
POV Ethan
Dia cantik satu hal yang pasti, sosoknya sempurna didepanku. Dengan gaun hitamnya dia bagai dewi, katakan aku memang terpesona dengan fisiknya. Tapi pria manapun pasti akan mengatakan sosoknya sempurna.
Dan pertemuan kami sebelumnya membuat secara tak sadar aku melihatnya secara berbeda. Aku menginginkannya berada dipelukanku lagi, tapi kali ini aku menuntut penyerahan total. Aku mau dia dan hatinya. Aku mau ciumannya dan semua perhatiannya untukku. Dan mendengarnya menyebutkan nama orang lain tidak akan bisa diterima lagi. Aku tak mau digunakan sebagai alat. Aku mau dia melihatku dan menginginkanku seluruhnya. Dan untuk itu aku bersedia menunggu dan bersabar.
Tadi aku sadar dia akan lebih memilih menghindariku sejak awal, jadi kuputuskan untuk mengikuti sebentar kemana dia pergi tadi, baru kembali ke ruang pesta bertemu Oscar.
Dan malam ini saat aku melihatnya duduk sendiri dan tenggelam di pikirannya sendiri aku tak bisa menahan diriku untuk menghampirinya. Aku membawa diriku untuk duduk didepannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Belakangan aku menyadari aku bukan teman yang tepat untuk bicara. Aku bukan orang yang ramah, aku ramah hanya jika aku memerlukanmu." Dia mengambil sikap ketusnya, bertahan dengan kekeras kepalaannya dan menolak setiap pendekatan yang kulakukan.
Tangannya memainkan gelas coktail didepannya dan mengangkat alisnya untuk melihat reaksiku atas jawaban sarkas dan ketusnya.
"Aku rasa aku juga tak memerlukan orang yang ramah, yang jujur cukup. Karena hidup sudah cukup pelik untuk punya drama tambahan." Dia memandang lurus padaku untuk jawaban lugasku.
Aku memang lelah pada wanita yang punya banyak drama di sikapnya. Seakan dia punya kepintaran lebih soal itu padahal itu hanya membuat situasi mankin rumit.
"Aku setuju soal itu... Tapi kenyataan tidak sesederhana itu." Mungkin dia bicara tentang pengalamannya dengan orang lain. Aku mendengar ceritanya dari Oscar sebelumnya. Suaminya ternyata sudah punya anak sebelumnya, padahal mereka dikenalkan oleh orang tua mereka. Dan sekilas dia pernah menyebutkannya di pertemuan pertama kami.
"Kau menyamakan semua orang sekarang. Atau kau bersikap tidak adil melemparkan amarah orang lain padaku..."
"Manusia semuanya sama, kita terbiasa bersikap deceptive. Bahkan anak umur tiga tahun sudah bisa berbohong. Dan bahkan itu tanda kecerdasan emosionalnya di masa depan. Bohong itu sifat manusia... aku lelah menghadapi kebohongan..." Tiba-tiba dia berani bicara yang sebenarnya. Itu amarah yang dia lampiaskan padaku.
"Itu tak ada hubungannya dengan mencoba mempercayai seseorang." Dia diam sebentar mendengar perkataanku.
"Kalau begitu anggap saja aku tak ada, sederhana, jangan memusingkanku. Aku tak akan melanggar garis privasimu. Bagaimana kalau kutraktir saja, kau berniat kembali ke dalam, kau sudah makan?"
"Sedikit, aku harus kembali ke ruangan pesta. Tapi pemandangan disini menyenangkan..." Dia bersandar ke kursinya bersikap tak perduli dan memainkan gelas coktailnya.
"Diatas gedung ini ada rooftop restaurant dengan pemandangan menakjubkan jika kau belum tahu." Aku memberinya alternative.
"Oh benarkah..."
"Belum cukup untuk mengantikan pemandangan diatas ketinggian gunung, tapi pemandangan dari atas selalu nampak menakjubkan."
"Hei, kau pendaki gunung?"
"Dulu saat kuliah." Tiba-tiba dia tertarik pada pembicaraan soal pendakian. “ Sekarang mungkin tidak.”
Bertepatan dengan pelayan datang dengan buku menu meminta buku menu dan meminta saran untuk menu pilihan mereka.
"Kau mau mencobanya, mereka menyarankan menu pilihan mereka..."
"Hmm...oke. Aku mau pasta saja. Apa yang kalian sarankan." Akhirnya dia memesan Pappardelle con Conigilo, pasta pipih seperti mie lebar dengan daging kelinci dan italian white sauce. Sementara aku memesan Risotto Gamberri yang berarti nasi yang dimasak dengan kaldu plus keju creamy ditambahkan dengan udang dan asparagus didalamnya.
"Daging kelinci, aku belum pernah menemukan ini,..." Dia berkomentar dan tertawa kecil tentang pilihan menunya sendiri. Playful, dia selalu berani mencoba hal-hal baru. Dan tawa kecilnya tiba-tiba membuatku lebih lega.
Menyenangkan melihatnya bisa tertawa tanpa beban.