One Night Stand With Playboy

One Night Stand With Playboy
Part 15. Stupid Girl



Aku turut bahagia untuk Daniel dan Lina. Sungguh,...


Apa yang bisa kukatakan, dia akan menjadi seorang Ayah sekarang. Dan istrinya terlihat sangat cantik. Dia wanita yang sangat beruntung, bolehkah aku iri. Aku ingin ada disana, tapi dia bukan jodohku. Aku tak bisa mengharapkan itu tentu saja.


Kami pernah bicara panjang dulu, dan aku menyerah mengejar Daniel karena mengerti Daniel akhirnya menemukan seseorang yang dia bisa cintai sepenuhnya, bukan aku. Kami mungkin pernah punya rasa, tapi aku sudah mengatakan tak bisa bersamanya dari awal, dan saat aku terjatuh aku mencoba mengapainya lagi, rasanya memang tak adil. Tadinya aku merasa bisa mendapatkannya dengan kedudukanku, tapi akhirnya dia menjauh dariku.


“Semoga bayinya lahir dengan sehat, Ibunya juga selalu sehat.” Aku maju dan mengucapkan selamat ke Lina.


“Ester, terima kasih...”


“Daniel, selamat yah, kau akan segera jadi Ayah.” Gantian aku menyalami Daniel.


“Thanks ya... Makasih udah datang. Dan Bro Nicholas, kalian datang sama-sama. Kejutan aku tak menyangka.”


“Ohh tidak kami berteman saja.” Aku yang menjawabnya sekarang.


“Oh teman, baiklah...” Daniel tersenyum padaku. Baiklah teman punya arti macam-macam di dunia kami. Dulu status kami juga teman, tapi ....


Nicholas melihat padaku. Aku menghindari pandangannya. Well, dia memang tidak tahu seperti apa hubungan kami. Diluar aku dan Daniel hanya kenal sebagai teman biasa. Tak ada yang tahu kami sebenarnya adalah kekasih, tak ada yang tahu karena aku memang menyembunyikannya. Sekarang entah kenapa aku merasa dulu aku sangat  tak adil pada Daniel. Aku seperti memanfaatkannya, dan mungkin karmanya kubayar sekarang.


“Dua bulan lagi Bro, selamat. Semoga semuanya lancar. Tadinya aku mau memberimu kereta set yang bagus sekali kelihatannya, tapi memang untuk usia lima tahun. Tapi Ester melarangku katanya itu akan rusak...”


“Bro, jika lima tahun kurasa memang akan rusak.” Dia malah membuka fakta kami membeli kadonya bersama-sama. Apa dia sadar jika aku dan Daniel mungkin... Tapi dia tidak mungkin menyimpulkan secepat itu. Mustahil.


“Jangan kuatir, aku belikan yang bisa dimainkan untuk satu tahun. Kau akan punya putra,...”


“Kau juga cepatlah cari, jangan main-main lagi.” Nicholas cuma tersenyum menangapi perkataan Daniel.


“Iya, tapi kami tak bisa lama. Aku dan Ester ada sedikit urusan.”


“Oh baiklah.”


Akhirnya acara ramah tamah itu berakhir. Aku dan Nicholas makan sebentar sebelum pergi.


“Aku tak tahu kau mengenal Daniel dekat, kupikir kau kenal dengan Lina.” Nicholas penasaran tampaknya, semoga dia tetap hanya menyangka kami cuma berteman.


“Aku pernah ada proyek jangka panjang dengannya. Sampai sekarang juga masih berjalan. Dia penghubung utamanya, jadi semua urusan dulu selalu dengannya.” Itu cuma fakta yang terjadi.


“Sudah lama proyeknya?” Aku melihat ke Nicho, kenapa dia masih penasaran.


“Sudah berjalan sejak tiga tahun yang lalu...Kenapa?”


“Oh lama juga tiga tahun...Hmm, tak apa. Makanlah, habiskan makananmu.” Akhirnya dia tidak melanjutkan lagi dan mengalihkan pembicaraan.


“Aku mau langsung pulang saja setelah ini. Masih ada yang harus kuselesaikan...” Alasan sebenarnya aku cuma sedang badmood dan ingin sendiri saja. Sudah pasti sebenarnya setiap acara seperti ini aku harus menghela napas panjang, apalagi ini Daniel. Dari luar aku bahagia untuknya tapi didalam aku mengasihani diriku sendiri.


“Ini enak, aku suka makanan yang mereka pilih.” Aku memuji sebuah cake dan zuppa soup yang mereka sajikan. Dan sukses menghabiskannya. Nicholas hanya tersenyum kecil.


“Gadis bodoh...” Nicholas mengatakan sesuatu yang membuatku menoleh padanya, ...“Bodoh.” Dia mengucapkan satu kata lanjutan padaku sambil mendorong keningku dengan jarinya.


“Apa maksudmu...” Tiba-tiba dia mengatakan sesuatu yang sama sekali tak ada hubungannya.


“Aku mau pulang...” Dan dia melenggang begitu saja meninggalkanku di meja. Aku langsung menyusulnya.