One Night Incident With My Teacher

One Night Incident With My Teacher
Part 16



Semakin hari tentunya perut Sinta tak bisa disembunyikan. Tapi untungnya ia masih bisa mengakali semua itu dengan menggunakan baju yang cukup lebar.


Hal itu sedikit membantu walaupun tak terlalu banyak. Sebab makin lama akan semakin membesar. Sinta tak bisa berpikir jernih dalam beberapa hari ini.


Ia dirundung dengan rasa ketakutan yang terus menggerogoti perasaannya. Segala kemungkinan-kemungkinan yang tak diinginkan oleh Sinta berkelebat di benaknya. Hal itu membuat Sinta ingin menangis jika mengingatnya.


"Apakah aku akan baik-baik saja?" tanya Sinta yang saat ini tengah berada di dalam pelukan Nicholas.


Padahal ia dan Nicholas tadi baru saja mengerjakan tugas fisika milik Sinta. Tapi entah kenapa ia tiba-tiba kepikiran tentang kehamilannya yang tak akan bisa disembunyikan.


"Kenapa kamu selalu berpikir yang sangat jauh? Kamu pasti akan baik-baik saja. Dan anak kita juga akan dapat bersama kita."


"Tapi bagaimana dengan orang tua mu dan orang tua ku? Dia pasti akan marah besar dan tak akan menerima ku."


"Jika tidak ada orang yang menerima mu, maka aku yang akan menerima mu," final Nicholas sembari mengecup puncak kepala Sinta.


Sinta menatap kepada pria yang menyebalkan tersebut. Kenapa ia selalu bisa membuat gombalan dan hingga membuat Sinta memerah.


"Apakah itu benar? Kamu berjanji akan selalu ada untuk ku, bukan?"


"Kapan aku mengingkari janji ku?" tanya Nicholas yang dibenarkan oleh Sinta.


Pria itu memang sangat mencintai dirinya. Bahkan tidak tahu kapan cinta itu bersemayam di hati mereka. Perasaan itu masuk begitu saja di antar keduanya tanpa permisi.


Untungnya mereka menerima cinta tersebut dengan sangat luas hingga saat ini yang ada hanyalah kebahagiaan. Tapi apa yang dirasakan oleh Sinta dan Nicholas selalu saja dibayangi oleh ketakutan.


"Aku sangat lelah. Aku ingin pulang."


Nicholas pun mengangguk. Ia membantu Sinta berdiri. Laki-laki tersebut sangat perhatian kepada Sinta. Segala hal yang dilakukan Sinta tak luput dari pengamatannya. Ia tak bisa jika tak memastikan jika Sinta akan baik-baik saja.


"Aku akan mengantar mu pulang."


Sinta pun mengangguk setuju. Mereka sama-sama berkemas dan memasukkan semua barang-barang Sinta yang ada di rumah Nicholas ke dalam tasnya.


Pria itu menuntun Sinta masuk ke dalam mobil. Kemudian ia pun duduk di sebelah Sinta.


Ia menatap ke arah Sinta dan tersenyum.


"Kamu jangan khawatir lagi. Kamu Tika boleh cemas. Ini demi kebaikan anak kita," ucap Nicholas seraya mengusap tangan Sinta yang sangat dingin.


"Bagaimana jika aku ketahuan hamil yah."


"Sudah orang bilang juga jangan dipikirkan. Masih aja gak jera," ujar Nicholas yang merasa kesal dengan wanita tersebut.


Ia menarik napas panjang dan mengusap kepala Sinta. Sinta pun mulai merasa tenang. Wanita itu meneguk ludahnya sendiri.


"Kenapa gak jalan?"


"Tunggu kamu tenang dulu. Kalau kmu banyak pikiran, aku juga ikut kepikiran. Entar kalau bawa mobil sambil kepikiran bakal kecelakaan. Memang kau mau?" Spontan Sinta menggeleng.


Ia belum siap mati dan umurnya masih sangat muda. Apalagi saat ini ia tengah mengandung, Sinta ingin melihat bagaimana rupa anaknya sebelum ia meninggal.


"Baiklah. Aku baik-baik saja. Sekarang kita jalan," ucap Sinta sembari menyengir. Hal itu membuat tawa pada Nicholas.


"Bisa aja si cantik."


__________


Mereka pun akhirnya telah sampai di rumah. Sinta dengan sangat senang masuk ke dalam rumahnya.


"Kok kamu ikut aku masuk sih?"


"Biar kasih tau ke Mama kamu kalau aku yang anterin kamu. Nanti dia marahin kamu."


Sinta pun mengangguk dan membiarkan Nicholas mengikuti dirinya dari belakang.


Ketika Sinta membuka pintu, hal utama yang dilihatnya adalah sang ibu yang duduk di sofa dengan wajah yang sangat muram.


Sinta mengerutkan keningnya dan mendekati sang ibu. Ia berpikir mungkin ibunya marah kepada dirinya karena pulang terlambat lagi.


Sang ibu menatap Sinta dengan tatapan intimidasi. Napasnya tersengal-sengal dan Sinta bisa melihat bahwa tangan Nurul terkepal.


"Jelaskan apa ini!!" Nurul melemparkan semua hasil USG Sinta.


Sinta membulatkan matanya. Ia memandang ke arah foto USG dirinya. Mungkin kali ini ia tak lagi bisa mengelak kepada ibunya.


Bahkan Sinta tak berani menatap wajah sang ibu yang benar-benar sangat marah.


"I...ini.."


Nurul berdiri dan kemudian menghampiri Sinta.


Plakk


"Sinta kamu benar-benar keterlaluan dan membuat malu kelaurga mu saja! Apa yang kamu bisa lakukan selain membuat onar, hah?" tanya sang ibu sambil terisak.


Nurul tak menyangka jika anak semata wayangnya ini tengah mengandung yang ia tak ketahui siapa bapaknya. Hati ibu mana yang tidak terluka mengetahui kenyataan itu.


"Ma."


Tangannya terkepal dan ia menutup wajahnya lalu Nurul menangis kencang.


Ia menepuk dadanya. "Sinta ini Mama kamu! Apakah kamu tidak menganggap Mama kamu? Aku adalah orang yang melahirkan kamu, tapi kenapa kamu berbuat yang tidak senonoh tanpa sepengetahuan Mama, Sinta?" Suara Nurul yang benar-benar sudah terlihat sangat lelah membuat Sinta tak bisa berbuat apa-apa.


Sinta memeluk tubuh ibunya yang saat ini berusaha untuk menjauhi Sinta.


"Ma, Sinta bisa menjelaskan semuanya kepada Mama!"


"Sinta apa yang perlu kamu jelaskan ke Mama?" tanya Nurul seraya tertawa. "Kamu sudah mengecewakan Mama!"


Nicholas melihat semuanya. Apakah sekarang ia menjadi pengecut karena tak berani melerai pertengkaran itu. Tubuh pria tersebut menegang di depan pintu tanpa dapat melakukan apapun.


Melihat bagaimana frustasinya Sinta membuat Nicholas tak memiliki pilihan lain untuk menghampiri kedua orang tersebut.


"Sinta! Ibu!"


Nurul menatap ke arah Nicholas. Ia tak menyadari jika ada Nicholas. Hal itu membuatnya malu dan ia sebisa mungkin menyambut Nicholas.


"Pak maafkan kami tidak bisa menyambut kedatangan Bapak. Oh ya Pak, silakan duduk."


"Saya datang ke sini bukan untuk bertamu."


Mata Nurul terkejut. Ia berusaha memberikan ekspresi bertanya di saat ia ingin menangis.


"Ta..Pi?"


Sinta memandang heran ke arah Nicholas. Apa yang akan Nicholas lakukan. Hal itu masih menjadi tanda tanya bagi Sinta.


"Kedatangan saya ke sini adalah untuk melamar putri ibu."


"Hah?"


Baik Nurul dan Sinta sama-sama terkejut. Mereka menganggap hal ini adalah mimpi. Sementara itu Nicholas sudah berlutut di depan Nurul.


Ia meraih tangan Nurul dan mengecupnya. Nurul tak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Nicholas.


"Nak."


"Buk saya mohon. Saya ingin menjadikan putri ibu sebagai istri saya dan wanita yang akan melahirkan anak saya."


"Tapi kenapa?"


"Karena anak yang dikandung Sinta adalah anak saya. Saya yang telah melecehkan dia. Jadi saya harus bertanggung jawab."


"Apa?!!"


_________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.