![My Version, Lucia [Hunter X Hunter]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-version--lucia--hunter-x-hunter-.webp)
Lucia dan Hisoka saling berhadapan satu sama lain. Lucia membelakangi peserta ujian itu. Seketika peserta ujian itu merasa sedikit lega karena dia berpikir Lucia datang untuk melindunginya.
Sedangkan Gon tersentak kaget. Dia juga kebingungan, seketika rencananya berantakan dengan munculnya Lucia secara tiba-tiba. Gon tidak menyangka Lucia bakalan muncul seperti ini. Dia sama sekali tidak merasakan keberadaan Lucia.
Gon : (Eh?! Lucia?!)
Gon menjadi sangat kebingungan dan tidak bisa bergerak maju maupun mundur. Seketika pikirannya menjadi kosong. Dia hanya terpaku diam ditempatnya untuk melihat situasi dan kondisi.
Melihat akan terjadi pertarungan sengit antara Hisoka dan Lucia. Peserta ujian itu mengambil kesempatan untuk kabur, akan tetapi Lucia yang menyadari hal itu langsung mengeluarkan pedang yang berbentuk katana berukuran sedang yang terbuat dari darahnya Lucia.
Belum sempat dia kabur lehernya sudah terpotong oleh sabitan pedang darah Lucia. Kepalanya terlepas dari tubuhnya dan terjatuh ke tanah. Seketika darahnya berhamburan keluar dari kepala lalu tubuhnya ambuk ke tanah.
Gerakan memutar pedang sangatlah cepat sehingga tidak terlihat di mata Gon saat lucia memenggal kepala peserta ujian itu sekaligus mencongkel nomor ID yang tertempel di bajunya itu.
Gon : (Eh?! Sejak kapan?! Aku tidak melihat dia memotong leher peserta itu)
Lucia : Dasar brengsek! Kalau kau berani menyentuh milikku, kau akan mati!
Hisoka : . . . . .
Hisoka sama sekali tidak terpancing dengan ucapan Lucia. Dia tidak sadarkan diri karena sekarang dia sedang dikuasai oleh bloodlust miliknya. Dia menatap Lucia dengan tatapan tajam dan menusuk seolah-olah ingin melahapnya hidup-hidup.
Lucia yang terbawa emosi terpancing dengan hawa bloodlust milik Hisoka dan tanpa sadar juga menggeluarkan bloodlust miliknya. Gon yang berada di antara mereka langsung ketakutan tapi dia tetap berusaha tenang dan memfokuskan dirinya pada nomor ID Hisoka. Bagaikan seekor singa yang menunggu sebuah kesempatan untuk memburu mangsanya.
Hisoka : Khukhukhuhehehe...
Hisoka terkekeh, dia menutupi wajahnya dengan tangannya lalu tertawa keras. Pada saat Hisoka tertawa Lucia hanya tersenyum memandangi Hisoka dan entah kenapa Lucia sangat ingin sekali membunuhnya. Karena setahu Lucia (Airine) yang sebelum merasuki tubuh dari pemilik asli ini di dalam cerita aslinya Hisoka itu sangatlah kuat dan dia sangat ingin menguji kekuatan dan kehebatan tubuh Lucia asli.
Hisoka : Ah~ Zero, auramu itu sungguh indah... Aku tidak sabar ingin menyentuhmu tapi masih belum waktunya...
Hisoka masih menutupi wajahnya tapi di balik itu dia menggeluarkan lidahnya dan membasahi bibirnya.
Lucia : Jangan banyak bacot!!! Dasar menjijikan!
Lucia melayangkan sebuah tinju ke arah wajah Hisoka, akan tetapi Hisoka menggerakkan kepalanya ke kiri untuk menghindari kuku tajamnya Lucia yang akan mengenai wajahnya.
Hisoka bermaksud untuk menangkap tangan Lucia tapi Lucia langsung melompat mundur ke belakang, bertepatan dengan itu Hisoka sudah melemparkan kartunya untuk menyerang.
Lucia : Cih!! Dasar licik!!
Lucia memotong kartu Hisoka dengan cepat menggunakan pedang katana darah miliknya. Kartu Hisoka terpotong menjadi dua. Tapi itu bukanlah sebuah serangan sungguhan untuknya, itu hanya untuk memanipulasi atau mengalihkan pandangan Lucia, sekarang Hisoka sudah berada tepat di depan Lucia.
Hisoka melayangkan sebuah tinju ke arah wajah Lucia. Dengan cepat Lucia menangkis untuk melindungi wajahnya dengan kedua lengannya. Melihat ada kesempatan Lucia menendang perut Hisoka sehingga Hisoka termundur ke belakang. Hisoka menghapus darah segar yang keluar dari mulutnya dengan jari jempolnya. Serasa impas, keduanya tersenyum licik.
Lucia dan Hisoka saling bertatapan satu sama lain selama beberapa menit, bertepatan dengan angin yang berhembus pada kedua sisi. Hisoka dan Lucia saling berlari dengan cepat ke arah masing-masing untuk menyerang.
Di saat itu, Gon yang melihat ada kesempatan dengan cepat juga melemparkan alat pancingnyaΒ ke arah dada kiri Hisoka untuk mencongkel nomor IDnya. Untuk yang kedua kalinya Hisoka tersentak kembali. Baik Hisoka dan Lucia keduanya terhenti dan tidak melanjutkan aksi pertarungan mereka. Berkat aksi Gon yang tak terduga itu, seketika hawa bloodlust milik keduanya hilang sepenuhnya.
Dalam pertarungannya, sesaat Lucia melupakan Gon. Dia tersenyum. Hisoka terpaku diam, dia langsung melihat ke arah sisi kirinya. Terlihat Gon berhasil menangkap nomor IDnya Hisoka. Hisoka terkejut, refleks dia meraba-raba dada sebelah kirinya. Nomor ID yang biasanya tertempel ada di bajunya telah hilang.
Hisoka kembali melihat ke arah Gon. Sesaat mata mereka bertemu. Gon terengah-engah dengan keringat yang bercucuran di wajahnya. Terlihat sangat jelas wajah terkejutnya Hisoka, matanya juga sedikit bergetar karena rasa kagum bercampur syok.
Hisoka hanya bisa terdiam di tempatnya, dia tidak bisa berkata apapun. Gon tidak bisa menggambarkan ekspresi Hisoka saat ini, refleks melihat ke arah Lucia. Lucia yang berdiri tepat di samping Hisoka mengisyaratkan untuk menyuruh Gon segera pergi. Gon pun langsung tersadar dan kabur.
Sebisa mungkin Gon berlari sekencangnya bagaikan angin yang berhembus. Dia berteriak senang di dalam hatinya, "Aku berhasil melakukannya!! Aku mendapatkannya!!" Tapi dia melupakan sesuatu yang terpenting dalam ujian ini. Bukan hanya memburu target tapi dia juga sedang diburu oleh pemangsa lainnya.
DEG!!
Gon kehilangan keseimbangannya, dia sulit bernafas dan juga melangkahkan kakinya. Kepalanya terasa berat dan berputar-putar. Pandangannya menjadi gelap, seketika dia langsung hilang kesadarannya dan ambruk ke tanah.
Hisoka dan Lucia's POV.
Hisoka melihat Gon kabur begitu saja.
Lucia : Kau tidak mengejarnya? (tersenyum)
Hisoka : . . . . . (masih syok)
Lucia : Pertarungan kita sampai disini dulu, meskipun enggan kuanggap pertarungan kali ini seri! Suatu saat nanti, aku akan menghajarmu habis-habisan! Disaat itu juga bersiaplah untuk mati!
Setelah mendengarkan perkataan Lucia. Hisoka hanya tersenyum. Tanpa berkata apa pun, Hisoka langsung pergi mengejar Gon yang kabur.
Lucia : Keluarlah! Aku tahu kau dari tadi di sana, aniki!
Illumi keluar dari balik pohon.
Illumi : Subarashii, Luci! (Luar biasa, Luci!)
Lucia tidak merasa senang atas pujian yang dilontarkan oleh Illumi. Lucia menjaga jarak darinya sambil memegangi bahu sebelah kanannya. Melihat Illumi yang semakin mendekatinya, dia mundur sedikit demi sedikit ke belakang.
Lucia : (Sial, tidak kusangka pertarungan dengan Hisoka tadi, saat Hisoka mengincar wajahku, aku menangkisnya dan itu membuat bahuku terkilir, sebaiknya aku kabur dari Illumi)
Illumi : Kau tidak perlu setakut itu padaku. Ah! Tentu saja kalau kau mau menyerahkan nomormu tanpa perlawanan, maka aku akan melepaskanmu tanpa menyulitkanmu, Luci.
Lucia : Kotowaru! (Aku menolak!)
Illumi : Hee.. Sore wa komaru ne (Hee.. Itu masalah ya)
Lucia : Memangnya aku perduli? (tersenyum licik)
Illumi tidak terpancing dengan perkataan Lucia. Dia terus memerhatikan Lucia yang sejak dari tadi memegangi bahu kanannya.
Illumi : Apa Hisoka mematahkan tanganmu?
Illumi menunjuk ke arah tangan Lucia sambil terkekeh.
Lucia : Tidak, hanya sedikit terkilir. Ya apa boleh buat, lawannya adalah Hisoka bukanlah sampah yang lainnya. Ngomong-ngomong aniki, kau pasti tidak mau kan bertarung dengan keadaanku yang seperti ini? (tersenyum)
Illumi yang dari tadi melihat pertarungan Hisoka dan Lucia di balik pohon dalam keadaan diam langsung mengerti. Tapi dia tidak berniat untuk memberikan sebuah rasa simpati atau pun belas kasihan meskipun Lucia adalah saudaranya.
Lucia yang melihat tidak ada perubahan lalu berpikir dengan cepat bagaimana caranya supaya bisa kabur dari Illumi. Seperti menemukan sebuah ide cermelang. Lucia mencoba untuk memancingnya.
Lucia : Aniki, maukah kamu bermain kejar-kejaran denganku? Aku akan memberikan nomor IDku dengan sukarela tapi jika kamu bisa menangkapku. Bagaimana? (tersenyum licik)
Illumi : Oke.
Setelah itu, Lucia langsung berlari secepat kilat. Illumi pun langsung mengejarnya. Illumi melemparkan jarumnya ke arah Lucia, meskipun beberapa jarum bisa dihindari oleh Lucia. Akan tetapi, kakinya tertusuk satu buah jarum. Lucia mencabut jarum tersebut.
Lucia : Ugh...
-Bersambung-
Bagaimana dengan cerita pada episode kali ini, Readers? Semoga sukses membuat kalian penasaran dan berteriak keras ya. Hahaha... #kabur πββοΈπββοΈπββοΈ
Ya, seperti biasanya jangan lupa KOMENTAR dan tentu saja VOTE supaya Author semangat ya! Terima kasih banyak ππ Mohon ditunggu kelanjutannya ya β€