One Night Stand With Playboy

One Night Stand With Playboy
Part 14. God, I'M Done



"Kita makan di luar ..." Kami selesai menaruh kado di mobilnya.


"Dimana..."


"Ancol. Ikut mobilku saja. Nanti aku antar kau kembali ke sini." Aku ragu, tapi mungkin ini ide yang bagus. Ini hanya makan siang. Daripada aku duduk sendiri dirumah. Setidaknya aku bisa melihat laut.


"Oke." Aku memutuskan akhirnya.


"Ayo..."


Kami naik ke mobil. Sudah lama aku tak pernah semobil dengan seseorang seperti ini. Ini kemudian terasa canggung.


"Kita akan naik mobil apa off-roader nanti. Bukan ini kan..." Ini SUV untuk kota, tapi tak punya torsi 4x4. Pasti bukan ini.


"Tentu saja bukan, Land Cruiser modifikasi khusus."


"Ohh Thanks God."


"Kenapa..."


"Ohh aku bersyukur bukan Jeep setidaknya. Masih punya space lega." Dia tertawa.


"Kau yakin ingin ikut. Ini mungkin akan menyebabkan kau berteriak dan perutmu mual sepanjang perjalanan."


"Yakin! Aku yakin... Aku tak akan mual, aku bisa menjamin." Dia cuma tersenyum mendengar tekadku.


"Ini akan perjalanan melelahkan alih-alih menyenangkan jika kau tak bisa menikmatinya. Aku kasihan kau menghabiskan liburanmu ke hal yang tak bisa kau nikmati. Kau bisa liburan kemanapun kau mau, daripada terdampar di tengah hutan bersamaku."


"Sudah kubilang aku anak gunung, aku tak akan menyusahkanmu..." Dia melihatku dengan sangsi.


"Baiklah. Terserah padamu. Asal kau tak menyesal. Hanya ada satu wanita atau dua biasanya. Tapi ada 10 kendaraan. 10 pengemudi, 2 mekanik, 1 guide, 3 penumpang wanita jika kau ikut ... beberapa supir penganti."


"Aku bisa jadi sopir dijalanan lurus mengikuti konvoi. Aku bisa membantu! Aku tak akan manja padamu!" Dia jadi tertawa mendengar tekadku.


"Fine. Aku hanya memperingatkanmu tentang medan beratnya. Dan tanggalnya kau harus pastikan kau tidak dalam ...periodemu... Sorry..."


"Aku tahu. Aku tahu..."


"Semangat sekali..." Dia tertawa sekarang.


"Aku memang selalu bersemangat..."


"Baiklah. Kau tanggung keputusanmu sendiri, jika kau tak betah dan merajuk minta pulang aku akan meninggalkanku di tengah hutan, atau menghanyutkanmu dengan rakit bambu untuk pulang. Aku serius soal itu..."


"Kenapa kau sangat kejam heh! Walau kau meninggalkan aku tengah hutan aku jamin aku tahu arah pulang." Aku memukulnya karena gemas.


"Di perkumpulan kami punya kode etik untuk tidak membawa wanita barbie ke tengah hutan. Aku mengancammu agar aku tak mendapatkan masalah. Dan tidak membuat dirimu sendiri dalam masalah. Karena kalau kita sudah ditengah kita harus dalam konvoi aku tak mungkin kembali sendiri karena tak ada dukungan tim untuk melewati medannya. Kadang kami harus menggunakan dua mobil penarik untuk melewati jalur berat. Dan jika begitu para wanita yang ikut biasanya berjalan kaki ke area aman sementara para pria bekerja membuat semua mobil bisa melewati jalurnya..." Dia bicara panjang lebar, dan aku sudah tak sabar menunggu petualangan semacam itu.


"Akan seru..."


"Aku tahu..." Dia diam mendengar jawaban singkatku.


"Fine."


"Fine." Aku menjawabnya balik.


"Aku belum pernah membawa wanita. Pernah satu anggota tim membawa wanita manja, perjalanan jadi terganggu...Sejak itu kami menetapkan tidak boleh ada barbie ikut..." Dia masih berupaya membatalkan keinginanku.


"Aku tak akan menyusahkanmu." Aku harus meyakinkannya atau aku akan ditendang dari peserta.


"Kau keras kepala." Dia menghela napas panjang,  rupanya dia berusaha membatalkan keinginanku bergabung ke tim dari dari kemarin. Aku sebenarnya sedikit heran kenapa dia hanya menceritakan bagian sulitnya belakangan. Ternyata dia takut aku ikut sebenarnya.


"Oh, tentu saja aku keras kepala."


"Jika kau pegang kemudi. Kau harus mengikuti pimpinan konvoi. Tak boleh mengemudi sendiri. Menetapkan kecepatan sendiri atau keluar dari arahnya. Dan itu termasuk kau harus menuruti perintah driver utama."


"Jelas Pak!" Dia melirikku dan aku memberikan senyum paling manis padanya. "Please ijinkan aku untuk ikut. Daftarkan aku, pleaseeeee...."  Aku memelas dengan sepenuh hati dan memasang puppy eyes sekarang.


"Aku akan menyesali ini, ..." Dia menghela napas dengan tidak rela.


"Pak Nicholas, jika sampai hari H aku tidak bisa ikut, aku akan membuat perhitungan dengan menyusahkanmu di tempat lain."


"Diktator culas." dia menarik separuh bibirnya.


"Terima kasih..."


"Itu bukan pujian."


"Bagiku itu pujian."


"Kau akan menyesal mencoba ini."


"Terima kasih untuk peringatanmu."


"God, I'm done."  Habislah aku, aku tertawa melihat Nicholas mengeluh seakan aku menyebabkan kesulitan besar padanya. Aku suka menjadi pembawa kesulitan.


"This is not the end of the world, you dumb."


**Ini bukan akhir dunia, bodoh


"Ohh that's called negotiation for you. Call me dumb?" Aku tersenyum lebar.


**Ohh ini yang disebut negosiasi bagimu, dengan menyebutku bodoh?


"No, that's what I call get the work done." Dia menarik napas frustasi dan bagiku rasanya memuaskan membuatnya menyerah. "Kau suka atau tidak aku tetap ikut oke dude, be prepare...." Suara tawaku karena dia tak bisa bicara lagi memastikan aku tak bisa dibantah lagi kemudian


**Tidak ini yang kusebut menyelesaikan pekerjaan