
Untuk pertama kalinya Nurul melihat anak dari Sinta yang merupakan cucunya. Karena pada saat Sinta melahirkan orang tuanya dan juga orang tua Nicholas tak berada di rumah sakit.
Tempat terjadi ketegangan di antara kedua belah pihak hingga akhirnya Nicholas dan Sinta berusaha meredam kemarahan orang tua mereka masing-masing.
Nurul sangat marah karena orang tua dari Nicholas seperti tengah meremehkan cinta dan juga tak bisa mengajari anak mereka bersikap yang baik dan hingga menghamili anak orang.
Dan karena hal itu pulalah terjadinya perselisihan di antara dua orang tua tersebut. Apalagi Sinta dan keluarganya berasal dari keluarga yang tidak terlalu kaya.
Sementara itu Nicholas adalah keluarga yang berasal dari keluarga kaya.
"Mama. Anaknya mirip siapa coba?" tanya cinta yang mencoba untuk bercanda dengan orang tuanya.
Naruto memperhatikan anak tersebut. Senyum di wajahnya terangkat saat melihat Gaara yang tampak sangat imut.
"Dia benar-benar mirip seperti Nicholas. Mamanya tidak menyangka jika kau akan menikah dengan gurumu sendiri. Sebenarnya Mama malu tapi apa boleh buat. Satu lagi kamu jangan mau ketergantungan sama Nicholas. Mama tuh gede banget sama ibunya si Nicholas. Apalagi sampai kamu ketergantungan sama dia. Makin lagi banyak omong ibunya si Nicholas itu," ucap Nurul yang tanpa disadari didengar oleh Nicholas.
Sinta yang melihat suaminya itu pun merasa tidak enak.
"Mama, kalau ngomong itu di filter dikit napa? Kasihan anak orang mama dengar ibunya dicaci maki kayak gitu. Sudahlah biarin aja mau orang kayak apa tapi kita tidak boleh membalasnya kan Mama?" tanya Sinta pada sang ibu.
"Bener apa yang dikatakan oleh kamu. Mama itu sebenarnya menerima dengan lapang dada Nicholas. Tapi ya gitu keluarganya songong banget, mentang-mentang orang kaya." Sinta pun menghela nafas panjang saat mendengar ibunya kian lagi berbicara lebih banyak dan makin menjadi.
Nicholas yang menjadi objek pembicaraan pun datang menghampiri istri dan juga Ibu mertuanya. Ia sebenarnya sangat tersinggung tapi apa boleh buat apa yang dikatakan oleh Nurul memang benar adanya.
"Maafkan Ibu aku. Sebenarnya dia memang susah untuk melepaskan anak mereka. Tapi di sini aku yang salah, Aku harap ibuku juga bisa menerima Gaara dengan baik. Ah, iya Mama aku akan menjaga cinta dengan sepenuh hati. Tenang saja, jangan pernah berpikir bahwa Sinta akan kenapa-napa bersamaku. Aku bisa memastikan jika dia baik-baik saja."
"Mama harap apa yang dikatakan oleh kamu benar-benar kamu lakukan."
Nicholas tersenyum lebar. Iya memeluk tubuh cinta dan juga anaknya yang digendong oleh Sinta.
"Gaara benar-benar anak yang hebat. Dia adalah anak yang pantang menyerah. Aku menjamin itu dan dia juga harus pintar sama seperti ku dan semoga tidak seperti orang tua ku," ucap Nicholas sembari melirik istrinya tersebut.
Pernyataan yang disampaikan oleh suaminya itu membuat mata Sinta membulat. Enak saja ia dikatakan seperti itu.
"Apa yang kamu katakan?"
"Apa yang dikatakan oleh suamimu itu benar Sinta. Kamu harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh suamimu itu. Masih saja tidak sadar. Kamu itu bodoh dan juga tidak disiplin. Bukannya mama tidak tahu kalau suamimu itu pas ngurus Kamu kecapean."
Sinta mengerucutkan bibirnya karena di sini ia merasa terpojokkan oleh kedua orang yang sangat ia sayangi tapi malah menyudutkan dirinya.
"Sudahlah kita harus hidup lebih bahagia dari ini."
Apapun yang terjadi ke depan itu adalah cobaan karena kita tidak akan pernah lepas dari masalah.
________
End
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.