One Night Stand With Playboy

One Night Stand With Playboy
Part 13. Memories of the Past



Kami bertemu untuk memilih kado untuk anak Oscar. Kali ini aku melihatnya dengan baju t-shirt gelap dan celana jeans. Plus dia ternyata punya tato melingkar di lengan atasnya. Tidak besar, tapi cukup membuat dia benar-benar berbeda.


Dia benar-benar jadi orang yang lain, mungkin kau bisa langsung  membayangkan dia adalah seorang pemain band atau pekerja seni yang punya jiwa bebas. Tapi tidak mungkin kau membayangkan  direktur keuangan yang menganalisis grafik laporan.... kurasa dia adalah orang tersesat di dunia matriks yang lain.


Well, dan sekarang dia juga tersesat di toko bayi. Dia juga tidak cocok dengan gambaran toko ini. Kenapa pikiranku bermain terlalu jauh sekarang.


"Hello bad boy,...." Dia sedikit tersenyum mendengar aku menyapanya sembarangan.


"Hello climber girls,... " Dan tebak akupun hanya memakai t-shirt putih dan celana jeans hari ini. Aku merasa senang kami seperti punya kesamaan pemikiran sekarang.


Aku memperhatikannya mengamati sebuah kotak set mainan kereta untuk anak laki-laki. Itu bisa dimainkan untuk anak minimal lima tahun, ini mencari hadiah baby shower kenapa perhatiannya ke mainan itu.


"Hei ini baby shower, kau harusnya memberikan hadiah untuk bayi. Itu untuk anak umur lima tahun."


"Ohhh, begitukah? Selama ini aku memberikan hadiah mainan untuk anak siapa saja. Kupikir mainan itu sangat bagus...?" Aku tertawa.


"Kau bisa memberikan itu saat dia ulang tahun pertama. Tidak sekarang." Dia mengangguk-angguk sekarang.


"Aku sekarang binggung apa yang harus kuberikan. Kau memberikan apa?"


"Mama menyuruh memberikan mereka stroller. Aku akan memilih satu stroller."


"Hmmm... aku tetap naksir set kereta itu, baru sekarang aku melihat yang seperti itu. Sangat rumit, sepertinya instalasinya bisa menghabiskan waktu duduk berjam-jam..." Typical pria mereka mengingat kembali memori masa kecilnya.


"Kau yakin itu tidak rusak lima tahun mendatang."


"Ehm..." Dia jadi berpikir lagi. "Kau benar juga..." Akhirnya dia menyerah menginginkan kereta mainan itu. Tapi masih dengan muka tidak rela.


"Jangan bilang kau menginginkannya untuk dirimu sendiri." Dia tertawa kecil.


"Kalau begitu cepatlah menikah apa yang kau tunggu lagi." Dia diam saja kemudian tak menjawab perkataanku. Dan akupun tak berani bertanya apa yang ada dalam pikirannya.


"Entahlah, orang yang tepat di saat yang tepat mungkin." Dia membalas perkataanku tanpa melihatku akhirnya dan membuat aku merasa aku salah  bicara.


"Baiklah, aku beli set mainan ini saja." Dia mengalihkan pembicaraan dan  akhirnya membeli set mainan meja bola yang sudah bisa dimainkan anak berusia satu tahun.


"Hmm itu lebih baik..." Kami akhirnya menemukan kado kami masing-masing dan harus pergi ke mobil masing-masing untuk membawa apa yang kami beli.


Dia membantuku menyusun kotak stroller besar ke bagasi belakang mobil terlebih dahulu dan berjalan ke mobilnya yang ternyata parkir di lantai yang sama.


Dia membantu meratakan jok paling belakang SUV ku. Aku bersebelahan membantunya dan karena terlalu dekat sekarang  aku mencium kembali parfumnya. Ingatanku kembali lagi ke malam itu... Dimana tak ada lagi yang membatasi kami.


Aku melamun, dan menjangkau sebuah tas yang ingin kuletakkan ke samping dan posisiku tidak seimbang karena hells yang kupakai cukup tinggi. Akibatnya aku miring ke kanan membentur tubuhnya.


"Hei, hati-hati." Dia menahan tubuhku yang jatuh ke kanan. Gelanyar perasaan itu membuatku tercekat kemudian.


"Thanks..." Aku menghela napas untuk mengutuk betapa canggungnya  diriku sendiri kemudian.


"Kita tidak terburu-buru. Kenapa?Ada yang salah?" Dia menyadari entah bagaimana ada yang mengganguku.


"Ohh tidak, hanya teringat pekerjaan yang mengganggu."


Pertemanan ini terasa sangat menyiksa. Disaat yang lain aku menyadari terpengaruh oleh kehadirannya, tapi aku tahu sekali aku menyentuhnya aku akan menyesal.


Complicated.