
Setelah malam yang menghebohkan kemarin,pagi nya Tika mencoba untuk bersikap biasa biasa saja. Dia akan mencoba menganggap tidak terjadi apa apa tadi malam. Karena dia bangun lebih dulu jadi dia mencoba pergi ke dapur untuk membuat sarapan karena perjanjian awal mereka Tika lah yang harus membuat sarapan di rumah ini lagi pula tangan nya sudah baik baik saja.
Tapi saat berada di dapur Tika bingung harus memasak apa karena sejujur nya dia hanya bisa membuat kue dan mie instan saja,masak iya harus sarapan pakai kue.
Tapi bukan Tika nama nya kalau menyerah begitu saja.
"Ngak papa ngak bisa masak nasi dan lauk pauk nya kita pakai cara bule sarapan saja. Yang penting kan judul nya SARAPAN."
Tika pun mulai mengambil roti tawar dan mengisi nya dengan selai selain itu dia juga menggoreng telur sebagai pendamping. Tak lupa segelas jus jeruk kemasan dia siapkan. Tanpa Tika sadari sedari tadi sepasang mata sedang mengawasi semua gerak gerik nya. Seulas senyum tipis tercipta di bibir Bima,orang yang sedari tadi mengawasi semua gerak gerik Tika.
"Masak apa kamu?"
"Oh udah bangun? karena masih pagi dan ngak baik sarapan yang berat berat maka dari itu aku putuskan hari ini kita sarapan roti aja dan segelas jus jeruk yang mengandung banyak vitamin c yang baik buat daya tahan tubuh."
"Tangan kamu udah baikan?"
"Iya udah ngak papa."
Bima pun duduk dan mulai mengambil sarapan nya yang sudah di siapkan Tika.
"Hari ini mulai kerja lagi?"
"Iya,ngak enak soal nya kalau kelamaan bolos."
"Yaudah aku anter ya,sekalian aku mau ngomong sama kak Andra."
Memang awal nya tujuan Bima mengantar Tika ke tempat kerja nya karena sekalian ingin berbicara dengan kakak nya Andra. Tapi semua itu akhir nya dia urungkan karena satu hal. Dia tak ingin kebersamaan nya dengan Tika segera berakhir. Dari cerita yang dia dengar,seperti nya awal pertemuan nya dengan Tika karena campur tangan kakek nya. Jadi jika dia segera menyelesaikan masalah ini takut nya kebersamaan nya akan berakhir juga.
Jadilah dia pulang lagi setelah mengantar Tika,dia beralasan sedang buru buru karena ada urusan di kantor. Dan juga saat dia menjemput Tika pulang pun dia masih mengatakan besok saja dengan alasan sibuk.
"Mau ngak nonton dulu,atau kamu mau langsung pulang aja." Saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Pulang aja deh." Begitu mendengar kata Nonton Tika jadi teringat kejadian kemarin. Sebaik nya dia menghindar saja untuk sementara waktu dari yang nama nya Nonton.
Tanpa bertanya lagi Bima langsung melajukan mobil nya ke rumah. Sesampai nya di rumah mereka langsung masuk ke kamar masing masing.
Sesampai nya di dalam kamar nya Bima mengamati sebentar keadaan kamar nya. Bukan rasa takut lagi yang di rasakan Bima saat ini,hanya perasaan tak nyaman karena dia di ganggu mahkluk yang tak jelas di kamar nya sendiri.
"Udah hilang belum ya hantu nya?please ya kek ngak usah muncul lagi. Udah capek Bima kemarin di banting ama cewek gila macam Sasa. Nikah aja belum masak iya badan udah remuk duluan,ngak bisa bikin anak dong Bima nanti." Ucap Bima pada kamar yang kosong.
Baru saja menduduk kan tubuh nya di ranjang tiba tiba saja Bima terpikirkan sesuatu.
"Tik...buka dong Tik. Permisi...Tika nya ada?" Sekali lagi Bima mengetuk kamar Tika.
"Eh ngapain lagi kamu disini." Tika di kagetkan dengan kedatangan Bima di kamar nya.
"Aku numpang lagi ya di sini,masih takut aku. Boleh ya Tik,please...." Bima memohon dengan wajah nya yang memelas.
"Enggak,kemarin kata nya cuma sekali. Ngapain kesini lagi. Pergi sana ke kamar kamu sendiri." Usir Tika pada Bima
"Aku masih takut Tik. Masak iya kamu tega ngebiarin aku ketakutan."
Dan sekali lagi karena iba Tika membiarkan Bima tidur di kamar nya. Dan sekali lagi tika mengenggam tangan Bima dan membacakan mantra yang sama.
"PUH JOPAH JABUH TURUO AWAKMU SENG AYEM TENTREM NGANTI ISUK."
Di lepaskan nya genggaman tangan Tika dari tangan nya agar bisa dia pindahkan ke bawah leher Tika sebagai ganti bantal dan di bawalah tubuh Tika ke arah dekapan nya.
Manis nya kalau lagi tidur gini. Tidak tahan hanya dengan memeluk nya,Bima mulai berani mengcup pelan pipi nya. Dari pipi berlanjut ke bibir nya. Tak lupa leher nya yang terlihat menggoda. Di ciumi nya leher Tika dengan hati hati agar tak menimbulkan bekas sampai sesuatu yang di bawah sana terbangun.
Euhhh...hingga terdengar lah suara laknat yang membuat nafsu Bima semakin meningkat.
Takut diri nya bisa ke bablasan,Bima menghentikan semua aksi gila nya pada seseorang yang tengah tertidur pulas. Kali ini dia hanya memeluk nya. Benar benar hanya memeluk nya sambil menahan sesuatu yang sangat bergejolak di bawah sana.
Dan hanya itulah yang di lakukan Bima selama seminggu ini. Berusaha menghindar dari kakak nya dan tetap berpura pura ketakutan agar bisa tidur di kamar Tika. Hingga tak terasa seminggu telah berlalu.
Seperti kata Bima sebelum nya yang meminta kakak nya untuk mengurus acara syukuran di kantor nya. Dan di sinilah mereka berada sekarang. Bos Andra mengerahkan seluruh staf terbaik nya untuk menyukseskan kegiatan di kantor Bima dan Tika termasuk salah satu nya.
Sebuah tempat di kantor Bima di sulap menjadi tempat syukuran. Terdapat beberapa meja tempat makanan di sajikan dan beberapa kursi, tak lupa beberapa hiasan dan bunga yang di tata sedemikian rupa untuk menambah keindahan ruangan tersebut. Setelah beberapa kata Bima sampaikan acara utama yaitu makan bersamapun di mulai.
Sebagai salah satu staf yang berugas dalam acara tersebut Tika hanya bisa mondar mandir untuk memastikan persediaan makanaan dan minuman cukup untuk semua orang dan juga jangan lupakan mengambil pring piring kotor.
Tiga jam sudah acara berlangsung,acara kini sudah usai menyisakan bekas bekas makan yang harus di bersihkan oleh semua tim dari Bos Andra.
"Sebelum kita bereskan semua nya sebaik kita istirahat dulu sejenak." Bos Andra memberi perintah
"Yah makan sisaan orang lagi." Joko duduk di sebelah Vivi dan Tika sambil membawa sepring nasi lengkap dengan laup pauk nya dan sepiring lagi yang berisi aneka kue dan makanan kecil lain nya dan segelas es campur.
"Busyet itu lapar atau maruk,bilang nya makan sisaan orang tapi ngambil banyak." Protes Vivi melihat makanan yang di bawa Joko.
"Emang dua piring nasi di tangan kamu itu dikit Vi?"
"Wah samaan dong kita." Vivi jadi cengegesan sendiri melihat piring nya sendiri yang ternyata sama banyak nya dengan milik Joko.
"Udah ngak usah ribut,ini rejeki nama nya. Udah trima aja mubazir di tolak." Tak jauh beda dengan kedua teman nya Tika tak menyia nyiakan kesempatan ini. Bagi nya cukup segelas jus jeruk dan dua piring aneka kue dan cemilan yang manis manis saja.
"Kayak nya lagi seru nih,eh Tik gimana tanggan nya. Udah ngak papa buat kerja?"
"Iya udah baik baik aja kok."
Tika pun menjadi malu malu kucing tiba tiba Bima datang dan menanyakan keadaan nya. Tak dapat di sangkal jika kedekatan mereka selama seminggu ini membuat Tika punya perasaan yang lebih ke Bima.
Setiap pagi Tika selalu terbangun dalam keadaan memeluk Bima dan juga semua perhatian kecil Bima seperti mengantar jemput Tika membuat sebuah perasaan istimewa di hati Tika.
Mereka pun mengobrol berdua dengan asyik nya. Tak di hiraukan nya keadaan sekitar termasuk keberadaan Vivi dan Joko yang sudah seperti mahkluk tak kasat mata saja.
Terus saja mereka tak menghiraukan keadaan sekitar hingga Tika tak menyadari sekelebat banyangan dengan cepat menuju ke arah nya.
Wush....secepat kilat bayangan itu datang dan seketika masuk ke tubuh Tika hingga membuat tubuh nya seketika terdiam di tengah gelak tawa nya.
"Tik kamu kenapa?" Bima tetlihat cemas dengan keadaa Tika yang tiba tiba terdiam dan menunduk kan kepala.
"Eh kenapa dengan Tika? Kesambet tuh bocah?" Joko yang melihat ikut merasa khawatir.
"Kakanda...sampean kok guanteng to. Adinda rasa nya tak kuasa menolak pesona dari Kakanda yang begitu mempesona. Jikalaupun saat ini Kakanda meminta kesucian Adinda,saat ini juga Adinda rela."
Tiba tiba saja Tika berubah menjadi lemah gemulai dan kalem. Tutur kata nya yang sudah sangat mirip bak bintang drama jaman kerajaan membuat semua orang diam membisu.