One Night Incident With My Teacher

One Night Incident With My Teacher
Part 9



Mengetahui jika Sinta tengah mengandung lantas membuat Nicholas harus membawa pulang Sinta ke rumahnya mengingat jika orang tua wanita itu yang masih berada di luar kota.


Sementara itu ayahnya bekerja di luar negeri. Ia khawatir jika Sinta yang otomatis di rumah sendirian akan melakukan hal nekat. Karena tampak dari wajah Sinta saja jika wanita itu sangat kesal sekaligus menyimpan amarah yang sangat dalam.


Nicholas pun menarik napas panjang dan terus membujuk Sinta yang dari tadi diam dan sama sekali tak mau berbicara dengannya.


Tidak seperti Sinta yang dulu yang dikenal oleh Nicholas. Wanita itu berubah menjadi wanita yang pendiam dan menjadi orang yang selalu suka melamun.


"Sinta," tegur Nicholas dan menarik tangan Sinta. Sinta tampak sangat terkejut dan lalu kemudian menatap ke arah tangannya yang dipegang oleh  Nicholas.


Ia pun menarik napas panjang dan juga ikut menarik tangannya dari genggaman tangan Nicholas. Nicholas yang melihat penolakan itu hanya bisa meneguk ludah. Ia pun mengangguk beberapakali.


"Tidak apa-apa. Saya mengerti kamu," ucapnya dengan nada yang sedikit merasa kecewa. "Tapi saya tetap terpaksa untuk membawa kamu pulang ke rumah saya."


Sinta awalnya hendak protes tapi ia langsung terdiam saat dokter yang menangani dirinya pun masuk ke dalam ruangan tersebut.


Sinta menatap dokter itu dengan heran. Ia pun hanya melihatkan apa yang akan dilakukan dokter itu.


Ternyata yang dilakukan oleh sang dokter adalah mengecek dirinya dan juga menjelaskan mengenai tentang kehamilan dan ia harus menjaganya kehamilan tersebut jika tidak ingin diaborsi.


"Apakah benar-benar tidak bisa diaborsi?" tanya Sinta yang malah mengejutkan makhluk yang bernyawa di dalam ruangan selain dirinya.


Tentu saja Nicholas sangat marah, akan tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa jika itu keinginan Sinta.


"What? Aborsi? Kamu akan melakukan aborsi? Itu sangat berbahaya," jelas Nicholas yang sangat mengkhawatirkan Sinta jika ia nekat melakukan aborsi.


"Apa yang dikatakan oleh guru kamu itu benar. Untuk kehamilan di umur sekarang sangat berisiko untuk melakukan aborsi. Selain itu kamu juga memiliki penyakit bawaan, tentunya itu akan semakin berbahaya."


Sinta pun tampak sangat kecewa. Tapi  sebenarnya wanita itu sangat ingin melakukan aborsi dan bahkan tak berpikir panjang mengenai keselamatan dirinya.


"Tidak masalah. Aku lebih baik mati daripada harus mengandung anak dari bajingan ini," ucap Sinta sembari melirik ke arah Nicholas.


Napas Nicholas memburu dan tangannya terkepal. Tapi ia harus sabar karena orang di depannya lebih sangat keras kepala dan tentunya menjinakkan orang seperti itu bukanlah sesuatu yang mudah.


"Kami belum bisa melakukan apapun karena kamu masih di bawah umur. Apalagi itu sangat berisiko sehingga tanggung jawab kami sangat besar. Tapi jika kau ingin tetap mengaborsi kamu harus membayar mahal dan sudah siap dengan konsekuensinya."


"Aku tidak masalah."


"Aku yang bermasalah," jawab Nicholas cepat membuat dokter dan Sinta terkejut.


Ia kompak menatap ke arah Nicholas yang hanya diam dengan raut wajah dingin tapi terpancar aura kemarahan.


"Sampai kapan pun tidak ada yang akan diaborsi." Nicholas menatap ke arah Sinta, "saya akan tetap membawa mu pulang ke rumah saya."


Kemudian setelah mengatakan itu ia langsung keluar dari ruangan untuk menyelesaikan admistrasi.


____________


Sinta tetap diam walaupun saat ini kakinya tengah melangkah masuk ke dalam rumah Nicholas. Meski dalam keterdiaman tak membuat dirinya meluputkan rasa keterkejutan terhadap rumah Nicholas yang sangat besar.


Ini adalah kali pertama dirinya masuk ke dalam ruang yang megah bak istana. Sebenarnya Sinta sangat penasaran kenapa Nicholas memiliki rumah ini tapi masih saja menjadi seorang guru.


"Kamar kamu di sini," ucapnya mengantarkan Sinta.


"Aku akan pulang ke rumah ku saja."


"Sinta!" bentak Nicholas tanpa sadar. Ia menarik napas panjang dan mengepalkan tangannya.


Ia harus lebih sabar lagi. Pria tersebut pun mengusap wajahnya karena kesal terhadap dirinya yang telah membentak Sinta tanpa sadar hingga membuat Sinta ketakutan.


Air mata Sinta pun jatuh dan ia berusaha untuk mundur dari Nicholas. Nicholas merasa simpati dan langsung memeluk tubuh Sinta.


"Sinta, kau tahu aku sangat susah untuk mengendalikan emosi ku jika bersama mu. Sekali saja kau menjadi orang yang penurut. Ini demi kebaikan kamu dan anak kita."


"Tapi aku tidak menginginkan anaknya," lirih Sinta yang membuat Nicholas sadar bahwa buah hatinya saat ini dihasilkan dengan hubungan yang sangat tak terpuji.


"Begini saja. Kau akan melahirkan anak ku, setelah kau melahirkannya kau bebas untuk pergi dari sini dan anak mu aku yang mengurusnya," tawar Nicholas.


Sinta terdiam cukup lama untuk berpikir. Ia pun menjauhkan tubuh Nicholas yang tengah memeluk dirinya agar ia lebih fokus.


"Bagaimana dengan orang tua ku?"


"Aku akan bernegosiasi dengannya. Kau harus tinggal di sini jik orang tua mu tak ingin tahu."


Sinta merasa tertarik dengan tawaran tersebut.


"Apakah Bapak akan mematuhi ucapan Bapak sendiri?"


"Tentu saja saya memegang janji saya. Kamu tidak perlu khawatir." Sinta yang sangat merasa yakin pun mengangguk beberapa kali.


Hal itu membuat Nicholas merasa senang.


"Ah, Sinta. Sejujurnya saya juga tak ingin berada di posisi ini dan belum siap untuk memiliki anak. Tapi karena saya diajarkan untuk bertanggung jawab, jadi saya akan bertanggung jawab dan membiayai kamu seperti istri saya."


"Saya harap Bapak bisa tidak melewati batas. Jika itu terjadi saya tidak akan segan-segan dan melaporkan Bapak," ucap Sinta seolah tengah mengancam Nicholas.


Sinta pun masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu. Ia takut jika akan terjadi sesuatu kepada dirinya. Kemudian wanita itu pun menarik napas panjang dan berjalan terburu-buru ke depan kaca.


Sinta kembali lagi menimang-nimang pilihannya. Apakah pilihan tersebut adalah pilihan yang tepat? Mengingat saat ini dirinya sedang trauma yang diakibatkan oleh pengkhianatan sang sahabat dan juga hilangnya keperawanan yang dari dulu sangat dijaganya.


Ditambah lagi ia tengah mengandung membuat tekanan batin Sinta kian menguat. Perempuan tersebut seolah pasrah dengan keadaan dirinya.


Sinta menyentuh perutnya yang belum membesar. Ia bahkan sangat tak menyangka di dalam perut itu ada makhluk lain.


"Apakah aku bisa menjadi orang tua yang baik? Tentu saja tidak, karena kamu akan lahir ke dunia dan aku tidak lagi menjaga mu," ucap Sinta yang sangat sedih.


Tak bisa dipungkiri jika ia juga memiliki hati dan merasa tidak tega dengan anaknya.


_______


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.