
"Kau tak mau mencobanya?"
"Entahlah, jika kau bilang enak aku akan mencobanya di lain waktu." Mungkin aku akan membuatnya kembali kesini. Aku akan mengingat restoran ini sebagai tempat pertama kami bertemu.
"Kau membosankan." Dia menyindirku.
"Mungkin, tapi sekarang aku lapar dan sudah membayangkan menu pilihanku. Sedang tidak ingin mencoba hal baru apapun."
"Hmm kupikir orang sepertimu selalu senang hal baru lain dari yang lain." Dia berkomentar mengenai pilihan gayaku. Setidaknya sekarang dia tidak mencoba mengusirku. Kemajuan. Tiba-tiba ketika aku hanya bersikap sebagai teman dan tidak mencoba mendebat apapun tentang sikapnya, ternyata dia sikapnya tak terlalu ketus dan dia lebih bisa terbuka. Mungkin aku tahu cara mendekatinya tanpa membuatnya terganggu. Bicara soal hal yang menarik perhatiannya.
"Banyak yang mengatakan itu bukan hanya kau sebenarnya. Aku memang anak alam sebenarnya, masuk ke keuangan karena otakku memang berbakat di bidang ini. Tapi kebanyakan aku menghabiskan waktu senggangku di luar bertualang."
"Ohhh begitukah,..."
"Hobby utamaku sekarang offroader. Jika liburan kau bisa menemukan kami berkeliling ke daerah, menjelajah ke pedalaman. Kadang tersesat di jalan buntu tengah hutan. Melintasi sungai dan jalanan terjal bersama dengan teman yang lain. Itu menyenangkan.
"Wow..." Sekarang matanya berbinar seperti menemukan hal baru.
"Mungkin bukan pilihan wanita sepertimu..."
"Kelihatannya menarik tersesat di tengah hutan." Aku tertawa ketika dia menganggap tersesat di tengah hutan menarik.
"Aku boleh ikut jika kalian tour lagi?" Aku ingin tertawa mendengar pertanyaannya. Disana tidak ada hotel, bahkan kadang kami harus tidur di mobil ketika medan tidak memungkinkan kami membangun tenda.
"Kau mau ikut? Tidak ada hotel disana, kita mungkin bisa tidur di sleping bag ditengah hutan." Dia tersenyum dan mengambil handphonenya dan menunjukkan sesuatu padaku.
"Ini fotoku waktu mendaki Adirondack, kau bisa liat, ini waktu aku mendaki the Blue Ridge, dan ini the White Mountains. See..." Aku tak percaya siapa yang ada didepanku ini sekarang, tampilan dan kenyataan tentang wanita ini sangat bertolak belakang. "Well, iya aku sekarang sudah bertahun-tahun tak mendaki lagi, sudah lama sekali meninggalkan dunia itu. Saat aku kuliah sampai master di Brown alam liar adalah temanku..." Ohh dia pendaki saat di university, tak pernah kusangka dia adalah seorang gadis alam. Malah mungkin dibilang medan yang dia hadapi lebih berat karena salah satu fotonya dia mendaki pada musim dingin.
"Kau pendaki?! kau tak punya potongan pendaki." Dia tertawa lepas sekarang.
"Sudah lama sekali, aku melupakan masa-masa itu. Kalau dipikir-pikir aku benar-benar merindukannya lagi. Saat tanggung jawab belum menggunung seperti sekarang." Dia tersenyum kecil dan membuatku semangkin terpaku padanya.
"Baiklah kau boleh ikut, kupikir kau semacam barbie yang takut kulitmu disakiti nyamuk, kau boleh ikut tentu saja..., mungkin pas libur panjang akhir tahun pasti ada acara. Aku akan memberitahumu." Aku mengiyakan akhirnya diiringi dengan anggukan senang darinya.
"Aku bukan barbie, aku bisa pastikan itu." Sebuah binar kesenangan terlihat di matanya.
"Kau menarik..." Sekarang dia tertawa saat aku menatapnya dengan penasaran.
Kejutan, aku tak menyangka pembicaraan ini berhasil, dia bahkan mengiyakan ajakan tour offroad. Ini kejutan yang menyenangkan. Dan dari sikapnya yang selalu menolakku bahkan untuk bicara sekalipun tiba-tiba diakhir malam itu tiba-tiba saja kami bisa berteman karena punya hobby yang sama.
Aku punya keyakinan entah bagaimana kami akan cocok. Aku hanya perlu bersabar hingga dia membuka hatinya, mungkin bukan proses yang mudah. Tapi jika tak ada tantangannya ini akan membosankan.