
Ujian akhir pun telah tiba. Ibu Sinta yang tak tahu apa-apa mengenai kondisi terkini anaknya pun kini telah kembali pulang dari luar kota berbarengan dengan sang ayah.
Kepulangan mereka karena rasa rindu kepada sang anak. Terlebih lagi mereka menitipkan Sinta kepada gurunya yang membuat orang tuanya tidak enak.
Nurul sangat bersyukur saat Nicholas berniat ingin menjaga anaknya. Tanpa banyak kata ia langsung menyerahkan Sinta karena dia sangat percaya kepada Nicholas.
Sementara itu Sinta yang tahu hari ini ibunya akan pulang bersama sang ayah sangat bahagia. Perempuan itu tak sabar ingin menantikan kedatangan mereka. Tapi hanya saja ia masih takut dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Ibunya pasti akan memarahi dirinya habis-habisan karena perbuatannya tersebut.
Sinta belum berani apalagi saat ini ciri-ciri kehamilan benar-benar terlihat pada diri Sinta yang membuat Sinta berpikir terus menerus, apakah kehamilannya akan terlihat.
Nicholas yang paham dengan kondisi Sinta menghampiri wanita itu. Meskipun dia tahu untuk sekarang emosi Sinta benar-benar memuncak.
Mungkin itu akan menjadi bumerang sendiri baginya. Tapi, sebagai seorang pria ia menang harus berani dan bertanggung jawab.
"Sinta. Tenanglah, ada saya."
Sinta menatap Nicholas dengan pandangan meremehkan. Dari tatapannya saja ada rasa benci yang memendam di dalam sana. Jadi tak bisa dipungkiri bahwasanya Sinta amat marah kepada Nicholas.
Tangannya mengepal dan air matanya berkumpul. Ia pun menangis yang membuat Nicholas harus menambah lapisan kesabarannya.
"Sinta maafkan saya," ucap Nicholas penuh permohonan.
"Tapi semua ini gara-gara Bapak. Sinta jadi tidak bisa tenang dan selalu kepikiran. Padahal Sinta pengen ketemu sama Papa dan Mama."
"Iya-iya nantikan ketemu."
"Tapi kalau dia tau Sinta lagi hamil gimana? Apakah dia tidak marah ke Sinta?"
Nicholas meraih tangan Sinta dan menggenggamnya. Seakan pria itu mentransfer kekuatannya kepada sang wanita.
"Sudah saya katakan jika saya siap menerima semuanya. Kamu tidak perlu khawatir. Jika kamu ketahuan hamil kan masih ada saya! Saya yang akan bertanggung jawab. Saya tidak akan lepas tangan kepada kamu."
Aura Nicholas yang dulunya sangat garang berubah menjadi pria yang sangat lembut. Padahal mereka berdua sama-sama tahu, jika sifat keudanya tak sama seperti dulu yang bak Tom and Jerry.
"Memang Bapak akan bertanggung jawab seperti apa ke saya?"
Pernyataan tersebut sungguh mengejutkan Nicholas. Ia belum berpikir sangat jauh mengenai hal itu.
"Saya akan siap dimarahi ataupun dipenjarakan oleh ayah mu."
Akhirnya Sinta sedikit lega. Ia tak ingin bertanggung jawab tapi dalam bentuk menikahi dirinya. Lebih baik ia tak menikah sama sekali ketimbang harus menikah dengan orang yang menjadi musuh bebuyutannya.
"Baiklah. Sinta akan bilang ke Papa gitu supaya Bapak dipenjarakan."
Nicholas pun tersenyum miring. Ia menyentuh wajah Sinta yang membuat sang empu sangat kaget.
"Lantas siapa yang akan mengurus anak kita? Kalau ujung-ujungnya saya dipenjarakan, jadi kamu percuma kan tetap mengandung anak kita, padahal saya akan dipenjarakan. Jika kamu sendiri mau mengurusnya, saya tak masalah dan saya sedikit lega," ucap Nicholas yang membuat Sinta berpikir dua kali.
Wanita itu ingin menangis karena semua jalannya sudah sangat buntu.
"Kalau begitu tidak usah bertanggung jawab," ucap Sinta yang sudah muak.
"Bagus. Nanti kamu akan dimarahi oleh ayah mu habis-habisan."
Sinta memandang ke arah Nicholas. Ia pun mengercutkan bibirnya merasa jengkel.
Namun secara tak terduga, Nicholas pun berlutut di depan Sinta dah menatap perut wanita itu penuh dengan haru. Anaknya di sana tengah bersemayam.
"Papa, akan selalu melindungi kamu. Jadi kamu tidak perlu khawatir karena semua orang sangat menyayangi kamu. Papa juga tau kalau Mama mu juga mencintai kamu." Nicholas mengusap perut Sinta dengan perasaan penuh haru.
Sedangkan Sinta sendiri hendak meneteskan air mata melihat kedekatan Nicholas kepada anaknya. Mereka kerap kali mengobrol.
Terutama Nicholas yang tampak sangat menantikan kehadiran sang buah hati. Beberapa kali ia mencoba untuk mengajak anaknya berbicara.
Apakah ia tega untuk memisahkan mereka berdua?"
Pertanyaan itu berulang kali timbul dalam benaknya. Rasa kasihan kepada Nicholas membawa Sinta harus berpikir dua kali untuk memenjarakan Nicholas.
"Sinta. Aku tahu kau sangat menyayanginya. Jadi kau tak perlu khawatir, karena aku juga sangat menyayangi dirinya."
Sinta mengerjapkan matanya beberapa kali. Seolah ia berada di alam mimpi bersama Nicholas.
"Kau benar-benar akan menjadi orang yang sangat menyayangi diri ku?"
"Tentu. Kenapa kita tidak memulai semuanya dari awal?" tanya Nicholas mengejutkan Sinta.
"Maksud mu?"
"Kita mencoba untuk menjadi orang tua yang baik buat anak kita. Pasti dia sangat senang. Apakah kamu ingin melihat anak kita tidak memiliki keluarga yang lengkap?" Sinta menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa berpikir apapun. Jadi biarkan aku memikirkannya."
"Aku akan selalu menunggu jawaban mu," ucap Nicholas lalu mencium perut Sinta.
"Dia pasti sangat senang di dalam sana. Kau harus menjaganya dengan baik-baik."
_____________
Sinta merasa resah. Ia beberapa kali tak tenang hingga harus beberapa kali mengganti posisi tidurnya.
Wanita itu membuka matanya. Dari tadi ia didera dengan perasaan yang sangat takut membuat dirinya tak bisa tidur.
Sinta pun menangis. Ia masih tidak tenang dengan kehamilan dirinya. Memang belum terlihat akan tetapi tubuhnya sedikit berisi.
"Aku takut," ujar Sinta kepada dirinya sendiri.
Ia bangun dan bersandar pada ranjang sembari mendekap kedua kakinya.
Kamar Nicholas yang bersebrangan dengan kamar Sinta membuat pria itu mendengar keresahan yang dialami oleh Sinta.
Ia langsung keluar dari kamar untuk mengecek sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Sinta.
Ia membuka pintu kamar Sinta. Pria yang bertelanjang dada itu sangat terkejut saat melihat Sinta menangis.
"Sinta! Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Nicholas lalu memeluk erat tubuh wanita tersebut.
"Hiks, aku takut "
Ia menatap ke arah Nicholas dan langsung terdiam dengan pria tersebut yang hanya menggunakan celana pendek.
Tak sengaja Sinta menatap perut kotak-kotak Nicholas yang sangat menggoda iman. Terlebih lagi ia juga melihat Nicholas dengan jarak yang sangat dekat.
Apakah ia baru sadar jika pria itu sangat tampan?
Nicholas salah tingkah oarena telah diperjanjikan oleh Sinta. Ia pun menggaruk kepalanya.
"Maafkan pakaian ku."
"Bapak tumben sangat tampan dan seksi."
Mata Nicholas kontan melotot.
"Apa maksudmu?" Sinta menyentuh wajah Nicholas dan mengusap bibir pria itu.
Birahi Nicholas terpancing apalagi saat ia melihat jika Sinta saat ini hanya mengenakan baju putih tipis dan tembus pandang.
"Maafkan aku jika harus terjadi sesuatu lagi. Jika kau tak ingin segera hentikan aku. Aku sudah tidak tahan Sinta."
Nicholas pun menarik kepala Sinta dan mendekatkan wajahnya dengan wanita itu.
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.