One Night Incident With My Teacher

One Night Incident With My Teacher
Part 13



Hari-hari Sinta menjadi sangat berharga. Kehadiran sang anak yang sempat ditolak oleh dirinya kini malah membawa kebahagiaan bagi Sinta.


Wanita itu menjaga sang anak dengan sepenuh hati. Bahkan ia melakukan perawatan dan USG yang sangat malah.


Tentu saja itu semua dibiayai oleh Nicholas. Pria itu menepati janjinya untuk menjaga Sinta. Tapi hanya saja saat ini Sinta tak bisa secara terang-terangan mengatakan jika ia sedang mengandung.


Untung saja kehamilan Sinta masih belum terlihat karena tubuhnya yang kecil. Dan sebentar lagi dia juga akan selamat dari sma-nya. Hal itu sangat tidak sabar ditunggu oleh Sinta.


Karena setiap hari dia selalu dibayang-bayangi oleh teman-temannya yang iri kepadanya. Sinta tak habis pikir jika mereka begitu tega kepada dirinya. Padahal Sinta adalah salah satu orang yang dulu sangat dekat dengan mereka.


Sinta tak tahu kesalahan apa yang sudah ia perbuat. Padahal Ia merasa tidak melakukan apapun. Masa hanya karena ia menolak baju pemberian dari Melani kemarin telah berhasil membuat Melani marah dan teman-temannya tak ingin mendekati dirinya.


Tapi di sisi lain Sinta sangat bersyukur akan hal itu. karena setidaknya ia terjauhi dari orang-orang munafik seperti mereka.


Keputusan Nicolas untuk memenjarakan Melani dan Margaretha berhenti. Dia berpikir untuk memenjarakan mereka adalah langkah yang membuka kedoknya.


Iya ingin memantau lebih jauh lagi apa yang akan mereka lakukan kepada Sinta. Bukannya Nicholas tidak tahu jika Melani dan Margaretha serta ingin melakukan hal yang buruk kepada Sinta.


Sinta merasa bosan. Pagi hari bangun tapi tidak ditemani oleh Nicholas. Seolah hidupnya tidak memiliki gairah apapun.


Wanita itu hanya bisa mendesah panjang sembari mengenakan baju sekolahnya. Padahal pagi ini ia sangat ingin dijemput oleh Nicholas.


Tapi pria itu beralasan dia sangat sibuk. Sebenarnya ada tujuan lain pada diri Sinta yang ingin dijemput oleh laki-laki itu.


Ia minta diajarkan ulangan Fisika karena dia tahu tak akan bisa mengerjakannya.


"Sinta! Cepat turun ke bawah. Sudah mau siang masih di dalam kamar. Nanti telat yang disalahkan Mama!"


Sinta pun menghela napas panjang. Pagi-pagi sudah mendengar omelan ibundanya.


"Iya Mama! Iya! Sebentar!" teriak Sinta kepada wanita itu.


Ia pun keluar dari kamar dan berjalan ke dapur untuk mengambil bekalnya yang sudah dibuatkan oleh ibunya.


Saat sampai di dapur ia melihat tatapan wanita itu yang sangat tajam.


"Lihat udah jam berapa? Kamu masih di rumah."


"Iya Mama. Ini nanti Sinta bakal buru-buru."


"Ini bekal kamu? Gak mau makan dulu sekalian?"


Sinta menggeleng. Karena jika ia makan terlebih dulu yang ada malah akan menguras waktunya.


"Kan Sinta sudah mau telat, kenapa disuruh makan dulu?"


"Kamu sih, pagi-pagi masih aja tidur."


Sinta bersalaman kepada ibundanya. Wanita itu pun menarik napas panjang dan keluar dari dalam rumah untuk menunggu taksinya.


Ia lantas tersenyum lebar saat melihat mobil taksi yang berhenti di depannya.


Sinta lantas masuk ke bagian belakang.


"Kenapa duduk di belakang? Memangnya tidak mau duduk di depan sama saya Neng?"


Bentar, kenapa Sinta merasa sangat familiar dengan suara ini. Ia pun memandang sang supir dengan lekat dan barulah ia sadar siapa orang tersebut.


"Apaan sih Bapak, gak lucu tau. Kok bisa?"


"Bisa dong demi kamu. Saya rela bayar mahal taksinya buat putar balik dan saya yang jemput kamu."


Mendengar hal tersebut membuat Sinta berhasil tersipu. Ia tak menyangka jika Nicholas akan sweet seperti ini.


"Bapak bisa aja."


"Demi kamu saya bisa melakukan apapun."


_________


Sinta masuk ke dalam kelasnya. Di kelas seperti biasa sudah ada Melani dan Margaretha.


Ia duduk di kursinya hingga Sinta tak menyadari jika ada gula karet di bangkunya.


Melani dan Margaretha tertawa. Mereka menutup mulut berbusa menahan tawa tersebut.


Sinta yang merasa aneh pun beberapa kali berpikir. Memangnya apa yang terjadi kepada dirinya?


Tak lama guru fisika yang yakni adalah Nicholas pun masuk. Pria itu lebih tampan hari ini dah Sinta mengakui hal itu.


Dan ketampanan serta wibawa yang dimiliki oleh pria tersebut berhasil membuat anak murid terdiam dan menatap Nicholas dengan pandangan yang tak menyangka.


"Dia benar-benar guru kita?"


Terdengar bisik-bisik dari para siswa yang memuja ketampanan Nicholas.


"Bapak kenapa tampan hari ini, Pak?" tanya Melani dengan genit.


Sinta yang melihat itu ingin muntah.


"Alay banget," ucap Sinta yang sengaja merosting Melani.


Melani memandang ke arah Sinta. "Eh introvert! Kamu bilang apa barusan?"


Prakkk


Pukulan di tas meja menghentikan pertengkaran mereka. Nicholas memandang Sinta dan Melani dengan tatapan tajam.


"Sekali lagi kalian berkelahi saya akan menjemur kalian di lapangan."


Ucapan yang berupa ancaman tersebut lantas membuat Sinta dan Melani kembali akur. Walau sekali terlihat dari mata mereka yang saling bertengkar.


Nicholas pun memutuskan untuk merobek kertas ulangan Sinta dan Melani.


"Ini adalah akibat dari kalian yang tidak mempedulikan saya di depan."


Alhasil Sinta dan Melani pun tidak dapat mengikuti ulangan tersebut. Lalu kemudian saling sindir menyindir.


Sinta sangat geram kepada Melani. Begitupun dengan Nicholas, Sinta sangat ingin mencekik pria itu yang malah tak membelanya sedikit pun.


Tatapan Sinta sangat tajam hingga membuat Nicholas tersenyum miring. Lagipula ia tak ingin menyelesaikan tugas tersebut karena memang Sinta tidak paham dengan ualnga nya.


"Kalian berdua karena tidak mengikuti ulangan, maka kalian harus mencatat soal sebanyak 100 soal."


Sinta mendesah panjang. "Malas."


___________


Sinta langsung keluar dari kelas karena ia merasa bosan. Lagipula tak ada gunanya dirinya di dalam kelas tersebut dan hanya melihatkan orang yang ulangan.


Lebih baik ia pergi ke kantin. Saat pulang ke kantin bel tanda keluar pun berbunyi.


Sinta berniat ingin kembali ke kelasnya.


Tapi pemandangan yang sangat luar biasa menyambut Sinta. Ia baru saja sampai di dekat lorong sepi yang menuju ke kelasnya.


Wanita itu melihat jika si Melani berusaha untuk menggoda Nicholas. Walau Nicholas terlihat marah tapi Melani tak peduli dan berusaha untuk membuka bajunya.


"Bapak yakin tidak tergoda sama saya?"


"Dasar wanita tidak punya harga diri," ucap Sinta yang sambil bersandar ke tembok. Wanita itu juga memainkan kukunya seolah sangat santai.


Nicholas yang melihat ada Sinta sangat terkejut.


_________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.