
Sinta membuka matanya. Ia merasa sangat pusing dan berusaha agar bisa menatap dunia ini dengan luas. Wanita itu menarik napas panjang dan beranjak dari rebahannya. Ia pikir dirinya saat ini sedang berada di rumah dan tak menyadari dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Wanita itu menghela napas panjang dan menyibak selimut. Tapi ia sangat terkejut saat ada guru killer di sampingnya. Sontak Sinta membulatkan matanya.
Ia pun teringat dengan semalam. Hati Sinta sangat hancur saat menyadari apa yang tengah terjadi padanya. Apalagi saat ini ia tak mengenakan pakaian dan kian menguatkan dugaan tersebut.
Hati Sinta bak diremas dengan sangat kuat oleh kenyataan. Wanita itu pun menangis dan berusaha untuk turun dari atas ranjang dengan pelan-pelan agar tak menimbulkan rasa nyeri pada area pribadinya.
Dengan sangat hati-hati Sinta berjalan dan memunguti semua pakaiannya agar tak membangunkan Nicholas.
Rasanya sangat tak percaya jika pria itu lah yang akan merenggut kesuciannya. Nicholas memang tak dapat disalahkan, tapi seharusnya sebagai pria yang berakal dan seorang guru, bukan mencari kesempatan dalam kesempitan. Seharusnya Nicholas bisa menghentikan dirinya.
Tapi semuanya sudah terjadi dan menangisi apa yang telah menjadi masa lalu bukanlah hal yang baik.
Namun rasa penyesalan lah yang membuat ia tak kuasa menangis. Ia menyesal karena telah hadir. Apalagi saat ia tahu bahwa biang keroknya adalah teman-temannya sendiri.
Setelah apa yang terjadi padanya barulah Sinta pun sadar jika apa yang ia minum tadi malam adalah obat perangsang. Memang mereka sangat keterlaluan telah mengerjai Sinta dan parahnya sampai ke titik ini.
Sinta tak bisa memaafkan perbuatan mereka. Mungkin nanti dia akan menuntut mereka. Tapi memikirkan cara memberitahukan orang tuanya saja telah membuat Sinta bingung harus mengatakan apa kepada mereka.
Sinta pun menarik napas panjang dan kemudian memakai semua bajunya. Sekali lagi ia memandang ke arah ranjang UKS yang penuh dengan darah.
Menyaksikan hal tersebut sangat menyakiti hati Sinta. Ia pun membuang muka dan berjalan menggunakan ruangan UKS.
Biarlah sisanya Nicholas yang menanggung dan harus membersihkan tempat tidur tersebut.
Ia berjalan teratih-atih. Sinta berusaha untuk mencari jalan aman dan keluar dari sekolah ini. Terlebih lagi setelah pesta malam tadi masih menyisakan banyak orang yang berada di sekolah.
Mungkin mereka akan heran karena melihat Sinta yang berpakaian acak-acakan.
Siang nanti pun masih ada lagi acara. Sinta tak mood untuk pergi dan lebih baik ia memilih untuk mengurung diri di rumah.
"Mereka benar-benar licik karena sudah menjebak aku di situasi seperti ini." Air matanya pun jatuh. Rasa pengkhianatan kepada dirinya benar-benar sangat dirasakan oleh Sinta.
Ia ingin mereka semua meresahkan akibat dari menjebaknya. Ia membuka ponselnya dan melihat panggilan dari sang ibu yang beberapa kali masuk.
Ia tahu pasti ibunya sangat mengkhawatirkan dirinya. Dan ia juga membaca pesan bahwa sang ibu menjemput ia tadi malam.
Demi agar tak membuat sang ibu marah, Sinta pun menelpon ibunya.
"Halo Ma."
"Kamu ini dari mana saja? Mama khawatir, mama baru aja mau pergi ke kantor polisi mau laporin orang hilang. Kamu tahu perasaan mama saat ini? Jantung mama mau copot."
"Iya Ma maafkan Sinta. Sinta tadi malam tidur di rumah teman Sinta." Sinta sengaja mencari alasan.
"Kalau mau tidur di rumah teman itu bilang-bilang. Jangan buat orang tua khawatir sama kamu. Dasar kamu ini."
"Iya Ma. Sekarang juga Sinta pulang."
"Ha pulang cepat. Biar mama bisa marahin kamu sepuasnya."
Sinta pun memandang ponselnya dan mematikan ponsel tersebut. Ia menarik napas panjang dan memejamkan matanya. Kemudian air mata pun jatuh ke pipinya.
"Maafkan aku Mama."
_____________
Sinta tak lagi sama seperti wanita yang lainnya. Ia lebih banyak berdiam dan tak peduli dengan sekitar. Itu adalah hal yang wajar bagi orang yang baru saja mengalami pelecehan.
Wanita itu tak lagi mempunyai gairah hidup hingga sang ibu sendiri pun sampai heran kenapa Sinta tiba-tiba mengalami hal tersebut.
Ia ingin berkomunikasi dengan sang anak tapi Sinta berusaha untuk menutup dirinya dari banyak orang. Wanita itu bahkan tak lagi peduli dengan dunia luar.
Hari-hari memang berjalan seperti biasanya. Tapi memang sangat tampak ada yang berbeda dari Sinta.
Nicholas yang biasanya akan marah jika Sinta berperilaku seperti itu tapi kini pria itu tak lagi menegurnya karena memang ia tahu apa yang terjadi pada Sinta.
Tak ada alasan yang kuat untuk memarahi Sinta karena semua ini terjadi disebabkan oleh dirinya yang tak bisa mengontrol diri.
"Bapak! Sinta melamun!!" teriak Melani kepada Nicholas.
Ia mengira Nicholas akan memarahinya. Selain itu Melani cs tak tahu jika orang yang telah membuat Sinta seperti itu adalah Nicholas.
Nicholas pun memandang ke arah Sinta dan menarik napasnya panjang. Ia menundukkan kepala karena sangat merasa bersalah kepada Sinta.
"Anak-anak tugas yang kemarin antar ke depan."
Mereka pun lantas mengantar tugas tersebut. Sementara itu Melani tak dihiraukan oleh Nicholas.
Memang wanita itu sangat licik dan bahkan Nicholas sendiri merasa muak dengan perempuan tersebut.
Ia sudah tahu jika orang yang memberikan obat perangsang kepada Sinta adalah mereka.
"Bapak! Kenapa bapak biarin Sinta sih?"
"Kamu sendiri dar tadi bermain, apakah tidak sadar. Mana tugas kamu?"
Melani dan gengnya pun gelagapan. Mereka mencari alasan tapi sayangnya semua alasan itu sudah basi.
"Tidak perlu berdalih karena saya juga tahu apa jawabannya," ujar Nicholas.
"Sinta juga tidak mengerjakan."
Nicholas memandang Sinta yang tertidur.
"Sinta sudah mengantar semalam," bohongnya untuk menyelamatkan Sinta.
Mereka semua terkejut karena Sinta sangat rajin. Sementara itu Sinta yang sebenarnya tidak tidur tersebut merasa muak dengan Nicholas.
"Untuk tugas Minggu depan catat halaman dua ratus sepuluh sampai dua ratus dua puluh."
Mata mereka melotot terkejut.
"Bapak?!!"
"Tidak ada bapak-bapak. Kerjakan!!"
Bel tanda pulang pun berbunyi. Mereka pun akhirnya merasa senang karena akhirnya bel yang ditunggu-tunggu itu pun berbunyi.
Setelah mendengar bel tersebut, Nicholas langsung memulangkan mereka.
Tinggal Sinta di kelas itu yang sengaja menunggu Nicholas keluar baru ia pulang.
Tapi, Nicholas malah menghampiri Sinta.
"Maafkan saya. Saya akan tanggung jawab jjka terjadi sesuatu sama kamu."
Sinta mengangkat kepalanya. Ia tersenyum meremehkan. Bagaimana pun ia tegar matanya tak bisa dibohongi jika saat ini ia berkaca-kaca.
"Semuanya sudah terlambat." Sinta pun pergi dengan pura-pura tak melihat Nicholas.
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.