
POV Amanda
‘Mau makan siang, aku ada di PI?’
Sebuah pesan di WA muncul dan membuatku mengalihkan perhatian ku ke ponsel. Dari Ethan, sejak obrolan di pernikahan Oscar yang tidak bisa kuhindari itu, dan kejutan karena kami punya hobby yang kurang lebih sama, aku perlahan bisa menerima tawaran term ‘teman’ yang ditawarkannya dengan tidak menyebut lagi pertemuan kami dimasa lalu atau .
Teman. Karena aku tak akan mentolelir apapun yang mengarah ke romansa sekarang. Jika dia menunjukkan tanda dia tidak bisa menerima ketentuanku aku akan serta merta mejauhinya. Langsung tanpa ditawar. Tapi sekarang nampaknya dia setuju dengan term teman itu. Dan tidak mencoba mendekatiku dan menawarkan dirinya, dia hanya berusaha komunikatif dan membuatku merasa nyaman terlibat pembicaraan lebih panjang dengannya. Hanya seperti itu, ...
Plus tidak berusaha melalukan komunikasi intens, tidak meneleponku atau mengirim pesan setiap hari. Dia hanya melakukannya sesekali dan tidak mengganggu, aku merasa dia menjawab semua pertanyaan dan obrolanku dengan jujur. Mungkin karena aku mengatakan padanya aku bosan dengan semua tipu daya dan upaya manipulative. Aku hanya ingin seseorang teman yang tidak berusaha menipuku apapun tampilannya.
‘Oke, see you there.’ Dan aku kemudian dengan cepat setuju kami bertemu untuk makan siang.
Dia berada di sebuah restaurant menu Indonesia di area mall itu. Dia melambai padaku, sosoknya lekat pada pikiranku. Baju kemeja rapi, karena tampilannya yang tidak biasa dia terlihat mencolok disana beberapa gadis terlihat terpana begitu saja melihatnya tak bisa menahan diri untuk tak menatapnya dengan pandangan penasaran, seperti aku yang gila pada tampilan tak biasanya.
“Aku ingin bertanya, jika kau duduk sendiri. Apa sering ada seseorang datang begitu saja dan duduk didepanmu.” Sesuatu selalu bermain dipikiranku saat aku melihatnya, kurasa bukan aku saja tapi semua gadis. Sosoknya yang menarik, tampilannya yang unik membuat dia mudah menarik perhatian siapapun.
“Oh come on, just tell me...” Aku masih mengejarnya.
“Hmm... baiklah itu bukan tak pernah terjadi.” Dia tertawa kecil. Seperti aku yang terlalu berani malam itu. Kenapa aku merasa sedikit malu sekarang. Apa sebenarnya yang kupikirkan saat itu. Aku jadi tak mengatakan apapun lagi kemudian. Pertanyaan itu sekaligus membuka diriku bahwa entah bagaimana aku menggangapnya menarik. Tapi aku senang dia kemudian tak memanfaatkan itu untuk membuat pembicaraan lebih lanjut.
“Jadi kau termasuk mudah mendapatkan kencan?”
“Jika aku mau ya. Tapi aku bukan orang yang suka membuat perkenalan tak perlu , dan memusingkan diriku sendiri. Kau pikir perkenalan itu gampang. Masih banyak urusan daripada pacaran. ” Dia membela dirinya dari pikiran burukku. Posisinya sebagai Direktur Keuangan dan tangan kanan group Chandrawan pasti menyita waktunya. Aku lihat dia juga orang yang irit bicara sebenarnya. Orang seperti dia akan maju, hanya jika dia benar-benar tertarik padamu. Dia tertarik padaku nampaknya, sebagian besar mungkin karena pertemuan kami yang mengesankan itu.
“Aku tak mengatakan kau playboy. Aku hanya bertanya.” Aku tersenyum padanya sekarang.
“Ohh ya akhir tahun kita akan ke pedalaman Sumatra, mereka sudah menentukan tujuannya, kau jadi ikut?” Dia tidak melanjutkan bahasan tadi. Terakhir beberapa minggu lalu, aku bilang aku mau ikut offroad drive journeynya.