One Night Stand With Playboy

One Night Stand With Playboy
Part 6. I Dont Want See You



Dua hari kemudian.


Jumat sore. Akhir pekan, kantor sudah selesai hari ini. Baru  saja aku akan  kembali ketika sebuah nomor muncul di ponselku. Panggilan dari  nomor yang tidak kukenal.


Kuharap bukan dia. Kuharap bukan Ethan.


“Halo, siapa?” Aku berdebar tak tentu sekarang.


“Ini aku Ethan.” Apa yang dia inginkan, mendengar suara dalamnya saja pikiranku sudah membayangkan bagaimana kami bertemu.


“Sudah kubilang jangan mencariku.” Langsung kuputuskan saja harapannya.


“Dan sudah kubilang kau tidak boleh menghindariku jika kita bertemu lagi.”


“Aku tidak pernah berjanji apapun, tidak ingin melanjutkan apapun denganmu. Sekali cukup sekali...”


Apa yang kubayangkan adalah dia akan mencoba merayuku dalam kesempatan pertama kami bertemu. Dan membawaku menikmati apa yang kami lalui lagi, aku tak menampik itu salah satu moment terbaik yang mungkin tak pernah akan aku lupakan. Tapi kemudian aku tahu mungkin dia menganggapku murahan dan  itulah yang membuatku berkeras menghidarinya.


“Apa yang terjadi sekali? Pikiranmu itu. Kau sangat menganggapku buruk bukan..." Dia tertawa di seberang sana.


"Mungkin bukan masalah kau buruk, cuma sudah kubilang aku tidak ingin bertemu denganmu lagi." Yang buruk itu bukan dia, tapi aku yang merasa tambah buruk.


"Kenapa? Kau merasa buruk karena hubungan sebelumnya dan menyamakan semua orang."


"Apapun anggapanku, tidak ada hubungannya denganmu dan bukan urusanmu." Plus dia merasa tahu tentang apa yang kupikirkan. Aku adalah orang yang ketus jika aku berniat menghindar darimu.


"Kalau begitu ayo makan malam denganku, ini hanya makan malam..."


"Ini cuma makan malam, apa yang kau takutkan. Aku cuma ingin jadi teman, aku juga berteman dengan sepupumu. Nomor teleponmu diberikan oleh dia.”


"Wanita dan pria tak pernah jadi teman, naif sekali." Langsung kumentahkan alasannya yang tak masuk akal. Wanita dan pria jadi teman? Maksudmu kau mencari teman tidur atau bermesraan, kenapa dia membuatku tertawa.


"Aku tak naif, bagaimana kalau kita bikin taruhan. Jika aku menyentuhmu kau boleh membuatku membayar sesuatu. Bukankah ini permainan menarik? Kau tertarik membuatku kalah?" Sebaliknya aku takut pikiranku yang akan kalah. Aku takut aku yang akan terlalu mudah menyerah. Pertemuan pertama kami adalah aku yang memintanya, bukan dia.


"Aku tak butuh uangmu..."


"Kau boleh meminta apa saja dariku."


"Kenapa kau sangat berusaha?" Diam disana.


“Entahlah, aku hanya ingin bisa bicara lagi denganmu, mungkin mengenalmu sebagai teman. Apa itu terlalu banyak untukmu. Mari lupakan bagaimana kita bertemu. Anggap itu tak ada. Sebagai jaminannya aku berjanji tak akan membahas itu lagi.”


Itu terlalu banyak.


Tentu saja, aku hanya berharap tidak pernah lagi bertemu dengannya dan hari ini aku tahu tiba-tiba orang asing ini adalah keluarga Chandrawan. Jika aku tahu aku akan bertemu dengannya lagi mungkin aku akan berpikir 1000x.


“Aku tak ingin berteman. Aku orang yang sulit untuk berteman. Itu saja. Pertemuan kita terjadi atas dasar saling menguntungkan dan tak ada yang lain lagi.” Rasanya sudah cukup aku meladeninya. Sudahlah, jangan memghubungiku lagi. Tak ada gunanya.” Langsung kuputuskan telepon itu tanpa menunggu lagi. Dan setelahnya aku menghela napas lega.


Lega?! Semoga dia menjadi sebal dengan sikap ketusku tadi. Dan tidak mencoba kesempatan yang lain lagi.


Walaupun setengahnya aku yakin dia bukan orang yang akan menyerah secepat itu.