One Night Stand With Playboy

One Night Stand With Playboy
Part 11. We Can be Friend 2



“Tentu saja. Tapi kau nanti harus memberitahuku apa yang harus kubawa. Jika aku melupakan sesuatu...”


“Masih sebulan lebih lagi, masih banyak waktu bersiap, kau pasti sudah tahu kira-kira apa yang dibutuhkan. Tapi aku akan mengingatkan beberapa  hal nanti.”


Kami memesan makan siang kemudian. Terlibat pembicaraan ringan soal makanan dan pekerjaan yang kami lalui hari ini.



“Ethan...Hai sayang...Kejutan.” Seorang wanita cantik berambut coklat sebahu memanggilnya sayang dan menyentuh bahunya dengan akrab. Aku mengamati Ethan tersenyum kecil.


“Alia... Hai, sudah lama gak ketemu. Kebetulan sekali...Lagi di Jakarta?”


“Iya, lagi bawa anak-anak liburan kesini, mumpung mereka lagi free sekolah.” Dia beralih padaku. “Hallo, aku  Alia, kamu pacarnya Ethan ya, aku temen lama Ethan. Maaf Ethan kuganggu dikit.” Dia mengulurkan tangan sambil tersenyum dan bersalaman berbasa-basi denganku.


“Ohh bukan aku cuma temennya. Ganggu aja, gak ada yang larang...” Aku tersenyum kembali padanya. Hmm temen deket. Aku langsung membayangkan definisi teman yang kukenal.  Well, sekali lagi  itu urusannya tak ada hubungannya denganku. Urusannya!


“Ya udah, aku harus ketempat lain,nanti kalau ada waktu senggang kita ngobrol okay,...”


“Sure, telepon aja. Nomorku masih yang lama.” Benar-benar teman lama nampaknya. Sampai menyebutkan nomorku masih yang lama. Mataku mengikuti kepergian wanita cantik itu. Aku bertahan untuk membuat  diriku tidak berkomentar, jika tidak dia akan menyangka aku peduli dengan urusan pribadinya.


“Seorang Ibu,...” Baiklah aku tak bisa bertahan untuk tak bisa tak berkomentar. Bodoh


“Iya...” Dia hanya menjawab pendek pertanyaanku. Sambil melihat ponselnya yang bergetar oleh tanda notifikasi.


“Teman lama...” Dia hanya memberiku afirmasi tanpa menjelaskan apapun, tapi menatapku sekarang karena mungkin menyadari aku penasaran pada hubungan pribadinya. Aku harus menganti subjek pembicaraan sekarang. Tapi otakku harus berpikir keras mencari apa yang ingin kukatakan.


“Restoran ini enak, kapan-kapan kita kesini lagi.” Seulas senyum kecil tertangkap olehku. Dia menyadari aku mengganti pembicaraan, dia terlalu pandai membaca orang lain. Sekarang aku merasa seperti sebuah buku yang terbuka didepannya.


“Tanyalah apa yang ingin kau ketahui...Aku akan menjawabnya.” Dia mengalihkan kembali pembicaraan ke jalur semula dan mementahkan pengalihanku. Aku melihatnya menatap lurus padaku.


“Tidak ada...” Aku berkelit. Apa wanita itu ‘temannya’ yang lain? Tidak, aku sendiri memasang pagarku. Aku juga tak punya hak melangkah lebih jauh. Term teman ini memang aneh aku bermain-main sendiri dengan ini dan mungkin nanti akan menyesalinya.


“Benarkah?” Dia masih mengulum senyumnya, membuatku ingin mengetuk kepalanya dengan sendok  makan.


”Benar...” Dia diam mendengar jawaban cepatku yang juga diiringi aku membuang pandanganku menjauh darinya.


Sejak bercerai seperti ada sesuatu yang menghilang pada diriku. Kepercayaanku pada diriku sendiri untuk menentang dunia. Aku merasa punya sebuah cacat dengan statusku, seakan itu merupakan penghalang untuk bersikap jujur pada orang-orang disekelilingku. Aku yang sekarang punya banyak batasan, karena statusku, karena posisiku, karena perasaanku sendiri.


“Baiklah, terserah padamu.” Tapi dia juga tidak memaksa. Kenapa aku merasa dia sabar sekali sekarang.


“Kau kenal Daniel Wijaya, dia mengundang untuk baby shower  hari Minggu. Kau ikut.” Dia mengalihkan pembicaraan sendiri akhirnya.


“Iya, aku  kenal, dia rekanan, dia mengundangku juga....” Tiba-tiba dia mengingatkan acara Daniel, istrinya hamil 7 bulan.