One Night Incident With My Teacher

One Night Incident With My Teacher
Part 18



Nicholas menjemput Sinta ke rumahnya. Kali ini ia tak perlu lagi canggung karena semuanya sudah terungkap.


Hanya saja ibu Sinta belum bisa menerima semuanya sehingga wanita itu masih mendiamkan dirinya.


Bahkan sama sekali ia tak tergiur dengan harta yang bisa saja ditawarkan oleh Nicholas untuk bisa mendapatkan Sinta.


Bukan harta yang diinginkannya, akan tetapi adalah harga diri yang kini sudah diinjak-injak oleh Nicholas. Nurul pun hanya pasrah dengan semua yang terjadi.


"Mama masih marah. Aku bingung cara nenangin dia." Nicholas memandang ke arah Sinta yang menceritakan bagaimana selama ini ibunya yang masih belum bisa menerima keadaan anak tunggalnya.


"Sudahlah. Mungkin memang itu yang seharusnya dilakukan oleh orang tua. Jika kita sudah menjadi orang tu pun pasti akan seperti itu. Akan posesif kepada anak kita dan ingin yang terbaik buat dia. Jadi wajar jika Mama mu seperti itu."


Sinta pun tersenyum mendengar penjelasan dari Nicholas.


"Lalu bagaimana dengan mu? Apakah ibu dan ayah mu menerima ku?"


"Sama seperti mama mu. Bahkan ayah ku lebih parah lagi ingin membuat kalian tutup mulut dengan uang. Tapi aku tahu dengan orang tua mu yang tak akan mungkin mau dan aku juga tentunya tidak akan pernah mau karena yang aku inginkan adalah menikah dengan mu."


Mendengar kata-kata tersebut membuat Sinta sedikit tersipu. Ia menyembunyikan senyumnya dari pria tersebut.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa. Tapi aku yakin kita berdua bisa melewati ini semua."


Pembicaraan demi pembicaraan di dalam sana pun terus bergulir hingga tak sadar jika keduanya sudah berada di depan gerbang.


__________


Sinta keluar dari dalam kelas dan hendak menuju ke kantin. Niatnya hanya ingin menikmati hari ini tapi ia merasa bingung karena di depan Mading orang-orang semua berkumpul.


Sinta tak mengerti dengan apa yang saat ini tengah dihebohkan oleh anak-anak. Ia pun yang merasa sangat penasaran dengan hal itu lantas mendekati Mading tersebut.


Saat sampai di depan Mading ia sangat terkejut tatkala semua mata mengarah kepada dirinya.


Ia mengerutkan kening kenapa mereka semua menatap ke arah dirinya? Apakah ada sesuatu yang salah yang telah dilakukan oleh Sinta?


Sinta pun menatap ke deoan Mading tersebut dan sangat terkejut saat melihat jika di situ terdapat foto-foto yang menunjukkan ia dah Nicholas yang tengah mengecek kandungan.


Mata Sinta kontan melotot. Ia tak percaya jika foto itu bisa terpanjang di sana. Siapa yang sudah menguntit dirinya? Sinta yang melihat hal tersebut sangat ingin menangis.


"Siapa yang telah melakukan ini?" tanya Sinta dalam hati. Ia pun mengamati orang-orang yang berada di sana tengah menatap dirinya dengan pandangan aneh.


Bisik-bisik dari para siswa itu sangat membuat telinga Sinta panas. Mereka dengan terang-terangan mengejek Sinta. Sinta yang merasa marah dengan foto-foto tersebut lantas mencabuti semuanya dan merobeknya.


Ia menangis dan hendak pergi. Semua orang membully dan melakukan penghinaan kepada Sinta.


"Hu!!


"Hamil di luar nikah. Hamil sama guru? Malu-maluin banget sih. Ternyata juga penggoda rupanya."


Sinta mengepalkan tangannya. Napas wanita itu memburu. Dan ia pun berusaha untuk menenangkan dirinya.


"Diam kalian semua! Kalian tidak berada di sana jadi kalian tidak usia sok tahu dengan apa yang terjadi sebenarnya."


"Hahah!"


"Buktinya jelas-jelas ada kenapa juga harus kami mempercayai dengan ucapan yang penuh alasan mu itu?" tanya Melani yang memandang Sinta dengan tatapan hina.


Sinta tak bisa menahan tangisnya. Air matanya tumpah begitu saja. Sinta sangat malu, ia benar-benar berada di titik yang amat melelahkan.


Sinta pun pergi, tapi ketika ia berjalan di setiap lorong sekolah orang-orang menghinanya. Ia baru tahu jika foto-fotonya juga tersebar di grup kelas.


"Aku... Aku membenci ini semua, aku ingin mati saja."


Sinta pergi ke belakang sekolah lalu menangis di sana sendirian. Sinta tak memiliki siapapun untuk ia memberikan curhatan. Nicholas? Ia rasa curhat dengan laki-laki itu bukanlah opsi yang bagus. Karena sebenarnya Nicholas pun tahu dengan perasannya.


Pada akhirnya ia sendirian yang harus menanggung semua itu.


"Kenapa harus perempuan yang menanggung malunya? Padahal kan aku hanyalah korban."


"Apakah sekarang kamu menyesal Sinta?" tanya seseorang yang berada di belakang Sinta.


Sinta pun terkejut saat mendengar suara-suara serak-serak basah yang baru saja beratnya kepada dirinya. Sinta pun menoleh ke belakang.


Ia hanya diam saat tahu jika yang datang rupanya adalah Nicholas.


Nicholas melemparkan senyuman kepada Sinta. Ia berniat ingin membuat wanita itu dapat lebih baik. Tapi tampaknya Sinta tak peduli.


Nicholas menghampiri Sinta dan memeluk tubuh wnaita itu.


"Saya juga terluka Sinta. Kamu tak perlu khawatir karena saya akan ada bersama mu. Say akan memproses orang-orang yang sudah membuat kamu seperti ini dan yang sudah menyebarkan foto-foto kita. Saya benar-benar tak akan memaafkan mereka semua."


"Tapi apakah semuanya sudah terlambat?"


"Siapa bilang sudah terlambat. Orang-orang mengetahuinya tapi kan aku bisa mengatasi semua itu. Jadi kau tak perlu takut lagi."


__________


Sesuai janji, Nicholas pun memanggil orang-orang yang sudah ketahuan telah menyebarkan foto-foto itu.


Rupanya tak lain dan tak bukan adalah Margaretha dan Melani. Semua itu diumumkan di lapangan.


Persetan dengan rasa malu. Nicholas tak peduli dengan perasaan itu karena semuanya sudah terungkap dan tak perlu lagi ada yang ditutup-tutupi.


Jadi buat apa merahasiakannya.


"Saya beri tahu ke kalian. Semua ini bukan seperti yang kalian pikirkan. Kami tidak melakukan hubungan dengan rasa saling suka. Pada waktu itu saya dan Sinta dijebak oleh mereka berdua di saat malam yang tahu sekolah. Dan sekarang ketika semuanya sudah menjadi bubur meteoa pula yang menyebarkan foto saya saat kami melakukan check up."


Semua orang menatap ke arah Margaretha dan Melani dengan tatapan mencemooh. Wanita itu benar-benar sangat keterlaluan dan banyak yan tak menyangka jika mereka berdua lah yang melakukannya. Karena sepengatahuan banyak orang mereka adalah sahabat yang tak terpisahkan.


Tapi bisa-bisanya ia mengkhianati persahabatan itu. Memang benar-benar tidak cocok untuk dinobatkan sebagai sahabat yang peduli.


"Dasar pengkhianat!"


"Sudah-sudah. Kalian di sekolahkan di sini bukan untuk saling menghina tapi untuk saling menjaga. Sekali lagi saya dengan perdebatan kalian, saya akan memanggil siapapun itu."


___________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.