One Night Incident With My Teacher

One Night Incident With My Teacher
Part 8



Karena melihat Sinta yang sangat kesakitan membuat Nicholas pun mengambil keputusan untuk membawa Sinta langsung ke rumah sakit.


Ia tak tega mendengar rintihan yang keluar dari mulut Sinta. Teman-temannya Sinta pun merasa tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Nicholas.


Nicholas yang mereka tahu selalu memarahi Sinta dan tak segan-segan akan memberikan hukuman kepada pria itu.


Melani memandang Margaretha yang berada di sampingnya. Dari tadi mereka hanya memperhatikan Sinta yang dibawa masuk ke mobil Nicholas.


"Kamu merasa tidak kalau Pak Nicholas jadi baik banget ke Sinta? Tapi ke kota malah tidak. Padahal Sinta makin malas," ucap Melani pada Margareth.


"Mungkin Sinta pake dukun kali." Melani tak percaya dengan jawaban Margaretha.


"Apaan sih. Zaman kaya gini masih percaya gituan."


"Bercanda."


Melani pun menarik napas panjang. Ia memandang ke arah Margaretha tak habis pikir.


"Kamu merasa tidak kalau tadi Sinta kaya tanda-tanda orang mau hamil?" tanya Melani yang menaruh rasa curiga kepada sakit perut Sinta.


Apalagi mereka ingat dengan kejadian pesta ulang tahun sekolah kemarin.


Margaretha pun terbawa-bawa pikiran aneh-aneh Melani. Dia menatap ke arah sahabatnya tersebut.


"Jangan-jangan... Terjadi sesuatu lagi pas malam pesta itu."


"Yakan emang terjadi sesuatu. Kita lihat sendiri kalau Sinta dibawa om-om ke dalam kamar."


Margaretha pun menutup mulutnya. Ia memandang ke arah Melani dengan tatapan yang sangat terkejut sekaligus tersenyum tipis.


"Ish tuh si Sinta si sok suci akhirnya gak suci lagi, kan."


"Hahahaha rasain," ucap Melani yang memang dari awal dia sangat tersinggung dengan ucapan Sinta.


___________


Sinta memandang ke arah Nicholas yang berada di depan. Ia tak ingin dibawa oleh pria ini, akan tetapi ia tak bisa menolak karena dirinya sudah terlanjur sakit perut hingga tak bisa berkata-kata.


Sakit perut kali ini sangat berbeda. Entah apa yang terjadi pada diri Sinta, Sinta harap ini bukanlah hal yang serius. Maka dari itu ia berpikir jika di bawa ke rumah sakit itu adalah hal yang sangat lebay, karena Sinta merasa jika ia hanya sakit perut biasa.


"Pak tolong antar ke rumah saya saja."


Nicholas melirik Sinta dari kaca di depan. Ia pun menarik napas panjang dan sambil fokus menyetir.


"Kamu sangat kesakitan. Saya tidak tega dan akan membawa kamu ke rumah sakit terdekat."


"Tapi saya ini sakit perut biasa. Kenapa Bapak sangat terlihat berlebih."


Jika terus menjawab bantahan Sinta mungkin ini tak akan habisnya. Jadi Nicholas pun lebih memilih diam dan terus melakukan mobilnya ke arah rumah sakit.


Sinta yang tak berdaya pun akhirnya memilih pasrah saja. Ia memejamkan matanya dan berusaha untuk tetap kuat dengan rasa sakit yang saat ini tengah dialami oleh wanita itu.


Hingga pada akhirnya ia merasa jika mobil telah terparkir. Sinta menatap ke arah jendela mobil dan melihat gedung rumah sakit yang sangat tinggi.


Ia berusaha untuk bangun tapi rasa sakit yang meremas perutnya membuat Sinta hanya bisa merintih hingga Nicholas membukakan pintu untuk Sinta lalu mengangkat tubuh Sinta.


"Tahan, sebentar lagi aku akan membawa mu ke rumah sakit. Tak perlu merasa khawatir."


Sinta hanya mengangguk ke arah Nicholas. Ia pun memejamkan matanya dan merasakan tubuhnya melayang di udara.


_________


Nicholas terdiam. Pria itu menatap hasil USG dengan tatapan kosong. Smenetara itu untuk saat ini Sinta tak sadarkan diri.


Tubuhnya terasa sangat lemas karena melihat hasil USG tersebut. Nicholas tak menyangka dengan apa yang saat ini berada di depannya.


Percaya tidak percaya tapi itulah kenyataannya. Ia tak ada pilihan lain selain harus menerima kenyataan tersebut.


Nicholas pun menarik napas karena sempat berpikir tidak akan terjadi apapun sebab tak ada tanda-tanda dalam sebulan ini bahwa Sinta akan hamil.


Dan sekarang ia malah dikejutkan jika kandungan Sinta saat ini lebih dari satu bulan. Apakah Sinta sendiri tak menyadarinya?


"Maaf Pak? Apakah anak ini masih sekolah dan MBA?" tanya Dokter tersebut dengan sangat khawatir.


Melihat tubuh Sinta yang kecil dan terlihat lemah membuatnya rentan mengalami banyak masalah saat masa kehamilannya.


Dokter itu khawatir jika Sinta tak akan sanggup untuk menjalankan masa-masa kehamilan tersebut.


"Ya."


"Anda gurunya?" Nicholas mengangguk. "Tolong jaga aibnya. Dan jika dia hamil karena pelecehan segera buat laporan. Ini akan berbahaya kepada mental seorang anak. Ah, iya jangan lupa ke ruangan saya untuk saya jelaskan hal-hal yang paling rentan pada kehamilan di usia muda sekalian saya akan memberikan beberapa obat untuk adeknya."


"Baik."


Nicholas pun mengikuti dokter kandungan tersebut ke ruangannya.


Smenetara itu Sinta masih terpejam di atas tempat tidur dengan ditemani beberapa suster yang masih mengurus kesehatan Sinta yang saat ini menurun.


Wanita itu diketahui tengah mengalami depresi yang membuat Sinta cenderung mengalami masalah saat masa kehamilannya.


__________


Sinta membuka matanya. Wanita itu sangat terkejut dengan suasana ruangan yang penuh dengan warna putih.


Ia menatap ke sekitar dan sadar jika saat ini ada infus yang melekat di tangannya.


Sinta menghela napas panjang dan ingat saat ini dirinya berada di rumah sakit yang dibawa oleh Nicholas.


Ia mencari keberadaan Nicholas dan melihat jika pria itu tengah tertidur di sofa.


Sinta masih antara percaya dan tak percaya jika Nicholas yang dulu garang kini sanggup untuk menunggu dirinya sadar.


Tiba-tiba Sinta terbatuk-batuk. Dan hal itu membuat Nicholas terbangun. Proa tersebut mengucek matanya dan menatap ke arah Sinta.


Melihat Sinta yang sudah sadar membuat ia langsung berdiri dan menghampiri wanita itu.


"Kamu butuh apa biar saya ambilkan."


Sinta memandang ke arah gelas yang berisi air putih. Nicholas yang melihat itu langsung mengambilkan gelas tersebut dan membantu Sinta minum.


Sinta memandang heran ke arah Nicholas. Pria itu amat perhatian dan tampak seperti bukan gurunya.


"Aku tak membutuhkan apapun. Aku ingin pulang ke rumah."


"Kamu belum bisa karena kamu harus dirawat di sini sampai malam."


Mata Sinta membulat. Ia akan dirawat sampai malam? Yang ada ibunya akan khawatir di rumah.


"Mama ku pasti marah."


"Tenang saja. Saya sudah menelponnya dan kebetulan Mama kamu lagi di luar kota, kan? Kamu lupa?"


Sinta tak lagi bisa mencari alasan. Ia pun menghela napas panjang dan kembali merebahkan diri di ranjang rumah sakit. Sejujurnya ia penasaran sakit perutnya tadi karena apa.


Nicholas yang sadar dengan kecemasan Sinta pun berpikir untuk memberitahukan wanita itu. Lagipula Sinta memang harus tau dengan kehamilannya.


"Saat ini kamu sedang mengandung anak saya. Saya akan bertanggung jawab."


_______


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.