One Night Stand With Playboy

One Night Stand With Playboy
Part 5. Another Time




POV Amanda


“Bu Amanda, tamu kita udah siap di ruangan meeting. Pak Dewanto  menunggu Ibu…” Sekertarisku mengingatkanku untuk hadir di tandatangan kontrak pengadaan supply tambang kami selama setahun. Kali ini dengan salah satu perusahaan group Chandrawan.


Papa yang rekomendasi perusahaan ini. Ini bukan kontrak besar, tapi kata Papa ini untuk memperbaiki hubungan bisnis. Tapi harga yang mereka tawarkan mereka tawarkan memang lebih rendah dari perusahaan lain jadi aku menyetujuinya dengan cepat. Memperbaiki hubungan kurasa ini ada hubungannya dengan kasus Oscar dengan salah satu perusahaan Chandrawan beberapa bulan yang lalu saat Papa membatalkan sepihak persetujuan kredit Oscar.


Oscar adalah sepupuku, anak Bibi ke-2, yang sudah dianggap anak sendiri oleh Ayah karena Ayah Oscar sudah meninggal di usia ia masih cukup muda. Aku berjalan ke ruangan Papa, aku yang tandatangan kali ini, ini tidak dikuasakan untuk menunjukkan Papa, diwakilkan aku menerima semacam niat baik Group Chandrawan. Tapi aku tak tahu siapa wakil mereka. Tapi kudengar Pak Jerry Chandrawan juga hadir dalam penandatanganan ini.


“Pa, ayo… tamu Papa udah datang.”


“Oh oke. Ayo…”


Papa tersayang yang hancur, terdiam, dan memelukku dengan erat saat aku mengatakan aku ingin bercerai padanya, dan kemudian menangis minta maaf telah membuatku menjadi janda. Dia pikir aku bahagia dengan perjodohanku. Aku memang awalnya bahagia dan menerima pengaturannya, sebelum semuanya ternyata hanya sebuah kebohongan dari mantan suamiku.


Aku sebenarnya tak pernah menyalahkannya, tapi nampaknya dia menyalahkan dirinya sendiri karena menjodohkanku kepada seseorang pembohong yang memakai segala cara untuk mencapai tujuannya.


Tapi akhirnya aku tahu dibelakangku dia membalas sakit hatiku. Dia membuat semuanya sulit untuk mantan suamiku dan keluarganya. Aku tak pernah meminta itu, aku tahu saat Ibu yang bercerita kemudian padaku, dan mantan suamiku yang akhirnya datang lagi padaku dan memohon dimaafkan.


“Ada Jerry Chandrawan Pa?”


“Iya ada. Temenin Papa kamu tandatangan gak lama, cuma ramah tamah sebentar sama Jerry Chandrawan.”


“Ya oke…”


Kami masuk ke ruangan meeting, sudah ada staff yang menemani disana, aku sedikit banyak mengenal sosok Jerry Chandrawan, kenal juga karakternya yang lugas dalam bicara, kadang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Ada dua orang lain yang menemaninya, dan salah satunya adalah….


“ Ini anak saya Alena Chandrawan, dia yang akan tandatangan. Ini Direktur Keuangan Group Chandrawan, Ethan Chandrawan, mereka berdua akan memegang estafet group Chandrawan dimasa depan.” Jerry Chandrawan, sebagai pemimpin Group memperkenalkan pemegang estafet group  Chandrawan  di masa depan.


Kali kedua kami bertemu lagi. Aku terpaku menatapnya dan dia juga terpaku menatapku sesaat. Aku berusaha keras menghindarinya sebulan yang lalu di acara ulang tahun Michelle dan berakhir bertemu dengannya disini, tak disangka dia adalah orang keluarga Chandrawan.


Apa dia menyadarinya saat itu?


“Ini Putri saya, Amanda Harlan. Dia yang akan tandatangan kontrak.” Suara ayah mengalihkan pengamatanku pada Oscar. Aku bersalaman dengan Lucia dan sebelum beralih ke Ethan.


“Bu Amanda, senang kita bisa bertemu lagi.” Dia menyalamiku, dan aku harus membalasnya.


“Sangat kebetulan Pak Ethan.” Apa lagi yang aku harus jawab, ini memang kebetulan yang tidak pernah kuharapkan.


“Oh kalian sudah kenal sebelum ini.” Ayah yang bertanya padaku.


“Iya pernah bertemu sebentar sebelumnya.” Aku cuma tersenyum kecil sementara Ethan mengamatiku, andai Ayah tahu pertemuan macam apa yang kami jalani.


Para staff menyiapkan dokumen kontrak yang telah direview kedua belah pihak sebelumnya. Kami terlibat pembicaraan tentang prospek bisnis setelahnya. Tak lama aku minta izin meninggalkan ruangan karena ada meeting yang harus kuhadiri.


“Pak Jerry, Bu Lucia,Pak Ethan, saya punya meeting yang saya harus hadiri, saya minta diri dulu.”


“Ohh tentu sihlakan.”


“Pa, aku pergi dulu.”


“Iya.”


Aku tak berani  menatap Ethan lagi. Jika dia membuka mulut kepada orang-orang yang  kukenal tentang pertemuan kami, kurasa aku dalam masalah, tapi nampaknya dia tak akan sebodoh itu merusak hubungan  denganku.


Aku berharap lift ini cepat terbuka. Aku punya ketakutan dia akan mengejarku, mengajakku bicara, padahal aku tak ingat terlibat hubungan emosi apapun sekarang. Untunglah doa tak berartiku ini dikabulkan, saat pintu lift itu tertutup, aku menghela napas lega. Setidaknya hari ini aku berhasil kabur lagi untuk yang kedua kalinya. Walaupun aku tak yakin ....