
Sinta menatap tajam mereka berdua yang terpergok sedang berduaan. Lebih tepatnya memergoki Melani yang kecentilan.
Melani tampak sangat kesal kepada Sinta. Sinta hanya tertawa pelan melihat ekspresi yang ditunjukan oleh wanita itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sinta sengaja berpura-pura ingin mendengar jawaban mereka.
Nicholas hanya diam dan menunggu Melani yang menjawab. "Kamu terlalu banyak tanya. Pergi dari sini!" usir Melani.
"Seharusnya yang pergi adalah orang yang tak memiliki moral seperti diri mu," ucap Sinta kepada Melani yang sengaja menyinggung wanita itu.
"Apa yang dikatakan Sinta benar. Kau benar-benar keterlaluan kepada guru mu. Pergi dari sini, saya sangat muak melihat seorang murid yang tidak tahu sopan santun kepada gurunya."
Melani menatap ke arah Nicholas dengan kecewa. Perempuan itu tampak ingin memprotes Nicholas.
"Kenapa aku?"
"Kamu benar-benar tidak menyadari apa kesalahan kamu? Kamu adalah seorang wanita yang bermoral, akan tetapi kenapa kamu rela ingin menyerahkan tubuh kamu kepada orang lain? Bahkan itu ke guru kamu sendiri. Saya adalah orang yang terhormat, tapi kamu membuat saya menjadi rendah. Sebelum saya akan melaporkan perbuatan kamu, sebaiknya kamu pergi dari sini."
Melani pun menarik napas panjang. Dengan rasa kecewa wanita itu pun pergi sambil melirik Sinta sekilas.
Sinta hanya menaikkan satu aslinya. Apa salah dirinya?
Kemudian ketika Melani telah pergi Nicholas menatap Sinta dengan senang lama. Pria itu tersenyum tipis dan menghampiri Sinta.
"Sinta. Kamu melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi."
"Aku hanya melihatnya sebentar," ucap Sinta yang berpura-pura mengambek. "Kenapa ketika aku memergoki baru mengusirnya. Kenapa tidak dari tadi?" tanya Sinta kepada pria itu.
Posisi Nicholas saat ini benar-benar sangat serba salah. Pria itu menggaruk keningnya. Entah seperti apa ia harus menjelaskan kepada Sinta.
"Sinta apakah kamu belum paham juga dengan apa yang terjadi?"
Sinta pun memandang ke arah Nicholas. Ia menyeringai lalu tertawa setelah berhasil mengerjai Nicholas dan membuat pria itu tampak ketakutan.
"Hahahaha."
"Kenapa kamu tertawa?"
"Bapak lucu. Dedek bayinya juga ikutan gemas sama Papanya," ucap Sinta dan langsung membuat Nicholas ikut tertawa.
"Kamu benar-benar menyebalkan," ucap Nicholas sembari melangkah mendekati wanita tersebut.
Entah kenapa cerita dirinya dan Sinta sangat terlihat konyol. Ia adalah wanita yang dulunya sangat membangkang dan juga membenci Nicholas. Pun sama dengan Nicholas yang sangat tak ingin melihat muridnya tersebut karena berhasil membuat ia pusing kepala.
Bahkan kenakalan Sinta di sekolah lebih parah dari Melani dan Margaretha.
"Ini keinginan dedek bayi," jawab Sinta yang mencari alasan.
Nicholas lantas menggelengkan kepala. Sinta selalu memilah alasan untuk menjawab dirinya. Ia pun mengamati Sinta dengan lamat-lamat lalu mengangguk. Sudah bisa ditebak dari raut wajah Sinta jika perempuan itu hanya berbohong.
"Saya tidak percaya. Kasian anak kita ketika masih kecil sudah dikambinghitamkan oleh ibunya sendiri."
"Apakah aku salah?"
"Kamu belum menyadarinya?" Kemudian Nicholas mendekatkan bibirnya ke telinga Sinta. "Yakin kamu tidak ingin ke ruangan saya?"
Sontak Sinta menatap berbinar ke arah Nicholas. Ia pun bertepuk tangan bahagia.
"Kamu ingin mengajak aku untuk pergi ke ruangan mu?" Masih saja beryanya padahal sudah sangat jelas ia tadi mengajak wanita itu.
Nicholas pun pergi lebih dulu tanpa mau menjawab pertanyaan Sinta.
Sinta yang melihat itu langsung menggaruk kepalanya. Wanita itu sebenarnya sedikit kebingungan tapi tetap saja memutuskan untuk mengikuti Nicholas.
"Tunggu aku!"
"Kamu lambat Sinta!"
____________
Pulang sekolah bukannya mengantarkan Sinta ke rumahnya, akan tetapi pria itu membawa Sinta pergi ke dokter kandungan.
Setelah selesai di dokter kandungan pria itu juga belum mengantarkan Sinta. Dia menyempatkan diri untuk singgah di rumahnya.
Sinta yang sudah dimabuk cinta itu pun setuju kepada Nicholas. Bahkan tak ada perlawanan dari dirinya kepada pria itu.
"Mau aku bukain pintunya atau turun sendiri?" tanya Nicholas menyempatkan diri.
Duh kenapa sih si mama jutek banget," ucap Nicholas yang tak mengerti dengan ekspresi yang ditunjukan oleh Sinta.
Ia pun turun dari mobilnya dan mengitari mobil itu lalu membukanya untuk Sinta. Sinta hanya menatap sebentar Nicholas lalu keluar dan masuk ke rumah pria itu lebih dulu.
Nicholas hanya menarik napas panjang. Selalu saja seperti itu, Sinta bahkan tak peduli dengan perbuatan semena-mena dirinya.
"Sinta!"
"Hm!"
"Kamu ninggalin saya."
"Bapak yang lambat."
Nicholas terkekeh dan langsung mengangkat tubuh Sinta. Sinta terpekik kaget saat ia merasa jika tubuhnya melayang di udara. Wanita itu berharap jika ia akan baik-baik saja dan Nicholas tak akan terjatuh saat menggendongnya. Bagaimana pun saat ini Sinta tengah mengandung dan wanita itu sangat mencemaskan bayi yang dikandungnya.
"Bagaimana enak tidak?"
"Aaa pelan-pelan. Nanti baby nya kenapa-kenapa."
"Tidak perlu khawatir."
Nicholas langsung masuk dan membawa Sinta ke kamarnya. Ia pun menatap ke arah ranjangnya. Ranjang itu pertama kali ia tinggalkan saat percintaan panas mereka.
Nicholas merebahkan Sinta di atas ranjang tersebut dan berbaring di samping Sinta. Ia meletakkan tangannya dan menjadikan tumpuan.
"Kangen kamar ini?"
Sinta menatap ke setiap sudut ruangan tersebut yang masih sama. Ia pun menganggukkan kepalanya.
"Iya aku merindukan ruangan ini. Terlahir kali kita di sini ngapain yah?"
"Lagi jengukin dedek bayi."
Pria itu lantas menatap wajah Sinta dengan seksama. Kenapa ia harus sadar baru sekarang bahwa Sinta sangat cantik.
"Kamu masih membenci saya? Dulu kamu mengatakan jika saya adalah guru killer."
"Memang guru killer. Tidak percaya?" tanya Sinta.
"Heh. Saya itu seperti itu untuk kamu."
"Bapak kenapa tadi menyobek kertas ulangan saya."
"Karena kamu kelahi."
"Kan lagi diejek sama si Melani masa tidak mengerti," kesal Sinta kepada pria itu.
Pertengkaran demi pertengkaran pun terjadi. Pertengkaran tersebut hanyalah pertengkaran kecil yang dapat membuat hubungan mereka semakin erat.
"Sudah-sudah. Dedek bayinya kasian dengerin orang tuanya bertengkar." Nicholas menyusupkan tangannya ke saku baju Sinta lalu mengusap perut wanita itu yang kian membuncit walau tak terlalu nampak.
"Kira-kira apakah tetap akan seperti ini sampai Sinta tamat?"
"Tidak mungkin. Tapi saya harap seperti itu."
Nicholas mengecup kening Sinta.
"Sebelum pulang gak mau kasih jatah ke saya." Mata Sinta memicing.
"Ada syaratnya, bapak harus mengerjakan sertaus soal fisika." Nicholas terkejut. Ternyata hukuman yang akan ia berikan kepada Sinta malah akan menjadi bumerang bagi dirinya.
"Jika saya tidak mau?"
"Tidak ada jatah."
"Baiklah," jawab Nicholas yang pasrah dan mengerjakan tugas tersebut. Mau tidak mau karena ini demi mendapatkan kebutuhan seorang lelaki.
________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.