One Night Stand With Playboy

One Night Stand With Playboy
Part 15. Why I'm Fooled?



Why I'm Fooled?


Dia mengatakan aku bodoh dan pergi begitu saja meninggalkanku dari ruangan. Aku tak terima ini, aku berhasil menyusul langkahnya begitu dia masuk mobil dan duduk disampingnya. Kami memang datang dengan mobil sendiri-sendiri.


“Kenapa kau disini. Aku mau pergi...” Kenapa dia tiba-tiba menjadi ketus.


“Jelaskan perkataanmu tadi?” Nicholas menghela napas panjang mendengar pertanyaanku.


“Kau tahu maksudku, apa yang mesti kujelaskan lagi, kenapa kau tak pulang saja. Bukannya kau bilang kau mau pulang saja.”


“Kau tiba-tiba bilang aku bodoh, dan bilang aku tahu maksudnya. Bagaimana aku tahu maksudmu?! Kita sebelumnya membicarakan makanan.” Aku memasang nada tinggi untuk menghadapinya, bagian mana di pembicaraan kami yang membuatnya mengatakan bodoh padaku.


“Jangan mencoba memancingku, turunlah sekarang...”


“Memancingmu?! Aku bertanya padamu mengapa kau mengatakan aku bodoh?! Aku memancing apa?! Jelaskan padaku apa yang kupancing?!” Kenapa dengan pria ini. Apa yang sebenarnya yang ada dalam pikirannya. Sekarang dia diam saja. “Jelaskan padaku!Kau tak akan pergi begitu saja...”Aku tetap mengejarnya, karena dia tiba-tiba mengataiku bodoh.


“Astaga wanita...” Sekarang dia jadi sexist. Akan kulayani dia.


“Aku memang wanita... Kenapa dengan itu?! Jelaskan perkataanmu!Jangan jadi pengecut.” Dia menghela napas panjang.


“God...Kumohon turunlah. Sorry, Anggap saja, aku tak pernah bicara.” Dia menggengam erat setir, seakan ada perasaan marah yang dipendamnya. Aku tak mengerti kenapa dia bersikap seperti itu sekarang.


“Kau aneh, kau masih mengizinkanku untuk ikut offroad tour kan? Kau marah akan sesuatu tadi, ada apa denganmu?”


“No, saya tidak marah...” Sekarang dia memakai frase saya.


“So, what’s wrong with you?” Dia tidak menjawab pertanyaanku dan cuma diam.


“Gak ada. Saya harus ketemu orang jam 3. Pulanglah, kau bilang kau mau pulang kan.” Dan bahkan tidak mau melihatku sekarang, sebenarnya ada apa dengannya.


“Iya  iya kau boleh ikut.” Aku melihat padanya.


“Sebenarnya kenapa denganmu...”


“I’m just fine.” Tetap tak mau melihatku. “Keluarlah, atau kau mau ikut aku pulang ke apartmentku jika kau tetap disini.” Aku tersenyum.


“Ohh ya aku belum tahu dimana kau tinggal.” Dia menyebutkan sebuah kondominum di bilangan Jakarta Selatan yang memang tak terlalu jauh dari kantor.


“Ohh. Nanti mungkin aku akan mampir...” Aku cuma bercanda untuk memancingnya bereaksi, tapi dia tidak menjawabku sama sekali. Melihatku pun tidak.


“Kau memang aneh...” Aku menyerah untuk mengoreknya.


“Terserah padamu. Semua manusia aneh dengan caranya masing-masing.”


“Sebenarnya ada apa denganmu.” Aku merangkulnya dan dia melihatku. “Kau marah padaku karena aku bodoh? Bagian mana dimataku aku bodoh?”


“Anggap saja aku tak pernah menyebutkannya, mungkin aku yang bodoh.” Dia tetap menghindar.


“Baiklah, jika kau mau terbuka, aku akan mendengarkan. Tenang saja jika kau teman, semua yang kau katakan harusnya bukan untuk mencelakaiku kan. Aku turun... see you.”


“Oke. Bye...” Sampai akhir dia tak mau mengatakan ada apa.


Apa soal Daniel, tidak mungkin  dia bisa menebak aku punya hubungan dengan Daniel dari obrolan singkat begitu saja. Entahlah apa yang dipikirkannya. Mungkin suatu saat  dia akan mengatakan apa yang dipikirkannya.


Sekarang biarkan saja dia dengan pikirannya. Hmmm ... asal dia tetap mengizinkan ku ikut.