
Hari ini adalah acara resepsi saat pagi tadi telah mengucapkan janji suci. Sinta tak bisa menyembunyikan tangisnya dari tadi pagi.
Ia benar-benar tak menyangka jika dirinya adalah seorang ibu dan sekaligus istri Nicholas di usianya yang sangat mudah
Jika orang melihat Sinta tak akan menyangka Sinta sudah memiliki anak dan juga suami.
"Orang yang datang sangat ramai. Aku malu orang-orang melihat ku hamil seperti ini."
"Kehamilan mu tak terlihat," ujar Nicholas kepada Sinta. Ia menatap perut wanita tersebut dan mengusapnya.
Sinta sengaja dipakaikan baju pengantin yang bisa menyamarkan kehamilan wanita itu.
Ia sedikit lega bisa bersanding di atas pelaminan. Dan orang yang menjadi pengantinnya adalah seorang Nicholas. Pria yang merupakan gurunya yang mengajar di bidang fisika yang mana pelajaran itu sangat dibenci oleh Sinta. Bahkan bukan hanya pelajarannya saja tetapi orangnya juga sangat dibenci oleh wanita itu.
Tapi siapa sangka rasa benci bisa melebur menjadi rasa cinta hanya karena kasih sayang yang dilimpahkan oleh kedua yang begitu besar.
Nicholas menatap Sinta dengan pandangan yang benar-benar rasa bahagia. Semua itu terlihat dari senyumnya yang tak pernah luntur saat terus menatap Sinta.
Ia meraih tangan Sinta lalu menggenggamnya dengan perasaan haru.
Rasa yang hanya bisa dirasakan oleh kedua insan tersebut saja. Bagi mereka yang mengikuti kisah nyatakan senangnya kawan mereka akan sampai di pelaminan ini. Bahkan semua orang tahu jika Sinta adalah murid yang sangat nakal dan tidak disenangi oleh gurunya terutama guru di bidang studi fisika yang tak lain dan tak bukan adalah Nicholas.
"Percaya tidak percaya aku selalu mengobati kamu waktu dulu."
"Meski Aku adalah seorang guru, tapi aku kadang juga merasa kesal kepada murid yang membandel. Dan kau adalah salah satu murid itu. Bahkan Kau adalah murid yang paling nakal," ucap Nicholas yang membuat tawa keduanya pun pecah.
Para undangan yang melihat cengkrama mereka hanya bisa menatap dengan pandangan yang iri. Terutama bagi para jomblo mungkin saat ini mereka hanya bisa yang gigit jari sambil di dalam hati merasa baper tidak karuan.
Sementara itu nasib Melani dan Margaretha yang sudah benar-benar keterlaluan membuat Nicholas tak segan-segan untuk mengeluarkan mereka dari sekolah.
Masalah demi masalah perlahan telah memudar digantikan dengan balasan dari semua itu. Rasa bahagia yang tak terlampau batasnya.
Sinta menatap haru ke arah para undangan. Benarkah sama mereka semua datang untuk Sinta?
"Bapak, hari ini banyak sekali guru-guru yang datang. Aku jadi sangat malu."
"Kenapa malu? Bukankah mereka juga semua tahu bahwa kau adalah ibu dari calon anak-anakku. Tidak ada yang berani untuk menghentikan kita. Kau tak perlu khawatir."
Sinta pun menganggukkan kepalanya. Baiklah ia akan mencoba menjadi seorang yang tidak terlalu khawatir.
Wanita tersebut pun termenung sesaat. Karena ia sudah tamat sekolah, apakah Nicholas tetap akan menjadi guru?
"Bapak."
"Saya bukan bapak mu."
"Iya-iya. Eh apakah setelah ini kamu akan tetap menjadi guru di sana?" tanya Sinta yang terlihat sangat cemas.
Ia takut tanpa sepengetahuannya malah yang ada nanti di kelas akan terpincut dengan salah satu murid baru di sana.
"Kenapa kamu takut jika aku akan jatuh cinta kepada murid ku sama seperti mu?" tanya Nicholas.
Sangat malu untuk mengakui tapi itulah kenyataannya.
"Tenang saja. Hanya kamu satu-satunya orang yang akan selau ada di dalam hati ku. Kamu tidak perlu berpikir yang aneh-aneh."
Silih berganti, waktu terus memburu yang membuat banyak orang dikejar oleh waktu. Nicholas dan Sinta telah melewati rumah tangga mereka dengan sangat harmonis. Ia tak menyangka jika dirinya akan bisa bersama dengan seorang guru yang dulu ia sangat benci.
Benar kata orang jangan terlalu membenci seseorang jika tidak ingin jatuh cinta kepada-nya. Dan semua itu dibuktikan oleh Sinta. Ia pun akhirnya berpasangan dengan seorang pria yang merupakan gurunya.
Sulit dipercaya tapi itulah kenyataannya. Nicholas juga tak begitu mengerti kenapa semua ini terjadi.
"Sepertinya dia sangat besar di dalam sana. Aku jadi tidak sabar untuk menunggu kehadirannya," ucap Sinta sambil mengusap perutnya.
Sinta tengah hamil tua dan alasan itu pulalah Nicholas tidak ingin bekerja. Ia lebih memilih untuk menemani sang istri yang tengah hamil di rumah.
Sinta pun sangat amat terharu dengan keputusan yang diambil oleh Nicholas.
"Iya sayang. Pasti anaknya di dalam sehat makanya kamu juga aktif."
Sinta terkekeh mendengar ucapan sang suami. Ia sangat mengharapkan hal itu dan semoga saja apa yang dikatakan oleh Nicholas benar terjadi.
"Kapan kita akan menjadi seorang ayah? Kenapa sangat lama ia belum juga keluar?" tanya Sinta lirih.
Nicolas yang mendapatkan pertanyaan itu tertawa. Ia pun memeluk tubuh Bella dan lalu kemudian mengecup kening wanita itu dengan cukup lama.
"Sabar sayang."
Sinta pun mengangguk. Ia pun menarik napas panjang. Dan tak berapa lama ia pun merasakan rasa sakit yang luar biasa dari perutnya.
Sinta lantas mengusapnya.
"Perut Sinta sakit."
Nicholas pun panik dan lekas membawa Sinta ke rumah sakit. Ia pun juga turut menghubungi keluarganya.
Di rumah sakit, Sinta terpaksa harus melakukan operasi karena bayi yang tengah di kandungnya dalam keadaan sungsang.
"Sayang, bertahanlah," ucap Nicholas yang mencoba untuk menguatkan Sinta.
Sinta pun mengangguk. Ia berusaha untuk mengikuti setiap instruksi yang diberikan oleh dokter dan juga suaminya.
Sementara itu Nicholas hanya berani menatap wajah istrinya dan sama sekali tak berani melihat ke arah dokter yang tengah melakukan operasi.
Sinta dalam keadaan sadar dan wanita itu juga enggan menatap ke bawah.
Hingga tak lama anak dari mereka pun lahir juga ke dunia. Bayi yang masih merah itu diperlihatkan kepada Nicholas.
Bella yang masih sadar pun turut melihat anaknya.
"Ternyata dia adalah seorang laki-laki. Selamat datang baby Gaara Antoneta."
___________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN KOMEN.