One Night Incident With My Teacher

One Night Incident With My Teacher
Part 17



Nurul tersengal-sengal dan hendak pingsan saat mengetahui jika orang yang telah menghamili putrinya adalah Nicholas. Ia begitu mengagumi Nicholas dan sungguh tak menyangka jika ialah yang telah membuat anaknya mengandung.


Nurul menggelengkan kepala tak percaya. Sungguh kejutan yang luar biasa bagi dirinya. Tak pernah terpikirkan oleh Nurul bahwa orang yang ia percayai untuk menjaga anaknya malah menghancurkan hidup anaknya.


"Saya menyuruh kamu menjaga anak saya. Saya mempercayakan anak saya ke kamu. Tapi kamu malah melecehkan anak saya. Kamu benar-benar keterlaluan. Saya akan menutut kamu ke pengadilan. Tak peduli kamu anak orang terkaya di kota ini. Saya tidak takut. Demi anao saya, saya rela melakukan apapun."


Sinta terharu mendengarnya. Perempuan itu pun memeluk tubuh ibunya. Ia tak pernah menyangka jika ibunya akan begitu sangat mencintai dirinya.


"Mama. Tapi aku sudah memaafkan dia. Dan aku sekarang mencintai Bapak Nicholas."


Wajah Nurul memerah. Wanita itu membalikan tubuhnya dan mengamati Sinta dengan tatapan tak percaya.


"Apa yang baru saja kau katakan Sinta? Kau mencintai dia? Kenapa bisa?"


"Sinta juga tidak tahu."


Nicholas pun menarik napas panjang. Ia sudah siap dengan segala konsekuensinya.


"Saya akan meminta izin kepada orang tua saya untuk menikahi Sinta."


Sinta pun mengangguk. Memang tak ada pilihan lain selain pernikahan. Nurul yang tahu jika mereka saling mencinta lantas tak ada pilihan lain jika memang harus menikah dengan Nicholas.


"Saya lelah. Saya ingin tidur. Kalian berdua membuat ku pusing."


Sinta menarik napas panjang dan menatap ibunya yang perlahan hilang dari pandangannya. Masih tak menyangka jika semua ini akan terungkap pada akhirnya.


Ada sedikit ketenangan dan ada juga sedikit ketakutan pada diri Sinta. Ia menjadi orang yang sangat hambar dan tak tahu harus melakukan apa.


Nicholas setia berdiri sembari memperhatikan Sinta yang sekarang tengah menangis. Nicholas yang melihat jika Sinta sangat putus asa membuat dirinya langsung merasa sangat bersalah.


Nicholas meraih tubuh Sinta dan lalu memeluk tubuh wanita itu dengan sangat dalam. Ia menyembunyikan kepalanya di lekukan leher Sinta.


"Apakah saat ini kamu akan membenci ku?"


Sinta tersenyum tipis. Tak mudah bagi dirinya untuk melupakan kenangan begitu saja.


"Sinta percaya dengan semuanya. Sinta tak pernah menyesal. Jika ini adalah keputusannya maka Sinta akan menerimanya," ucap Sinta dan kemudian mengusap rambut Nicholas dengan perasaan yang amat peduli.


Ia tersenyum bahagia. Inikah rasa lega setelah selama ini ia selalu dihantui dengan rasa ketakutan.


"Apakah tamparan tadi sakit?" Nicholas menyentuh pipi Sinta yang maisi meninggalkan jejak merah. Melihat hal itu sungguh membuat Nicholas tak tega.


Semua ini karenanya yang lambat melerai semua hingga Sinta pun menjadi korbannya. Entahlah mungkin benar dia adalah seorang yang sangat pengecut.


"Tidak apa-apa."


Nicholas mengangguk. Ia merasa bangga kepada Sinta yang perlahan bisa menerima takdirnya.


Laki-laki itu menatap ke arah perut Sinta. Ia mengusap perut tersebut dengan rasa haru yang luar biasa.


"Anak Papa kuat di sana. Pasti kamu ketakutan yah tadi? Maafkan Papa yang yang tidak bisa melindungi mama kamu. Tapi percayalah, Papa sayang mama kamu."


Alunan nada Nicholas begitu menenangkan. Wanita itu terbuai setiap mendengar kata yang keluar dari mulut Nicholas.


"Terima kasih untuk perhatian selama ini. Aku bangga mempunyai kamu di dekat ku."


___________


Nicholas pulang untuk pertama kalinya ke rumah utama setelah sekian lama. Ia dihukum oleh orang tuanya karena ketahuan dulu membuat masalah di perusahaan.


Sang ibu yang melihat Nicholas datang pun tersenyum lebar. Ia menghampiri anaknya sembari mengamati pria itu dengan detail.


"Kamu benar-benar Nicholas?"


"Ma, apakah selama ini aku pergi Mama melupakan aku. Kenapa Mama mudah sekali melupakan seseorang?" tanya Nicholas seraya memeluk tubuh ibunya.


Ibunya membalas pelukan tersebut dan mengusap surai Nicholas. Saking rindunya, bahkan ia sampai meneteskan air mata.


"Kamu sih tidak pulang ke rumah."


"Papa kamu yang melarang. Kamu kaya tidak tahu saja dia seperti apa."


Nicholas pun teridam. Sekejam itu kah ayahnya bahkan sampai ibu kandungnya sendiri yang ingin menjenguk dirinya pun dilarang oleh pria tua itu.


"Apakah dia benar-benar melarang Mama? Kenapa Papa begitu tega kepadaku. Apakah aku benar-benar anaknya?"


"Hus, kenapa berkata seperti itu."


"Aku meragukan nya karena dia begitu sangat tak mempunyai hati kepada anak kandungnya sendiri."


Sang ibu pun terkekeh dan melepaskan pelukannya pada Nicholas. Ia memandangi tubuh Nicholas mencari luka di tubuhnya.


"Kamu baik-baik saja, kan?"


"Hm."


"Ah, ya ayah mu sebenarnya sangat merindukan mu. Dia sering kali diam-diam menatap foto mu."


Nicholas yang mendengar itu sangat geli. Mana mungkin pria tua itu bisa merindukan seseorang.


"Kamu tidak percaya. Ya sudah jika kau tak percaya pada ibu mu sendiri."


"Baiklah. Untuk saat ini percaya kepada mu," ucap Nicholas seraya tertawa melihat ekspresi ibunya yang sedikit cemberut.


"Sini duduk. Kenapa kamu datang kemari?" tanya Rere yang mendudukkan anaknya di sofa.


Nicholas pun canggung. Ia masih bingung harus mengatakan seperti apa kepada ibunya.


Nicholas pun menarik napas panjang.


"Ma, Nicholas sudah menghamili anak orang. Sekarang Nicholas ingin menikahi dia."


Mata Rere langsung membulat. Ia memandang anaknya dengan tak menyangka. Rere mengamati Michel dari atas hingga bawah.


"Apa yang kamu katakan Nicholas? Kamu menghamili anak orang? Apa kamu sudah gila? Jika ayah mu tahu dia akan membenci mu," ucap Rere seraya mundur. "Kau benar-benar keterlaluan."


"Maafkan aku."


Rere memegang kepalanya bingung. Ia hendak menangis mendengar kabar itu.


"Kau benar-benar membuat ku pusing," ucap Rere. "Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau akan menikahinya? Yang benar saja. Siapa dia? Kamu tidak bisa menikahi orang dengan sembarangan."


"Dia adalah murid ku sendiri."


"NICHOLAS!!" teriak Rere marah dan langsung memukul pipi Nicholas dengan kekuatan penuh.


Matanya membulat dan wanita itu merasa jika tubuhnya sangat lemas dan hampir saja pingsan.


"Kamu benar-benar Nicholas! Kamu melakukan pelecehan? Bagaimana jika kamu akan dituntut oleh mereka?"


"Ma!" Nicholas langsung menangkap tubuh ibunya yang hendak terjatuh.


"Nicholas, kenapa kamu benar-benar sangat keterlaluan."


"Ma, percayalah tapi Nicho mencintai dia. Dan Sinta juga mencintai Nicholas. Aku sudah memintanya kepada orang tuanya."


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kak terjadi sesuatu kau yang akan menanggung semuanya."


Nicholas pun mengangguk mantap.


"Ma, mama harus menerimanya karena dia sedang mengandung cucu Mama."


______


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.