
POV . Ethan
Aku melihatnya sekilas. Amanda... gadis yang semalam bersamaku.
Dia menabrak seorang pelayan dan menimbulkan keributan. Aku cukup yakin itu dia, dan dia mungkin sekali berusaha menghindariku. Tapi akibatnya malah aku melihatnya.
"Brandon, yang tadi itu, yang menabrak pelayan. Bukannya itu Amanda. Dia teman atau saudaramu?" Brandon adalah temanku dan ini adalah ulang tahun anaknya.
"Amanda? Ohh sepupu itu Jenny. Amanda Harlan, putri tunggal keluarga Harlan." Jadi begitu, putri tunggal keluarga Harlan, Putri Dewanto Harlan. Kenapa dia bisa ada di bar itu...Dan kami menghabiskan malam bersama semalam. Tak disangka kami bertemu lagi hari ini.
Kau bisa bilang itu kenangan tak terlupakan. Wanita yang berani mencapai apa yang dia inginkan. Walaupun akhirnya dia tetaplah wanita yang ingin disayangi. Semalam mungkin dia sedang bersedih dan terlalu banyak minum, wanita sepertinya mungkin jika saat lain tak tersentuh. Dia sendiri yang bercerita [ernikahannya gagal, dia bercerai.
Pertemuan kami mengesankan, tapi itu ibarat pisau bermata dua. Jika aku mendekatinya lagi. Itu akan seperti aku ingin mengambil keuntungan darinya, pasti itu yang dia pikirkan.
Dan semalam kami sama-sama membohongi satu sama lain, dia membayangkan orang lain aku membayangkan wanita lain. Wanita yang harus kulepas karena teman baikku menginginkannya.
"Jangan menciumku." Dia datang dengan sebuah persyaratan, bahwa aku tak bisa menciumnya saat itu.
"Kenapa..." Ketika tanganku menjangkau tengkuknya dan mencium lehernya. Tarikan napasnya berubah yang mengatakan dia menyukai sensasinya.
"Kita belum bisa..." Sedikit banyak aku mengerti, aku hanya orang asing. Agak aneh memang, tapi ini hanya untuk pelepasan.
Aku mengantinya dengan kecupan di seluruh tubuhnya. Dan nampaknya dia sangat menyukainya.Entahlah kupikir dia hanya ingin melupakan sesuatu semalam. Sama sepertiku, itu tidak adil bagi siapapun. Memang lebih baik kami tak bertemu lagi.
"Siapa yang kau sebut tadi..." Untuk pertama kali tubuhnya bergetar dibawahku, tapi dia tidak menjawabku. Dan akupun membayangkan gadis lain yang sudah bukan menjadi milikku lagi.
Atas dasar kami tak mungkin bertemu lagi dia berani membuka dirinya pada orang asing kemudian. Bercerita kenapa dia melalui malam ini denganku. Dan akibatnya aku menyentuhnya lagi, hanya ingin membuatnya gembira sesaat atas semua kesedihan yang dilaluinya.
"Ini hanya semalam Ethan..." Ketika akhirnya dia menyebutkan namaku di kesempatan kedua.
"Mungkin, tapi mungkin akan ada takdir lain ..."
Tapi memang takdir berkata lain. Aku akhirnya tahu indentitas lengkapnya tepat keesokan harinya.
Tapi tidak aku rasa aku cukup tahu diri untuk tidak mengejarnya saat ini juga walaupun bisa. Dia akan langsung menolakku. Seperti hari ini dia bahkan menghindar dariku.
"Pak, Jumat ini Bu Lucia bilang Bapak harus menemani tanda tanda tangan kontrak ini." Asistenku memberikan sebuah copy kontrak.
"Oh... " Aku membacanya dengan cepat, itu bukan kontrak besar, tapi ini dengan Group Harlan. Gara-gara Lucia kemarin dengan Oscar ada perselisihan yang belum selesai. Tapi nampaknya Paman sudah menyelesaikannya.
Aku membalik lembar terakhir, ada nama lengkapnya Amanda Guinevere Harlan, aku tersenyum kecil, mungkin sebuah kebetulan aneh, entah kenapa aku mempercayai tanda-tanda yang diberikan. Itulah yang namanya takdir.
"Masukkan ke jadwal..." Aku memberikan dokumennya kembali.
"Baik Pak,..."
Kali ini aku akan mendekatinya secara jujur. Membuatnya melupakan pertemuan kami yang pertama. Berusaha jujur dengan siapa diri kami. Dan tidak aku bahkan tidak akan menyentuh tubuhnya. Aku hanya ingin ciumannya, tanda dia percaya padaku.
Aku tahu itu akan menjadi perjalanan panjang. Mungkin dia akan berusaha lari lagi dariku, seperti katanya. Kami cuma orang asing sebelumnya.
Entah kenapa tiba-tiba aku menantikan bertemu dengannya lagi. Mungkin karena aku percaya takdir sudah membawanya kembali padaku akhirnya.