
Sinta menatap mamanya yang saat ini terlihat tengah menunggunya. Semenjak ditinggalkan ke luar kota Sinta jadi pulang terlalu malam.
Ia tak tahu jika tiap hari Sinta akan pergi ke rumah Nicholas dan menjalin hubungan di sana. Hanya saja pria itu benar-benar sangat menyebalkan dan selalu meminta kebutuhannya hingga membuat Sinta pulang terlalu malam.
"Ada apa Ma?"
"Anak gadis pulang malam-malam. Baik tidak?"
Ada rasa tak enak saat ibunya menyatakan jika dia adalah seorang anak gadis. Padahal kegadisannya sudah direnggut. Bahkan hampir tiap hari ia berhubungan.
"Tidak sih Ma."
"Ke mana saja kamu?" todong ibunya dengan segala pertanyaan padahal dia baru saja pulang.
"Sudah hampir dua Minggu kamu kaya gini? Kamu tidak belajar? Mau jadi anak nakal? Kamu tidak malu dengan Pak Nicholas itu. Katanya nilai kamu sama dia anjlok. Kamu tuh harusnya bisa menarik perhatian Pak Nicholas karena dia tuh anak orang kaya dan juga pemilik sekolah itu. Kalau kamu dapat perhatiannya nilai kamu bisa bagus dan dimudahkan. Ini malah jadi anak bandel."
"Wait, jadi Pak Nicholas itu yang punya sekolah."
"Hm, kamu tidak tahu. Padahal kamu sekolah di sekolah swasta yang didirikannya."
Jika seperti itu pantas saja pria tersebut mengajar di sana pahala adalah anak orang kaya. Kini terjawab sudah pertanyaan Sinta selama ini.
"Kok bisa sih?"
"Sana kamu masuk. Kalau tidak lulus dan tidak bisa masuk ke perguruan tinggi karena nilai mu, awas saja."
Sinta menarik napas panjang. Selalu saja ibunya melayangkan ancaman dan tekanan kepada dirinya yang jelas-jelas sangat tidak sanggup untuk mengemban semuanya.
Sinta membuka pintu kamarnya dan membuang tasnya. Ia pun mencari vitaminnya dan memakannya.
Vitamin itu sangat berguna untuk Sinta yang tengah mengandung di usia yang sangat muda. Memang sangat berisiko untungnya ada vitamin tersebut yang bisa sedikit membantu.
Tak lama ponselnya berdering. Sinta mengambil tas yang tadi dibuangnya. Ia mengambil ponsel dari dalam sana dan melihat siapa yang telah menelpon dirinya.
Saat mengetahui nama itu Sinta pun tersenyum sekilas. Ia benar-benar sangat merindukan orang ini. Padahal baru saja dia berpisah dengan lelaki tersebut.
Sinta mengangkat video call dengan Nicholas. Melalui panggilan video tersebut ia bisa melihat jika Nicholas saat ini tengah berbaring di kamarnya tak mengenakan baju apapun.
"Kenapa tidak pakai baju? Kebiasaan."
"Lagi panas sayang."
Sinta kan menjadi malu jika melihat Nicholas yang tak mengenakan pakaian. Bahkan pria itu sangat jahil dan meletakkan ponselnya di perut kotak-kotak milik Nicholas.
"Yakin tidak rindu?" Sinta mendengus.
"Apaan sih Bapak. Tidak lucu tau. Tau gak gara-gara Bapak saya malah menjadi korban oleh mana aku. Dia marahin aku karena selalu pulang malam."
Nicholas merasa sangat besarlah. Mungkin suatu hari nanti ia akan menjelaskannya kepada Nurul.
"Nanti aku akan berusaha untuk mendekati ibu kamu."
"Ah, ya kata Mama juga Bapak orang yang punya sekolah itu, kan?"
Nicholas pun mengangguk. Lagipula tak ada yang perlu dirahasiakan kepada Sinta.
"Iya. Kamu saja yang baru tahu. Aku rasa semua orang juga tahu."
"Tuhkan Sinta yang selalu tertinggal kabar," ujar Sinta marah.
"Ah, aku rasa panggilan kita terlalu formal. Lebih baik kita aku kamu. Kalau di sekolah baru saya dan bapak."
"Hm."
"Udah minum susu belum?"
"Belum."
"Minum sana. Biar dedek bayinya sehat," ujar Nicholas yang jadi sangat merindukan calon bayinya.
"Iya. Ini mau ke dapur."
"Anak pintar."
Kali ini Nicholas memberanikan diri datang langsung ke rumah Sinta untuk menjemput wanita itu. Tidak seperti biasanya yang seperti pecundang dan menjemput Sinta secara diam-diam.
Nurul sangat terkejut dengan kedatangan Nicholas. Ia tak menyangka orang yang sangat penting di sekolah nya datang ke rumahnya. Apakah kali ini Sinta berbuat ulah lagi?
"Bapak Nicholas. Silakan masuk," ucap Nurul dengan sangat lembut.
"Terima kasih Buk."
Nurul mempersilahkan Nichols duduk di sofa ruang tamunya. Dadanya berdetak sangat kuat takut kedatangan Nicholas adalah untuk membawa kabar buruk bagi anaknya.
"Ada apa gerangan sampai membawa Bapak ke rumah saya? Apakah Sinta berbuat ulah? Jika begitu maafkan Sinta Pak."
Nurul memohon kepada Nicholas tanpa tahu apa sebenarnya tujuan Nicholas datang.
"Ibu tidak perlu khawatir. Kedatangan saya bukan untuk membawa kabar buruk tapi untuk mencari Sinta. Saya ingin menjemputnya dan pergi ke sekolah bersama."
"Yaampun saya jadi tidak enak. Apakah Bapak benar-benar ingin menjemput anak saya. Pasti dia yang minta, kan? Nanti biar saya marahi dia karena telah meminta yang aneh-aneh kepada Bapak."
Nicholas menggaruk kepalanya. Ia pun menjadi lega saat melihat Sinta yang berjalan turun dari atas tangga.
Sinta belum menyadari jika di rumahnya ada Nicholas. Wanita itu ketika sampai di ruang tamu baru tahu jika Nicholas ada bersama ibunya di luar.
"Lho Bapak, kenapa bisa ada di sini?"
Mendengar suara sang anak kontan membuat Nurul langsung memalingkan dirinya ke arah anaknya tersebut.
"Sinta ke sini kamu."
"Kenapa?"
Sinta pun duduk di samping sang ibunda sambil melirik heran Nicholas. Ia memberikan isyarat kepada pria itu.
"Nih kamu kan yang minta Bapak buat jemput kamu. Kamu tidak tahu malu? Sudah dikasih tempat tinggal selama ibu tidak ada dan kamu malah semena-mena sama Bapak."
Sinta pun menggaruk kepalanya. Kenapa lagi-lagi sang ibu ini salah sangka kepadanya.
"Tidak ada. Sinta juga tidak tahu kalau dia bakal datang."
"Benar. Ini inisiatif saya sendiri."
Tiba-tiba wajah Nurul menjadi sumringah dan langsung mempersilahkan Sinta pergi bersama Nicholas.
Ketika kedua orang itu sudah berada di dalam mobil, perdebatan kecil pun terjadi.
"Kenapa langsung jemput aku?"
"Karena ingin izin ke orang tua kamu. Kalau selama ini yang membawa anaknya keluyuran adalah aku," ucap Sinta kepada Nicholas.
"Kamu belum pernah dimarahi Mama kalau dia tahu apa yang sebenarnya terjadi sama aku dan kamu."
"Kita akan sama-sama dimarahi. Dan aku juga akan dimarahi oleh ibu ku."
Nicholas menyentuh perut Sinta. Sinta sempat terkejut dan menatap ke perutnya. Lalu kemudian ia pun hisa beradaptasi dengan usapan tersebut.
"Aku rindu baby. Kamu rindu Papa tidak?" tanya Nicholas pada anaknya tersebut.
Sinta merasa bahagia mendengar Nicholas yang mengajak bayinya untuk berbicara.
"Perut ku akan semakin membesar. Apakah kita tidak memikirkan sesuatu?"
"Aku akan menikahi kamu. Itu solusinya."
"Hah? Apa maksudnya? Kita akan menikah. Di usia aku yang masih muda?"
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.