One Night Incident With My Teacher

One Night Incident With My Teacher
Part 19



Masalah demi masalah perlahan mulai teratasi. Mengetahui jika Sinta hamil pihak sekolah yang ingin men DO Sinta langsung ditahan oleh Nicholas.


Karena Sinta berhak dengan pendidikan yang akan diterimanya. Apalagi sebentar lagi dia akan lulus sekolah. Sangat sayang jika ia berhenti di tengah jalan.


"Sinta, kamu masih kepikiran dengan apa yang terjadi hari ini?"


Sinta mengangguk. Setelah semuanya terjadi, Sinta benar-benar merasa sangat setres. Bahkan ia harus dilarikan ke rumah sakit untuk membuat ia tak terlalu banyak pikiran hingga membahayakan janinnya. Karena mencegah adalah hal yang paling baik.


"Aku capek. Aku tak yakin jika bisa melewati ini semua."


"Hey apa yang kau katakan. Ini sudah ingin diakhir dan kau ingin berhenti di tengah jalan?" tanya Nicholas untuk menyakinkan Sinta.


Sinta pun terkekeh. Ia menatap ke depan dengan pandangan kosong. Ia benar-benar butuh waktu istirahat agar dirinya bisa berpikir dengan jernih.


"Aku tahu."


Sinta memejamkan mata dan sedikit merasa nyaman dengan apa yang tengah ia lakukan.


Nicholas senantiasa mengusap kepala Sinta. Ia menatap tangan wanita itu yang terpasang infus. Sebegitu besarnya perjuangan Sinta demi anak mereka. Apakah dia salah untuk menginginkan anak itu hidup dan mungkin efek sampingnya adalah akan banyak masalah yang harus mereka hadapi. Mulai dari omongan orang-orang.


"Kamu hebat. Apa yang kamu lakukan sampai ke titik ini membuat aku bangga. Jadi jangan pernah berputus asa di tengah jalan yah sayang," ucap Nicholas dan mengecup kening Sinta.


Ia pun memejamkan matanya.


Keduanya sama-sama hanyut dalam mimpi. Begitu damai jika hidup seperti mimpi yang bisa bebas kita ukir dengan perasaan kita saat ini.


Untuk hubungan keduanya tentunya tak ada yang bisa memainkan karena cinta kedua insan tersebut terlampau besar. Bahkan orang-orang yang melihatnya akan pasti sangat yakin jika mereka saling mencintai.


Jalinan cinta yang begitu besar membuat kagum orang-orang. Pun begitu dengan Rere dan sang suami yang berniat ingin menjenguk Sinta langsung diam di depan pintu karena melihat betapa sang anak yang sangat mencintai Sinta.


"Dia benar-benar mencintai Sinta. Apakah kamu masih tega ingin memisahkan mereka?" tanya Rere kepada sang suami.


Suaminya itu diam dan hanya menatap anak bujangnya yang sudah tumbuh besar dan kini akan memiliki anak.


"Aku tak menyangka anak kecil itu sudah besar. Sulit dipercaya jika itu adalah dia yang sebentar lagi akan memberikan kita seorang cucu. Aku akan menjadi kakek."


"Dan aku akan menjadi nenek."


Mereka berdua pun saling menatap. Sebentar lagi peran baru akan mereka sandang.


Rere pun masuk. Ia memberikan selimut kepada Nicholas yang tidur di samping Sinta.


"Ternyata calon menantu kita sangat cantik. Pantas saja Nicholas sangat menyukainya."


"Hm. Tapi cantik juga tidak ada artinya jika ia tak bisa menjaga hati Nicholas."


"Mereka pasti akan saling menjaga dan tak akan mungkin saking menyakiti. Percayalah."


__________


Di rumah Sinta sangat sibuk. Ayahnya yang ehrada di luar negeri pun memutuskan untuk pulang setelah mendengar jika anak bungsunya itu akan dilamar.


Yang hadir hanyalah anggota keluarga.


Perut Sinta pun sudah membesar di kehamilannya yang ke enam bulan. Wanita itu dapat sedikit lega karena perlahan semua masalah yang menimpa dirinya satu per satu pergi dari hidupnya.


Si tukang rias hanya tersenyum mendengar pertanyaan Sinta. Wajar Sinta amat bahagia karena pada hari ini dirinya akan dilamar oleh orang yang sangat dicintainya.


"Semua orang akan merasa hal yang sama jika dia akan dilamar oleh orang yang sangat dicintainya."


"Apakah kalian juga sama seperti aku saat dilamar?"


"Kurang lebih seperti itu," jawab mereka yang sedang membantu Sinta.


Sinta pun menarik napas panjang dan menatap ke dalam kaca yang memantulkan dirinya yang sudah dirias.


Sinta sangat tak percaya jika wanita di depan adalah dirinya. Ia baru tahu jika dirias seperti ini ia akan sangat cantik.


"Apakah aku cantik?"


"Tentu saja. Tidak ada yang tidak berhasil jika di make up oleh kami." Sang tukang rias pun melemparkan lelucon kepada Sinta yang juga membawa Sinta tertawa pelan.


"Kau bisa saja. Baiklah. Aku sekarang benar-benar merasa sangat baik," ucap Sinta kepada mereka semuanya.


"Sinta. Cepat Nak! Calon kamu sudah datang," ucap sang ibu dari luar.


Sinta pun merasa deg degan dan menatap ke kaca rias untuk memastikan penampilannya.


"Aku tidak akan memalukan, bukan?"


"Kenapa kamu sangat tidak percaya. Kamu sangat cantik sinta."


Sinta pun percaya dengan orang yang tengah meriasnya ini. Wanita itu keluar dari dalam kamar dan menuju ke ruang tamu.


Di sana ia melihat Nicholas yang datang untuk melamar dirinya secara resmi.


Tubuh Sinta tiba-tiba bergetar. Ia tak mengerti kenapa rekasi tubuhnya berubah dalam sekejap.


"Sinta sini sayang."


"Iya Ma."


Sinta pun duduk di dekat mereka dan menatap Nicholas yang sangat rapi dengan pakaian formalnya. Wanita itu terpana dengan ketampanan Nicholas. Begitu juga Nicholas yang merasakan hal sama.


"Kalian benar-benar sangat cantik dan tampan. Tidak salah jika Tuhan menjodohkan kalian."


Sedikit ada rasa malu di hati Sinta saat dirinya hamil di luar nikah. Apalagi yang datang adalah keluarga besar Nicholas dan keluarga besarnya. Perutnya yang besar juga tak bisa untuk ditutupi.


Rangkaian demi rangkaian acara pun terus berlangsung hingga Sinta tak sadar jika saat ini orang di depannya adalah Nicholas yang ingin memasangkan cincin sebagai tanda bahwa Sinta adalah tunangannya.


Nicholas mengecup kening Sinta membuat Sinta merasa menjadi wanita yang paling dicintai oleh Nicholas.


"Hari ini kau adalah tunangan ku. Aku akan menjaga mu apapun itu. Aku tak akan membiarkan diri mu sendirian mengurus anak kita."


__________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.