
Aku, Amanda harlan, 33 tahun, terdampar di sebuah meja bar sendiri, aku sering ke bar ini belakangan. Kadang hanya bicara dengan bartendernya. Hari ini adalah anniversary pernikahanku yang pertama seharusnya. Tak disangka hanya dalam sembilan bulan aku akan bercerai. Aku Amanda Harlan, putri tunggal Harlan Group bercerai hanya dalam sembilan bulan. Pastinya aku jadi bahan tertawaan sekarang, tak diragukan.
Dan akibatnya, aku jarang pergi ke acara sosoalisasi dimanapun sekarang. Kepercayaan diriku turun sampai ke dasar, aku merasa membuang banyak hal dari hidupku, merasa gagal, merasa salah memilih.
"Hmm... tampaknya ada seseorang yang sedang bersedih disini." Aku menoleh. Seseorang yang kukenal harusnya. Aku ingat dia Ethan Chandrawan. Aku bertemu dengannya di pesta perusahaan rekanan bulan lalu, dimana aku merasa harus menyeret diriku dan terlihat tetap baik-baik saja tanpa masalah apapun. "Kau Amanda ... Hallo, gak sangka kita bertemu lagi." Aku memandang padanya sambil tersenyum masam dan bertopang dagu.
"Hai Ethan,... kenapa duduk sendiri disini, ini akhir pekan." Dia memesan minumannya.
"Dan kau, kenapa sendiri disini..." Dia bertanya balik padaku.
"Aku? Hmm... menghibur diri sendiri. Apa lagi..." Aku meneguk sloki neat whiskey dengan satu tegukan dan meminta sloki lainnya.
"Kau tidak masalah dengan itu..?" Dia melihatnya meneguk neat whiskey seperti air.
"Hmm, jangan kuatirkan aku ganteng, aku bisa mengurus diriku sendiri. Kecuali kau mau jadi penghiburku kau bisa bergabung denganku..." Aku tidak butuh orang berbasa-basi denganku malam ini. Aku tak perduli akan mabuk, sopirku menunggu di bawah, dia bisa dipercaya, dia akan membawaku kembali ke rumah.
Menjadi penghiburku, mungkin dia menebak apa artinya. Kadang aku merasa tak perduli lagi apa perkataan orang yang aku inginkan hanya seseorang yang bisa membuatku bahagia sesaat dan melupakan kesedihanku. Aku kembali melamun, tak memperdulikan sekelilingku.
"Kau salah satu rekanan Yohan?" Dia bertanya siapa aku, karena kami pernah bertemu di salah satu pesta. Itupun hanya bertegur sapa sebentar.
"Hmm... kita tidak perlu nama lengkap untuk saling menghibur karena mungkin kita tidak akan bertemu lagi... Cukup malam ini dan semuanya selesai. Aku juga tak tahu siapa kau, kita cuma pernah bertemu sekali."
"Kau yakin sekali kita tidak akan bertemu..."
"Kalau kita bertemu pun tidak akan ada masalah. Kita akan pura-pura tidak mengenal. Kita tak akan punya ikatan apapun.. " Aku memutuskan untuk menggodanya, dia tampan, setidaknya jauh lebih tampan dari mantan suamiku yang brengsek itu, walaupun tak akan menandingi tampannya Daniel. Cintaku yang sempurna tapi bukan milikku lagi. "You so damn sexy..." Aku berbisik kecil sambil menggigit bibirku.
"Kau yakin dengan penawaranmu. Aku tidak berminat dengan hubungan apapun setelahnya." Playboy tampan ini nampaknya tahu bagaimana cara bermain aman.
"Sama, aku juga..." Aku tertawa kecil. "Aku hanya perlu teman malam ini, untuk sedikit bisa merayakan weekend... berpura-puralah aku kekasihmu dan aku berpura-pura kau kekasihku." Sekarang aku menyentuh kemejanya, menaruh tanganku di dadanya yang bidang. “I’m not your barbie, but I allow you being Ken for while when you need me...It’s just for fun.”
"Kau mabuk." Dia memegang tanganku.
"Well, belum...Whiskey ini mungkin sedikit memberikanku keberanian bicara, tapi aku tidak mabuk."
"Ayolah..." Aku mengoyangkan tangannya dan bicara dengan nada merayu. "Kita hanya sedikit bersenang-senang..."
"Lalu apa..."
"Lalu aku bisa kembali menjadi wanita yang kuat dan tak tersentuh keesokan harinya. Cuma itu. Dan kau dan aku jika suatu saat kita bertemupun kau bisa berpura-pura tak mengenal."
"Kau tahu itu tak menyelesaikan apapun."
"Hmm.. aku tak perlu pria menyelesaikan masalahku." Aku tersenyum dan memandangnya sekarang.
"Kau bawa mobil?"
"Disini ada hotel,..." Aku berbisik. Parfumnya tercium olehku, aku menyukai wanginya. Kami di daerah yang menyediakan bar dan hotel dalam satu komplek gedung.
"Kau punya suami?" Aku menaikkan alisnya mendengar pertanyaannya. Sekarang aku merasa dia terlalu banyak bertanya, cukup dengan omong kosong ini.
"Kau terlalu banyak bertanya." Aku turun dari kursi bar dan berniat meninggalkannya sekarang. Tapi dia menahan pinggangku.
"Fine. Itu hanya semacam test. Aku bayar minumannya. Kita pergi..."
Yang terjadi selanjutnya adalah sebuah malam yang aneh antara sepasang manusia yang mungkin sama-sama mencari pelampiasan sesaat atas beban kami.
Ethan, dia tidak banyak bicara dia hanya membuatku berteriak senang. Aku memejamkan mata, membayangkan yang menyentuhku adalah Daniel. Dia hebat membuatku tidak menyesal membuatnya sebagai teman sesaatku, tubuhnya bagus, membuatku tak bisa menahan fantasiku dan melayang begitu saja.
"Thanks..." Dia mengucapkan satu kata padanya. Kami hanya terbaring menatap langit-langit setelah itu selesai.
"Kau hebat..." Aku tersenyum dan memujinya. Dan kemudian satu ciuman menyentuhku. Aku membalas ciumannya. Sesaat kami saling berpandangan. "Aku harus pergi..." Dia beranjak dari sisinya.
"Secepat itu?" Dia membuatku terbaring lagi disampingku.
"Kita hanya orang asing yang saling menghibur dan tak pernah akan bertemu lagi. Kecuali takdir menghendaki lain..."
"Kurasa kita mungkin akan bertemu lagi..."
"Buat apa..." Aku tertawa kecil.
"Entahlah, itu hanya perasaanku. Kau ingin cerita?"
"Cerita apa?"
"Tentang apapun, mungkin kesedihanmu, anggap saja aku psikolog gratis malam ini. Aku akan mendengarkanmu, dan mungkin memberikan sebuah pandangan dari sisi pria. Dan besok mungkin akan lebih ringan karena kau sudah bercerita pada seseorang..." Dia menatapku, aku mempermainkan bed sheet, cerita, apa itu akan membantu? Entahlah... mungkin, kami cuma orang asing yang tak akan bertemu lagi.
"Aku hanya sedang terluka, merasa dipermainkan. Dan tak bisa menerima dikhianati... Aku belum lama bercerai dari suamiku. Saat dia setuju dengan hubungan kami, kupikir dia juga paham tentang apa yang aku inginkan. Tapi ternyata dia dan keluarganya sudah menipuku dari awal. Dan aku mungkin kehilangan seseorang yang mencintaiku dengan tulus. Aku terlalu menginginkannya, padahal sebelumnya aku yang melepaskannya... Aku egois." Setetes air mata jatuh, harusnya aku sudah selesai dengan ini. Tapi kenyataannya aku bukan menangis untuk orang yang membuangku tapi untuk cinta yang kulepas.
"Kau akan menemukan seorang yang lain..." Aku tersenyum untuk perkataannya.
"Mungkin. Tapi tak akan mudah percaya lagi. Mungkin aku hanya butuh waktu."
"Kau mau pelukan..."
"Aku mau ciuman..." Dia menatapku, aku tak perduli aku dicap gadis menyedihkan malam ini. Aku hanya mencari pelipur lara.
Dia dengan baik memberikan ciumannya.
“Jangan bersedih, tak ada gunanya bersedih untuk seorang pengkhianat.” Aku suka caranya menyentuhku, saat
ketika aku tak bisa bertahan untuk tak menyentuhnya lagi. Kali ini aku membiarkan dia yang mengendalikan semuanya.
"Ethan, ..." Kali ini dia menyebutkan namaku dengan jelas ketika aku melambungkannya untuk kedua kalinya.
"Jangan mencariku..." Kata terakhirnya sebelum kami berpisah.
"Baiklah, tapi jika kita bertemu lagi kau juga tak boleh sengaja menghindariku." Dia tersenyum.
"Aku bisa tak berjanji apapun, tapi lebih baik kita tak bertemu lagi. Dan lain kali kau tak akan mendapatkanku lagi seperti ini..." Aku tertawa.
"Biar takdir yang menentukan..." Aku menciumnya kecil saat dia melambaikan tangan meninggalkanku kemudian.
"Bye Ethan...."
"Bye Amanda...."
Untuk catatanmu. Aku bukan orang yang percaya takdir. Aku hanya percaya pada pilihan. Malam ini hanya sebuah malam yang harus dilupakan.