![My Version, Lucia [Hunter X Hunter]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-version--lucia--hunter-x-hunter-.webp)
Setelah berputar-putar cukup lama, Gon dan lainnya kembali lagi ke tempat area pertarungan yang sebelumnya. Leorio, Kurapika dan Tonpa terengah-engah karena kehabisan nafas.
Leorio : Apa-apaan menara ini. Hosh.. Hosh.. (terengah-engah) Dan kita sudah menghabiskan berapa jam? Kenapa kita kembali lagi ke tempat awal?
Killua : Tuh kan apa yang kubilang tadi, seharusnya tadi kita memilih ke bawah.
Leorio : BERISIK!! KAN KITA SEMUA SETUJU MENGAMBIL RUTE INI!! LAGIAN TADI SIAPA YANG BILANG KITA HARUS KOMPAK, HAH?! (mengamuk)
Killua : Cih! (mengabaikan Leorio) Luci, masa kamu tidak bisa tahu jalan mana yang benar?
Lucia : Maaf, aku tidak tahu. Aku bukan Tuhan yang bisa tahu segalanya (Meskipun sudah tahu jalan ceritanya, ternyata lebih susah dari yang kuduga. Untung saja waktu yang tersisa masih cukup banyak)
Gon : Tenanglah... Ayo kita coba sekali lagi.
Setelah mencoba sekali lagi dan banyak melewati berbagai macam rintangan dan jebakan, akhirnya tim Gon tiba di sebuah ruangan yang seharusnya.
Lucia : Ah... Siapa sih yang tadi memilih rute ini?! (mulai emosi)
Killua : Entah tuh, lihat bajuku jadi kotor terkena debu... (mengeluh)
Gon : Maaf itu aku (tertawa kaku)
Killua : Kumaafkan karena rute ini lumayan seru juga, meskipun terkena debu (menyeringai)
Gon : Ya, kan? (menyeringai)
Lucia : (Dasar! Karena Gon yang memilih, dia memaafkannya dengan begitu mudahnya? *merasa kesal*) Ya sudah! Ayo jalan, akhirnya kita tiba di tempat yang seharusnya dan sebentar lagi kita akan mencapai garis finish.
Lucia berjalan di depan dan diikuti yang lainnya.
Killua : Memangnya di depan sana ada apa?
Lucia : Sebuah ruangan dan itu yang terakhir.
Leorio : Benarkah? (senang)
Lucia tidak menjawab. Gon dan lainnya tiba tepat di depan sebuah pintu besi.
Leorio : Ini ruangan yang kamu maksud, Lucia? Kita disuruh memilih untuk membuka pintu ini? Karena kita perlu melangkah ke depan. Tentu saja sudah pasti kan jawabannya adalah "O".
Sekali lagi Lucia tidak menjawab pertanyaan Leorio, dia hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.
Lucia : (Waktu yang tersisa tidak sampai dua jam, aku rasa cukup jika Tonpa tidak mencari gara-gara. Tapi masalahnya akan muncul hanya karena pintu ini. Semoga kejadiannya tidak sama dengan cerita aslinya)
Dan mereka pun mulai menekan pada jam tangan masing-masing. Dan hasilnya langsung muncul dengan tanda (O -> 5 dan X -> 1). Leorio mulai emosi.
Lucia yang mengetahui hal ini akan terjadi pun hanya bisa menghela nafas. Sebelum Leorio mulai marah dan menuduh Tonpa, dengan cepat Lucia berteriak.
Lucia : Ah! Aku salah pencet!
Leorio : Haa?!
Gon : Eh? (Aku yang tidak sengaja menekan tombol silang tapi kenapa Lucia yang...) *kebingungan*
Lucia : Paman, jangan marah ya. Aku yang salah tekan tombol silang tadi (memasang wajah memelas ke arah Leorio) Tapi setidaknya pintunya terbuka, kan? (tersenyum)
Leorio : Eh? Begitu ya, baiklah tidak masalah kalau Lucia yang berkata begitu, lagipula itu tidak disengaja, kan? Kupikir tadi seseorang mulai berulah. Hahaha... Ayo jalan!
Tonpa merasa tersinggung dengan perkataan Leorio pun mulai mencari gara-gara.
Tonpa : Tunggu! Tarik kata-kata terakhirmu itu, Leorio!
Leorio : Haa, apa? (menoleh ke arah Tonpa)
Lucia : (Tsk! Apa scene bagian ini memang tidak bisa dihindari, meskipun aku sudah berkorban tadi?)
Tonpa : Pasti tadi kamu bermaksud mau menuduhku, kan?! (menatap tajam)
Leorio : Apa kau bilang?! (mulai marah)
Lucia : AH! MENYEBALKAN! (tiba-tiba berteriak)
Tidak hanya Leorio dan Tonpa melainkan semua yang berada di sana refleks melihat ke arah Lucia. Lucia langsung melihat ke arah Tonpa dengan tatapan muak.
Lucia : Hei, paman! Kau sengaja, ya?
Tonpa : Apa?
Lucia : Ya, kau pasti sengaja! Dengar ya, kan tadi aku yang menekan tombol silang itu, seharusnya kau berurusan denganku bukannya paman itu (menunjuk ke arah Leorio)
Tonpa : Apa yang kau bicarakan?! (merasa tidak senang)
Lucia : Jika kalian berdua mau bertarung ya silakan. Aku duluan ya! (Berurusan denganmu hanya akan membuang waktu saja!)
Setelah mengatakan itu, Lucia langsung meninggalkan Tonpa dan Leorio yang kebingungan di sana. Dia memasuki ruangan lalu diikuti oleh Killua, Kurapika dan Gon.
Tonpa dan Leorio saling pandang dengan benci sejenak lalu mengikuti Gon dan lainnya memasuki ruangan. Gon dan lainnya berdiri tepat di depan dua pintu.
Killua membaca sebuah pesan yang tertempel pada dinding yang terletak di tengah-tengah antara kedua pintu tersebut.
Killua : "Ini ditentukan oleh suara terbanyak... Apa hati kalian siap untuk memilih? Pilih O atau pilih X. Itu saja."
Leorio : Apa maksudnya dengan hati kalian siap untuk memilih? Ya, itu tentu saja kan!
Dan mereka pun mulai menekan pada jam tangan masing-masing. Dan hasilnya langsung muncul dengan tanda (O -> 5 dan X -> 1).
Leorio : ******** KAU!!! (marah)
Leorio langsung berbalik melihat ke arah Tonpa. Kali ini Tonpa sengaja menekan silang untuk mencari gara-gara dan itu membuat Leorio emosi.
Kurapika : Hentikan, Leorio!
Leorio : Tapi kau bisa lihat sendiri kalau dia sengaja melakukannya kan, Kurapika! (marah)
Kurapika : Itu benar, tapi setidaknya kita berlima masih kompak! Dan jangan terpancing dengan hal sepele seperti ini, karena waktu kita tidak cukup untuk berargumen!
Tiba-tiba terdengar suara Lippo melalui speaker.
Lippo : Baiklah untuk kalian berenam, silakan pilih. Ada dua pilihan. Yang pertama, dengan enam yang lolos tapi rintangannya panjang dan sulit. Yang kedua, dengan empat yang lolos tapi rintangannya pendek dan gampang.
Tonpa, Leorio, Gon, dan Kurapika sedikit tersentak mendengar penjelasan Lippo. Sedangkan Killua dan Lucia hanya memasang wajah serius.
Lippo : Di yang panjang dan susah, membutuhkan kira-kira kurang lebih 45 menit, itu pun tergantung bagaimana kalian melewatinya. Dan di yang pendek dan gampang, kurang lebih 5 menit dijamin bisa sampai pada tujuan. Pilih yang panjang dan sulit dengan menekan O. Sedangkan pilih yang pendek dan gampang dengan menekan X. Jika memilih X, dua orang harus dalam keadaan terbelenggu, sebelum pintu dibukakan. Dua orang yang dibelenggu itu, tidak akan bisa lepas sampai waktu habis.
Killua melihat langsung melihat ke sekeliling pada ruangan kecil tersebut.
Killua : Hee, pengujinya ternyata sudah mempersiapkan dengan baik ya, mereka sudah menyiapkan semua jenis senjata untuk kami pergunakan...
Kurapika : 2 dari 6, gagal. Jadi kita diminta bertarung untuk menentukan 4 orang yang lolos?
Lucia : Ternyata sudah di mulai ya... (tersenyum licik)
Lucia berjalan ke arah kampak, lalu menggeluarkan sebuah kampak dari tempat tersebut.
Killua : . . . . .
Leorio : Tunggu, tunggu! Lucia, kau pasti bercanda, kan? (tersentak)
Semua melihat ke arah Gon.
Gon : Kita jangan berkelahi satu sama lain. Aku rasa dengan waktu kita yang tersisa ini cukup. Jadi aku pikir, setelah sejauh ini kita sudah bersama-sama, sebaiknya kita semua milih yang panjang dan sulit...
Kurapika : Itu benar, tapi aku rasa mereka berdua tidak berpikiran sama sepertimu, Gon.
Tonpa yang tidak setuju pun berjalan ke arah tombak panjang. Kurapika mulai waspada dan berjaga jarak saat melihat Tonpa yang memegang tombak dan Lucia yang memegang kampak. Baik Kurapika dan Leorio menggeluarkan senjata pribadi mereka masing-masing.
Lucia : Kalian kenapa tegang begitu? Aku tidak bermaksud untuk bertarung dengan kalian (tersenyum)
Leorio : Lalu, kampak itu untuk apa? (mulai waspada)
Lucia : Ah, ini? Jadi, sesuai keinginan Gon yang ingin kita semua lulus bersama, pastinya kita akan memilih O tapi, setelah itu kita akan membuat lubang untuk bisa berjalan ke rute X. Memang jika aku lihat waktu yang tersisa sekarang adalah 1 jam 12 menit ini cukup tapi aku tidak suka mengambil resiko karena kita tidak tahu yang panjang dan sulit itu rintangannya seperti apa, bukan?
Killua : Dengan kampak itu?
Lucia : Benar (tersenyum)
Gon : Tunggu, maksudmu apa?
Lucia : (Gon, ini ide gilamu saat di cerita asli, kan? Tapi kenapa sekarang kamu malah bertanya padaku?)
Tonpa : Hmph! Jangan bercanda! Omong kosong macam apa yang kau bicarakan itu?!
Tonpa hendak menyerang dengan tombak panjang yang ada ditangannya.
Lucia : Paman, terserah kamu mau ikut atau tidak. Tapi aku tegaskan, sekali kau menyerang, aku tidak akan sungkan membunuhmu. Aku rasa semua yang ada disini tidak akan masalah dengan kau yang tidak ada. Benar? (tersenyum licik menyeramkan)
Tonpa langsung merinding saat melihat Lucia tersenyum, tiba-tiba dia teringat akan pertarungan sebelumnya, dimana Lucia dengan mudahnya memenggal kepala lawan dan itu hanya dilakukan dengan sekali tebas. Dia mulai merasa ragu dan ketakutan lalu menurunkan tombaknya dan membuang wajahnya ke arah samping dengan kesal.
Tonpa : Cih!
Leorio : Lucia, dari perkataanmu tadi itu, apa benar kita bisa lulus bersama?
Lucia : Tentu saja!
Tonpa : Hei, bocah! Awas saja, kalau kau berbohong dan mempermainkanku!
Lucia hanya tersenyum dan mengangkat bahunya.
Lucia : Sudah kubilangkan, terserah kamu mau ikut atau tidak. Lagian ini kan sistem suara terbanyak (sikap acuh tak acuh)
Kurapika mulai merilekskan tubuhnya saat dia melihat Tonpa sudah menyerah. Setelah itu, semua mendengarkan perkataan Lucia dan mengambil kampak dari rak yang sudah disiapkan.
Kemudian mereka yang sepakat pun mulai menekan tombol pada jam tangan masing-masing. Dan hasilnya langsung muncul dengan tanda (O -> 6 dan X -> 0).
Gon : Pintunya sudah terbuka, lalu bagaimana caranya?
Lucia : Seperti ini....
Lucia sedikit berjalan masuk ke dalam, lalu mengayunkan kampaknya dan menghantamkan kampak tersebut ke arah dinding sebelah di bagian dalam.
Killua dan Gon saling pandang lalu menyeringai dan mereka yang mengerti pun langsung mengikuti Lucia.
Kurapika : Naruhodo... (Ternyata begitu...) Sekarang aku mengerti. Jadi, memilih yang panjang dan sulit supaya kita berenam bisa tetap bersama tanpa harus mengorbankan dua orang, lalu membuat jalan sendiri agar bisa melewati jalan yang pendek dan gampang tanpa harus melewati rute jalan yang sulit ya. Idenya tidak buruk juga (tersenyum)
Leorio : Lucia, tidak kusangka dia bisa kepikiran hal seperti ini! (menyeringai)
Lucia : Kalau sudah mengerti, gantian dong, paman!
Leorio : Yosha!!! Makaserou!! (Baiklah!!! Serahkan padaku!!)
Kemudian mereka berenam pun bekerja sama menghancurkan tembok dan dalam waktu 50 menit tembok tersebut hancur. Mereka berenam dengan cepat langsung memasuki lubang tersebut dan berjalan di rute X.
Gon : Ah, tanganku sakit! (menyeringai)
Gon melihat ke arah Kurapika yang tersenyum.
Kurapika : Tanganku semua pada lecet. Hahaha..
Killua : Luci, kau memang jenius tapi kurang kerjaan! (mengeluh kesal)
Lucia : Hahaha... Tapi seru, kan? (menyeringai)
Leorio : Seru apaan? Tanganku jadi melepuh dan memerah semua! (ngomel)
Lucia, Gon dan Killua hanya tertawa mengejek saat melihat tangan Leorio yang melepuh.
Leorio : Tapi meskipun begitu, kita semua jadi bisa lolos bersama dan ini semua berkatmu, Lucia! (tersenyum lega)
Lucia : Tidak. Berterima kasihlah kepada Gon (menyeringai)
Gon : Eh? Aku kan tidak berbuat apa pun (bingung)
Lucia : Umm, ah maksudku, berkat Gon. Aku jadi teringat ide itu. Gon, terima kasih (tersenyum)
Gon : Aduh, aku jadi malu. Tapi syukurlah semua bisa lulus. Hehehe.. (memegangi kepalanya)
Semua orang kecuali Tonpa tertawa bersama melihat Gon yang tersipu malu.
Lucia : (Benar, ini semua berkat Gon. Kalau saja di cerita aslinya Gon tidak melakukan cara seperti itu atau aku tidak mengingat cerita aslinya, mungkin saja akan berakhir dengan pertumpahan darah dan tentunya dengan kemampuan aku dan Killua yang sudah pasti dinyatakan lulus)
Kurapika : Waktu kita yang tersisa masih ada sekitar 10 menit lagi *tersenyum lega*
Killua : Masih sempat
Gon : Bukannya tadi Lippo-san mengatakan bahwa jalan di rute ini hanya sekitar 5 menit saja, bukan?
Leorio : Benar jadi tidak usah buru-buru, Kurapika!
Lucia : Bilang saja kau capek, paman. Dasar lemah! (mengejek)
Leorio : Apa kau bilang?! (tersinggung)
Semua kembali tertawa dan Tonpa tetap saja tidak tertawa, Kurapika yang menyadari itu pun melirik ke arah Tonpa yang hanya diam saja saat berjalan.
Kurapika : (Tonpa-san, kau pasti merasa kesal ya karena kau tidak menyangka kalau semua siasat burukmu itu akan digagalkan olehnya?)
Lucia : Begitulah, Kurapika (menyeringai lebar)
Kurapika : Ah, kamu membaca pikiranku?
Lucia : Tidak. Tapi semua yang kau katakan terdengar dengan jelas di telingaku (tersenyum)
Kurapika : Be-begitukah?
Dan tidak lama kemudian, akhirnya Gon dan lainnya tiba di garis finish, Illumi dan Hisoka yang bisa merasakan kehadiran Gon dan Lucia pun tersenyum licik.
Pintu terbuka. Semua orang kecuali Illumi dan Hisoka, mereka yang penasaran dengan siapa yang berikutnya akan keluar refleks melihat ke arah pintu yang terbuka.
-Bersambung-
Please don't forget to LIKE, FAVORITE, VOTE and COMMENT. Thank you 😊🙏