
Aku dan Daniel kenal empat tahun lalu karena sebuah proye. Sosok dan pembawaanya yang sangat komunikatif, tampan, mungkin tertampan yang pernah kulihat membuat aku jatuh hati. Benar-benar jatuh cinta, tapi aku tahu hubungan kami kemungkinan akan sulit, karena dia hanya seorang manager unit, profesional, bukan seorang pemilik perusahaan. Dia juga nampaknya sadar, dia bersikap sangat baik padaku, saat bersamanya mungkin aku sepenuhnya adalah diriku. Aku jatuh cinta, tapi aku tahu aku akan patah hati. Term teman kami jauh dari teman biasa, karena bahkan kami liburan berdua bersama dengan nyaman.
Aku tahu dia mencintaiku, tapi dia juga tahu kami tak bisa bersama. Saat aku bercerita aku dijodohkan, dia menerima dengan baik. Bahkan kemudian membuat semuanya mudah dengan juga memacari gadis lain. Tidak aku tak akan menggangunya lagi. Aku tidak boleh berlaku egois. Dan Lita sudah berbesar hati memasukkan aku ke daftar undangan, sebenarnya aku tidak ingin pergi. Tapi tiba-tiba Ethan mengajakku.
Ethan ternyata juga teman Daniel, kenapa dunia ini terasa sempit sekali. Bagaimana pendapat Daniel jika aku datang bersama Ethan.
“Aku seperti orang bodoh pergi ke acara seperti itu. Tapi nanti ada kau, bisa pergi setor muka sebentar, dan setidaknya aku punya teman bicara disana.” Dia tertawa, itu benar, acara-acara seperti itu juga mengingatkan bahwa aku gagal sebelumnya. Aku tak suka acara keluarga seperti itu.
“Hmm...Iya kau mengingatkanku aku harus mencari kado buat mereka. Dan ini sudah Jumat.”
“Mau cari kadonya besok? Aku juga belum cari kado, tapi tidak bisa hari ini, aku ada meeting sampai malam, harus segera kembali, akan kucari besok. Kita bisa cari sama-sama besok jika kau mau...” Dia menawarkan untuk bertemu lagi. Kami belum pernah bertemu di akhir Minggu, paling kami hanya bertemu untuk makan siang jika sedang bisa. Aku ragu, tapi ini hanya mencari kado bersama. Tak akan menimbulkan salah paham apapun bukan.
“Hmm... baiklah.”
“Baiklah,kita ketemu lagi besok disini, kubayar bill-nya dulu.” Ethan memberi tanda ke pelayan.
“Aku saja yang bayar, kau selalu yang membayar.”
“Tidak apa, ini cuma makan siang...” Dia tetap mengambil folder bill yang diberikan pelayan dan mengeluarkan kartunya.
“Bukan kewajibanmu selalu membayar.” Aku tersenyum padanya sekarang.
“Terserah padamu...” Dia mengangkat bahu dengan gaya kalah, melihat foldernya sudah dibawa oleh waiter.
“Kau tahu aku sudah membayangkan hutan mulai sekarang, bisa kembali lagi ke alam setelah bertahun-tahun itu rasanya sesuatu. Terisolasi, kadang tanpa satu pemacarpun bisa mencapaimu. Untuk sesaat benar-benar tak ada yang bisa mencapaimu dan membuatmu khawatir. Tak ada email, tak ada laporan grafik yang bikin kening berkerut, tak ada laporan kerjaan yang bikin ngelus dada. Rasanya sudah tak sabar...” Aku mulai berandai-andai tentang perjalanan yang akan kami tempuh.
“Matikan saja ponselmu.” Aku langsung tertawa mendengar caranya mencari cara yang lain yang memang jauh lebih mudah.
“Andai semudah itu menyelesaikan masalahnya.” Dia tersenyum.
“Aku tahu apa maksudmu. Jika aku bisa, aku juga akan melakukannya, tapi ini real life, semua manusia punya tanggung jawabnya, tak ada celah menghindar. Baiklah, kita bertemu besok tengah hari oke. ”Tak lama setelah pelayan mengantarkan kembali kartuku.
“Oke. Sampai bertemu besok jam makan siang oke. WA saja kau mau bertemu dimana.”
“Oke. See you...”
Kami berpisah untuk sekarang. Sesaat aku menatap punggungnya yang menjauh. Mungkin berteman tak ada salahnya. Dengan posisiku dan statusku, aku kadang kesulitan menemukan orang yang hanya mau berteman. Tapi dia menerimanya.