tempat yang tak dia ketahui.
Lama sudah Tika berjalan,kaki nya sudah teramat lelah minta di istirahatkan. Dia juga mulai merasa haus kembali tapi sedari tadi Tika masih saja berada di tempat yang tak dia kenali.
Lelah dan haus yang di rasa membuat dia putus asa. Memilih mengistirahatkan tubuh nya sejenak Tika menduduk kan tubuh nya di pinggir jalan karena sekarang dia berada di tempat yang jauh dari pemukiman warga.
Di pandang nya langit yang sudah menguning menandakan hari mulai beranjak petang.
Di ingat nya kembali semua yang terjadi pada diri nya dari tadi pagi.
Awal nya semua berjalan lancar tadi pagi hingga tiba tiba Juminten merasuki tubuh nya. Entah apa alasan nya dan bagai mana dia bisa tahu keberadaan Tika.
Tak cukup sampai di situ kejadian naas kembali terjadi saat Bima merenggut mahkota nya. Kejadian yang tak akan pernah terlupakan oleh Tika karena diam diam dia juga menikmati nya.
Tak sampai di situ kini Tika harus mengalami kesialan lagi karena dia jadi tersesat saat mengejar Juminten.
"Andai saja aku nurut apa kata Bunda ngak nekat pergi ke kota ini sendirian pasti ngak jadi begini kan. Bodoh kamu Tika. Hu...hu...hu..."
Tika terus saja menangis menyesali keputusan nya.
"Tika..."
Tiba tiba saja ada seseorang yang datang memeluk diri nya. Seketika tangis nya berhenti begitu saja.
"Bima!" Tika di buat kaget sekaligus senang karena di temukan oleh Bima.
"Maaf kan aku Tik,maaf."Bima terus saja berucap maaf sambil memeluk Tika dengan erat.
"Kenapa kamu terus saja meminta maaf.Maaf untuk apa?"
Bima melepas pelukan nya berganti dengan menatap wajah Tika dengan lekat
"Aku memang lelaki brengsek yang memanfaatkan mu di saat kamu sedang tidak sadar."
"Kamu tahu?"
"Aku tahu kamu sedang kerasukan saat itu. Tapi maaf aku tidak bisa mengendalikan diriku saat itu. Aku terlalu terbuai dengan kenikmatan saat bibir ini mulai menyentuh bibir ku."
Bima berucap sambil mengelus bibir Tika dengan jari nya secara lembut yang membuat Tika tersipu malu.
"Lalu sekarang kita harus gimana Bim? aku takut. Bagaimana kalau orang tua ku tahu,pasti mereka akan marah dan kecewa."
"Kita akan menikah."
"Hah...maksud nya?"
"Aku yang akan bertanggung jawab dan menjelaskan pada orang tua mu."
"Ta..ta..tapi aku ngak cinta kamu."
"Ya di usahain dong biar cinta. Masak kita udah tinggal serumah cukup lama kamu ngak ada gitu sedikit saja rasa suka sama aku."
"Entah lah aku bingung. Aku ngak tahu ini rasa cinta atau bukan karena aku ngak pernah jatuh cinta."
"Jadi aku yang pertama?" Bima terlihat berbunga mendengar nya
"Pertama apa?"
"Pertama jadi cinta kamu dan pertama yang memiliki tubuh mu."
"Kan aku ngak cinta sama kamu."
"Belum,kamu belum jatuh cinta sama aku. Pokok nya mulai sekarang kamu harus belajar mencintai aku."
"Kok maksa sih."
"Yaiyalah karena kita harus segera menikah siapa tahu sekarang kamu sedang mengandung benih ku jadi sebelum menikah kamu harus sudah jatuh cinta padaku."
Dan begitulah akhir nya Tika mengahkiri aksi kejar kejaran dengan Juminten. Berakhir dengan tersesat dan janji akan menikah dengan Bima. Setelah itu mereka kembali ke rumah.
Sesampai nya di rumah mereka langsung menuju kamar masing masing. Di depan pintu kamar Bima menahan Tika yang hendak maauk kamar.
"Maafkan aku ya Tik. Tadi aku takut banget waktu kembali ke ruangan ku tapi tidak menemukan kamu di sana. Aku seperti orang gila yang kebingungan mencari kamu kesana kemari.
Jika nanti nanti ada masalah lagi tolong kamu ngomong langsung aja ke aku. Please jangan buat aku ke takutan lagi seperti tadi."
"Maaf jika membuat kamu cemas. Aku ngak ada niat buat kabur kok. Aku cuma kepikiran gimana kalau nanti aku hamil jadi aku putuskan untuk membeli pil KB dulu. Tapi di tengah jalan aku teringat Juminten jadi aku pergi mencari nya."
"Juminten?"
"Hantu yang merasuki ku." Bima jadi inget adinda nya.
"Kamu takut hamil?"
Tika mengaggukan kepala sebagai jawaban. Ada sedikit rasa kecewa di hati Bima. Pasal nya dia tadi sudah mulai menghayal kan menikah dan punya anak dengan Tika.
"Yaudah kamu mandi dulu sana,setelah ini kita keluar buat beli makan malam dan membeli pil KB nya."
Setelah itu mereka mulai masuk kamar masing masing. Setelah mandi dan merasa segar mereka pergi keluar untuk makan malam. Sebuah warung tenda yang menyediakan pecel lele di pilih oleh Tika.
"Beneran mau makan di sini?"
"Bener. Enak kok murah dan bersih. Pasti kamu bakalan suka."
Akhir nya Bima pun menurut dengan pilihan Tika. Jika dia bilang mau makan di sini maka Bima akan menurut saja. Yang penting kekasih nya senang. Jangan kan di ajak makan di pinggir jalan,mendaki gunung pun akan aku lakukan.
Setelah selesai makan mereka berdua melanjut nya dengan pergi mencari apotik untuk membeli pil KB. Setelah menemukan apotik mereka langsung berhenti di apotik tersebut. Tapi masalah tak berhenti di sampai di situ saja. Kini mereka sedang berdebat untuk menentukan siapa yang akan turun untuk membeli pil KB.