One Night Incident With My Teacher

One Night Incident With My Teacher
Part 12



Sinta terbangun dan sudah dalam kondisi bugil. Ia tak terkejut dengan keadaannya karena memang semalam adalah pengalamannya yang ia lakukan secara sadar dengan pria itu.


Sinta pun tak berniat untuk menghentikannya karena memang ia menikmatinya. Baru ia ketahui jika bercinta adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.


Entah ke mana perasaan marah Sinta kepada Nicholas. Perasaan itu mungkin sudah melebur menjadi rasa kagum kepada laki-laki tersebut.


Kagum akan ketampanan dan kehebatan Nicholas. Benarkah ini dulu adalah gurunya yang sangat jarang dan suka menghukum Sinta?


Sinta tersenyum lebar dan mendekatkan wajahnya pada Nicholas. Ia pun lalu mengecup bibir pria tersebut yang sempat menjadi candu bagi dirinya.


Nicholas masih tertidur dan tak sadar apa-apa. Pria itu bahkan tak membuka matanya sama sekali saat tubuhnya dimainkan oleh Sinta.


Wanita itu merasa gemas dengan Nicholas. Terutama dengan perut kotak-kotak yang dimiliki oleh Nicholas. Seolah itu sudah menjadi candu bagi Sinta untuk menyentuhnya terus menerus.


Hingga rasa geli lah yang menerjang Nicholas hingga laki-laki tersebut membuka mata dan sadar dengan kelakuan Sinta.


Ia menatap ke arah Sinta dengan tatapan yang sangat tajam. Namun wajah polos Sinta malah membuatnya yang semula ingin marah-marah tapi malah menjadi luluh kepada wanita itu.


"Apa yang kau lakukan? Kau sangat nakal."


Sinta beralasan, "ini semua karena keinginan anak ku."


"Keinginan baby atau keinginan mamanya?" Sinta pun menjadi malu dan menyembunyikan diri.


Pria itu terkekeh melihat rekasi Sinta yang sangat menggemaskan di matanya.


"Kau benar-benar sangat menggemaskan Sinta." Nicholas pun menyentuh wajah Sinta lalu mencubitnya membuat Sinta melenguh kesakitan.


"Bapak, sakit."


"Saya baru sadar jika kebutuhan biologis saya dipenuhi oleh murid saya sendiri."


Ya Tuhan kenapa Nicholas benar-benar sangat menyebalkan. Ia kan menjadi malu sendiri.


"Apaan sih Bapak. Gak tau malu apa?"


"Kenapa malu? Kan cuman ada kamu. Jadi saya gak malu."


Sinta pun memerah dan menyembunyikan dirinya agar tak ketahuan oleh Nicholas bahwa saat ini ia benar-benar merasa sangat salting parah.


"Bapak, ih gak punya rasa malu Tapi saya benar-benar malu sama Bapak."


"Udah mau punya anak kok masih malu?" ledek Nicholas yang lagi-lagi memicu amarah pada Sinta.


Sinta pun bangun dan turun dari ranjang tanpa mengenakan apapun. Sesungguhnya wanita itu juga tak sadar dengan kondisinya yang bisa membuat kaum Adam sangat tergiur.


Tak luput Nicholas yang langsung meneguk ludahnya. Ternyata muridnya yang nakal benar-benar sangat menggairahkan dan juga seksi.


"Kamu benar-benar penggoda. Lihat kamu sengaja kan membuat saya tergoda."


Sinta membulatkan matanya. Ia baru sadar tak menenangkan apapun. Lekas wanita itu berlari ke dalam kamar mandi dan menutupnya dengan sangat kencang hingga terdengar bunyi yang amat nyaring.


"Apaan sih orang tua itu. Benar-benar tidak tahu malu," gerutu Sinta yang amat sebal kepada Nicholas.


Nicholas di luar sana tertawa kencang. Pria itu pun turun dari ranjang dan memunguti bajunya lalu kemudian pergi ke kamarnya yang ada di seberang.


Sekarang Nicholas semakin yakin untuk menaruh hati kepada Sinta. Tidak ada yang salah dengan wanita itu. Hanya saja Sinta terlalu pemalas yang tak sesuai dengan kriterianya serta umur mereka yang sangat jauh dan tidak edit di pandang oleh masyarakat.


__________


Sinta mengehela napas panjang. Wanita itu sudah berpakaian rapi dan menunggu ayah dan ibunya menjemput.


Nicholas dan Sinta sama-sama tak rela untuk berpisah. Gara-gara tadi malam yang telah menyambungkan perasaan mereka.


"Bilang aja ke Mama kalau kamu mau di sini dan belajar sama saya. Belajar biologi."


Sinta pun memandang ke arah Nicholas yang sama sekali tak memberikan solusi.


"Kan Bapak guru fisika."


"Guru Biologi juga bisa."


"Apaan sih Bapak."


Sinta memicingkan matanya menatap ke arah Nicholas.


"Tapi ada syaratnya."


"Syarat?" bingung Nicholas.


"Bapak gak boleh lagi kasih tugas ke Sinta. Sinta gak mau kerjain."


"Tapi kan itu untuk kamu."


"Tapi Sinta merasa tidak begitu," ucap Sinta sambil mengerucutkan bibirnya.


"Oh iya, Bapak kok bisa punya rumah besar. Kan Bapak cuman guru."


"Kamu lupa kalau saya adalah anak dari pengusaha terkaya di kota ini?" Nicholas sengaja menyombongkan diri kepada Sinta.


Sinta yang mendengar hal tersebut hanya memutarkan bola matanya malas. Tampaknya sifat narsis Nicholas mulai hadir.


"Iya-iya orang terkaya," ucap Sinta malas.


"Hehehe. Lagi dihukum sama Papa buat jadi guru karena melakukan kesalahan. Terus gak nyangka bakal punya bayi sama murid sendiri," ucap Nicholas membuat Sinta tak habis pikir.


Ia pun menggaruk kepalanya karena merasa malu dengan Sinta.


"Kenapa? Kamu tidak senang jika ayah dari anak kamu ini adalah orang yang seperti ini."


"Lebih tepatnya tidak menyangka."


Tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Hal itu mengejutkan keudanya. Apakah yang di luar sana adalah orang tuanya Sinta?


Sinta lekas menjauh dari pangkuan Nicholas dan menghampiri pintu utama.


Ia kemudian membuka pintu tersebut dan melihat jika ayah dan ibunya tengah menjemput dirinya.


"Sinta kamu tidak apa-apa kan sayang? Kamu baik-baik saja, kan?"


Sinta pun mengangguk beberapa kali. Ia melirik ke belakang ibunya dan melihat sang ayah yang hampir satu tahun tak dilihatnya.


Sinta pun sangat bahagia dan memeluk sang ayah dengan sangat erat.


"Papa Sinta rindu," keluh Sinta dan langsung memeluk tubuh sang ayah.


"Kamu baik-baik kan di sini? Tidak ada terjadi sesuatu kan?" tanya ayahnya memastikan.


"Tentu saja. Sinta dijaga banget sama Bapak Nicholas."


"Kamu hanya berdua?"


Sinta mengangguk. Tatapan sang ayah pun tertuju kepada Nicholas. Ia seolah tengah mengintimidasi pria itu. Nicholas pun sadar dan ia salah tingkah.


"Bapak tenang saja. Anak bapak-bapak baik-baik sama saya."


"Kamu tidak melakukan apapun kepada anak saya, kan?" tanya sang ayah yang membuat Sinta dan Nicholas saling pandang.


"Tentu saja tidak."


Jawaban Nicholas ingin membuat Sinta tertawa. Nyatanya yang ada malah kebalikannya. Tapi untungnya mereka sangat menikmati.


"Papa, nanti Sinta mau di sini kalau Papa pergi."


"Kamu ini jangan kaya gitu. Ini rumah orang, apakah kamu tidak malu?" tanya ibunya.


"Eh tidak apa-apa, Tante. Saya juga sangat berharap jika Sinta di sini temani saya. Dia juga bisa belajar bareng sama saya. Tenang saja saya adalah guru yang sangat bertanggung jawab."


Ucapan Nicholas membuat Sinta ingin tertawa terbahak-bahak.


___________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.