One Night Stand With Playboy

One Night Stand With Playboy
Part 2. Regretful



Menatap bayangan wajahku yang  menyedihkan di  cermin kamar, cahaya matahari menyingkap bayangan  gelap dimataku. Semalam aku pulang hampir jam dua pagi  ke rumah. Aku melakukan kegilaan semalam yang tak pernah kubayangkan akan kulakukan di hidupku, one night stand.



Diusiaku yang  33 tahun ini aku rasanya menjadi semangkin tak tentu arah. Dalam mimpi terliar sekalipun aku mungkin tak berani melakukannya. Tapi semalam aku melangkah terlalu jauh. Seperti kisah novel yang kutulis sendiri. Dan aku memerankannya, aku mungkin wanita tak bermoral lagi. Tak kusangka aku melakukan kegilaan ini dalam hidupku.


"Kau sangat cantik..." Aku ingat bisikannya yang membuatku melambung dan ciumannya yang membuatku terbakar dan menginginkannya lebih banyak lagi.


"Ethan...please..." Aku menutup mataku saat dia memberikan apa yang aku mau. Dia hebat, tak diragukan, tapi aku membayangkan Daniel yang melakukannya. Bahkan tanpa sadar aku menyebutkan namanya di akhir. Kurasa dia menyadarinya. Tapi kami tidak akan bertemu lagi....


Aku menginginkan orang yang kutahu pernah sangat mencintaiku. Jika aku bisa menggapainya saat itu, tapi Ayah menetapkan hal yang berbeda untukku. Aku sebagai putri  satu-satunya keluarga tak berdaya menolak keinginan Ayah, ini tanggung jawabku untuk keluarga.Ayah memilihkan Benny Dharmawan sebagai suamiku. Seorang penerus keluarga Dharmawan plus dengan itu kami punya kemungkinan merger dengan group Dharmawan yang punya bidang bisnis utama  yang sama.


Daniel menerimanya tanpa berdebat, membuatnya terlalu mudah untukku. Tapi tetap mencintaiku sebagai teman dan melepasku dengan rela. Dia tahu dia  bukan anak pemilik group utama seperti calon suamiku itu. Sekarang dia sudah berbahagia dengan istrinya Lina tapi aku masih terpuruk disini.


Tapi baiklah, semalam dia membuatku melakukan kegilaan itu, selain dari daya tariknya yang tak dapat ditolak sejak awal, moodku yang sedang sangat buruk karena semalam adalah hari  ulang tahun perkawinanku dengan mantan suamiku, aku hanya ingin tempat beristirahat sebentar, seseorang yang  bisa kupeluk, tapi aku tahu aku melakukannya dengan cara yang salah dan mungkin minuman yang telah membuatku begitu berani. Aku berharap aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Jika tidak, aku tahu  dimana akan kusembunyikan diriku. Dia pasti menganggapku perempuan gampangan.


“Non, Nyonya besar telepon. Katanya Non jangan lupa, ditunggu di acara ulang tahun Michelle.” Bibi sekarang yang mengetuk pintu kamarku berulang kali. Aku menghela napas kesal.


Michelle, keponakanku yang berulang tahun pertama. Jika perkawinanku baik-baik saja mungkin aku sudah punya anak sekarang. Tapi nampaknya jalan hidupku bukan jalan tol sama sekali. Dan acara-acara seperti mengingatkan bahwa aku sudah gagal, membuatku merasa orang membicarakan aku di belakangku. Belakangan ini aku merasa aku ingin pindah ketempat baru saja, dimana tak ada seseorangpun yang mengenalku. Memulai semuanya dari awal, tapi aku tahu itu tak mungkin. Di pundakku ada begitu banyak tanggung jawab yang tak mungkin aku tinggalkan.


Di ponselku banyak panggilan yang tak terjawab dari Mom. Astaga apa acara ulang tahun itu sepenting ini. Aku benar-benar malas pergi dan memilih mengubur diri di selimutku lagi, sudah jam 10, nanti saja tengah hari baru  aku pergi, menunggu akhir acara saja baru aku muncul.


Tak bisakah mereka meninggalkan hari ini untukku sendiri!