One Night Incident With My Teacher

One Night Incident With My Teacher
Part 10



DUA BULAN KEMUDIAN


Kehamilan Sinta sudah memasuki bulan ketiga lebih. Ia pun tetap bersekolah walau lebih banyak diam.


Tidak ada yang tahu jika ia saat ini mengandung. Karena tubuh Sinta sangat kecil jadi perutnya yang sedikit membuncit tak terlihat.


Sinta pun menarik napas panjang. Ia menatap ke soal yang saat ini tengah dikerjakan dirinya. Masa-masa ulangan adalah masa yang sangat dibenci Sinta.


Wanita itu tak tahu harus menjawab apa karena memang ia tak mengerti dengan semua angka dan soal-soal yang malah menambah pusing kepalanya.


Seperti Sinta basisnya, dari pada mengerjakan lebih baik ia memejamkan matanya dan berenang dalam mimpi.


Melani dan Margaretha yang duduk tak jauh dari Sinta pun tersenyum licik. Ia memanggil Nicholas untuk memberitahukan jika Sinta sedang tertidur.


Nicholas tetaplah guru yang sangat profesional. Ia tak pernah pandang bulu terhadap seseorang termasuk Sinta.


Jika Sinta tak ingin mengerjakan tugas maka ia tetap akan dihukum. Tapi masalahnya Sinta yang lebih licik lagi yang membawa anak yang tengah dikandungnya hingga membuat Nicholas pun mengalah.


"Bapak! Sinta tidur!" teriak Melani yang membuat Nicholas yang saat ini tengah berkutat dengan laptop kesayangannya pun beralih fokus.


Ia memandang ke arah Sinta yang tertidur. Nicholas pun menghela napas sabar. Kali ini wanita tersebut masih tetap keterlaluan dan menganggap jika pelajaran tak penting.


Pupus sudah harapan Nicholas yang ingin memiliki anak dari orang yang berpendidikan dan juga pintar. Namun keinginan yang diharapkan dari dulu malah berbeda dengan sebaliknya.


Nicholas pun berjalan mendekati Sinta. Ia mengamati wanita itu dengan lamat-lamat lalu mengetuk meja Sinta membuat Sinta tersadar.


Sinta mengucek matanya dan menatap Nicholas dengan mata bulatnya. Justru Sinta malah terlihat imut membuat Nicholas yang awalnya ingin marah langsung diam.


"Ada apa?"


"Kerjakan tugas kamu," ucap Nicholas.


Ia memandang ke arah kertas ulangan Sinta dan melihat jika wanita itu malah menggambar seorang ibu yang tengah hamil lalu bertransformasi saat ia lahir.


Sinta memang memiliki bakat menggambar. Tapi hanya saja tak dikembangkan.


Nicholas yang melihat itu lantas mengambil kertas tersebut. Diam-diam ia tersenyum.


"Kerjakan sekarang juga. Jika kamu tidak selesai maka kamu akan mengerjakannya di kantor saya."


Nicholas memiliki kantor khusus. Tak tahu kenapa pria itu bisa berbeda dengan guru yang lainnya.


Namun Sinta sama sekali tak peduli.


"Malas," enteng Sinta menjawab membuat Nicholas langsung membisu.


Semua orang menatap ke arah Sinta yang berani melawan seorang guru seperti Nicholas.


Nicholas pun kembali ke mejanya dan menunggu anak-anak yang lain mengantar ulangan mereka.


"Dih sama guru aja kaya gitu. Gimana kalau sama orang tuanya yah? Ish kaya anak yang pembangkang. Eh iya dari kemarin kamu kok sensian jangan-jangan lagi hamil lagi," tawa Margaretha.


Mereka berdua menduga jika Sinta tengah mengandung saat paska Sinta yang dilarikan ke rumah sakit.


Sinta mendengar ocehan dua pengkhianat itu tersulut emosi. Ia pun berdiri dan hendak menghampiri Margaretha dan Melani untuk memberikan mereka pembelajaran.


"Apa maksud kalian hah?!!"


Nicholas pun mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan Margaretha tadi. Pria itu menghampiri Sinta dan menjauhkan Sinta.


"Kalian pergi ke ruang BK sekarang. Dan kamu Sinta ikut ke ruangan saya." Nicholas menatap ke arah ketua kelas. "Kamu urus semuanya. Jangan sampai ada yang ribut."


"Baik Pak."


Melani dan Margaretha pun dibawa pergi ke ruangan BK, sementara itu Sinta pergi ke ruangan Nicholas.


___________


Sinta menatap ke arah Nicholas yang berdiri di depannya. Ia pun mengercutkan bibirnya hingga terlihat sangat imut.


"Kamu tidak apa-apa?" Nicholas menyentuh kening Sinta. "Jangan pikirkan mereka. Pikirkan anak kita."


Sinta pun mengangguk. Ia memainkan kertas kosong dan mencoret-coretnya hingga membentuk sebuah gambar.


"Gambar kamu cukup bagus," ucap Nicholas sembari tersenyum.


Pria itu mengeluarkan kertas ulangan yang digambar oleh Sinta tadi. Ia menatap kertas tersebut cukup lama.


"Ini pelajaran Fisika bukan Biologi."


Sinta pun berhenti mencoret dan melirik ke atas.


"Guru Fisika tapi mempraktekkan ke anak orang lain cara membuat anak dan mengandung."


Nicholas pun mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum miring. Tinggal bersama beberapa bulan membuat mereka tanpa sada kian semakin dekat.


"Apakah ingin dipraktekkan lagi?" tantang Nicholas.


Sinta pun menggenggam kertas yang tengah digambarkannya hingga membentuk gumpalan dan melemparkan ke wajah Nicholas.


"Guru cabul."


"Tapi berhasil membuat kamu bunting, kan?" Ia pun menyentuh perut Sinta.


"Kenapa Bapak jadi kaya gini?"


"Hukuman buat kamu yang tidak mengerjakan ulangan Fisika." Nicholas menghampiri Sinta lalu memeluknya dari belakang.


Sinta merasa sangat marah dan menjauhkan tangan Nicholas.


"Ish jangan pegang-pegang Bapak bau."


Nicholas terdiam dan mencium dirinya sendiri.


"Benar begitu?" Seketika ia menjadi malu.


Melihat mimik wajah Nicholas yang sangat syok membuat Sinta terkikik. Pria itu hanya menghela panjang saat melihat jika dirinya dikerjai.


Nicholas pun mengambil makanan yang telah dibelinya. Ia pun menyuruh agar Sinta memakan makanan tersebut. Tampak Sinta tak menginginkannya.


"Aku tidak mau."


"Makan. Ini demi anak kita."


"Sinta gak mau."


Untuk urusan marah kepada Nicholas sampai detik ini pun Sinta masih tak menerima anaknya. Tapi ia lebih sedikit mencair bersama Nicholas.


Nicholas yang dasarnya tak bisa dibantah tak peduli dengan penolakan Sinta. Ia pun memaksa Sinta untuk memakan makanan tersebut.


Sinta mendorong sendok tersebut dan menggelengkan kepalanya.


"Sinta tidak mau."


"Sinta, sekali saja. Ini demi anak saya, dan setelah kamu melahirkannya kamu bebas melakukan apapun."


Sinta pun mengalah dan memakannya. Padahal perutnya belum lapar.


Nicholas tersenyum menyadari hal itu dan mengamati wajah Sinta tanpa sepengetahuan perempuan tersebut.


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN MEMBERIKAN KOMENTAR.