![My Version, Lucia [Hunter X Hunter]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-version--lucia--hunter-x-hunter-.webp)
Di ruangan radio komunikasi dan mesin kontrol, terlihat Pokkle dan Ponzu saling ngetos dan tersenyum senang dengan hasil yang mereka dapatkan setelah selesai mengecek dan memperbaiki mesin. Lucia yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum.
Lucia sengaja tidak menyapa mereka. Dia terus berjalan lurus sampai ke ruangan penembakan senjata nuklir/bom. Pada bagian ruangan ini di berikan ke peserta ujian nomor 80 yang bernama Siper. Dia ahli di bidang tersebut.
Siper adalah wanita dengan rambut panjang yang selalu membawa sentaja api besar. Dia mengenakan rompi dengan kemeja lengan panjang di bawahnya, celana polos, dan kacamata hitam berbentuk persegi.
Lucia : (Semua peserta ujian punya keahlian mereka masing-masing. Aku senang saat ini mereka mau saling bekerja sama dan hasilnya di luar perkiraanku mereka sungguh bekerja keras untuk bisa keluar dari pulau ini. Tapi setelah ujian babak ketiga ini berakhir mereka semua akan menjadi musuh) *tersenyum licik*
Pintu ruangan terbuka. Siper menoleh ke arah pintu yang terbuka. Tanpa berbasa basi, Lucia langsung mencari peluru meriam yang ditemukan oleh Leorio sewaktu mencari harta karun (bagi Readers yang lupa bisa di cek kembali pada ep 48).
Siper : Kau sedang cari apa, peserta nomor 100?
Lucia : Kakak nomor 80, apakah ada peluru meriam?
Siper : Maksudmu ini?
Lucia : Benar!
Kembali di bagian Hanzo dan Kyuu.
Terdengar suara ledakan yang cukup keras. Peserta yang bekerja di dalam kapal melihat keluar. Terlihat Kyuu sedang meledakan besi yang tertempel di sisi kanan kapal.
Hanzo : Aduuhh ternyata suaranya nyaring juga. Telingaku berdengung, tapi kerja bagus Kyuu (tersenyum puas)
Di bagian Leorio, Gon dan Killua.
Sudah lebih dari 15 menit Leorio membersihkan baling-baling kapal yang tersangkut ganggang rumput laut dengan menggunakan tombak. Dia terus menerus mengeluh dalam hatinya.
Leorio : (Sial! Kenapa aku harus melakukan hal seperti ini. Tega benar mereka, masa aku sendirian yang harus membersihkan ini semua. Apalagi ganggangnya ternyata banyak juga).
Gon menemukan Leorio. Lalu berenang cepat ke arahnya.
Leorio : (Gon! Kau datang untuk membantuku? Kau sungguh penyelamatku!) *terharu*
Gon hanya menunjukkan tangannya untuk menyapa. Lalu dengan sekuat tenaga menarik ganggang yang tertempel di baling-baling dengan tangannya. Killua muncul dan menepuk bahu Gon dari belakang.
Killua : (Dasar bodoh! Pakai pisau ini!)
Gon menerima pisau dengan senang hati.
Killua : (Ya sudah ya, aku balik ke atas! Selamat berjuang!)
Pada saat Killua hendak mau kembali ke atas, di dalam air yang gelap tiba-tiba menjadi terang. Refleks Gon, Killua dan Leorio melihat ke arah atas. Terlihat ada cahaya ledakan, bebatuan dan besi tenggelam ke bawah. Dengan cepat mereka membersihkan baling-balingnya.
Kembali di bagian Kurapika.
Kurapika yang berada di ruangan Nahkoda sedang berdiri menghadap ke jendela. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu. Dia menyadari kehadiran Hanzo dan peserta ujian lainnya yang memasuki ruangan lalu menoleh melihat ke belakang.
Kurapika : Bagaimana? Apa besinya berhasil terlepas dari kapal?
Hanzo : Ya. Sekarang masalahnya tinggal bagian utama kapal yang menempel sepenuhnya di batu karang. Untuk menghancurkan batu karang itu, tidak akan bisa dengan kekuatan ledakan biasa-biasa saja.
Kurapika : Kalau begitu terpaksa kita harus menggunakan meriam kapal ini sendiri.
Tonpa : Meriam kapal brobok ini?
Kurapika : Dengan tembakan berturut-turut dari meriam, hanya itu caranya.
Hanzo : Idemu patut dicoba.
Pokkle dan Ponzu yang dari ruangan mesin kontrol dan radio komunikasi mendengarkan pembicaraan Kurapika muncul di ambang pintu dan memberikan pendapatnya.
Tidak lama kemudian di susul oleh Lucia yang memasuki ruangan Nahkoda, dengan keadaan diam dia bersandar pada dinding tepat di samping pintu sambil melipatkan kedua tangan di dadanya lalu mendengarkan pembicaraan mereka.
Pokkle : Terlebih dahulu kita harus mengalirkan tenaga untuk menggerakkan meriam. Lagipula apa kita punya peluru meriamnya?
Lucia : Masalah peluru meriam kalian tidak perlu khawatir, aku barusan dari ruangan penembakan meriam.
Hanzo : Bagus! Dengan menembakan peluru meriam, maka air laut akan bergejolak dan kapal ini bisa terlepas dari karang.
Lucia : Tapi...
Hanzo : Tapi apa?
Lucia : Bagaimana pun juga untuk melakukan semua ini, mesin utamanya harus dijalankan. Apa mesinnya sudah beres?
Ponzu : Masalah itu, sudah teratasi. Itulah kenapa kita berada di sini karena mau melaporkan hal ini kepada Kurapika.
Pokkle : Mesinnya sudah diperiksa dan diperbaiki. Semua berfungsi dengan baik. Kita tinggal coba untuk menghidupkannya saja. Kalau mesinnya berhasil hidup, maka tidak perlu merasa khawatir lagi (tersenyum)
Semua peserta merasa lega, terlihat dengan jelas di setiap wajah para peserta ujian ada sebuah harapan kecil yang muncul.
Kurapika : Berarti kita akan memulainya setelah Leorio kembali ke kapal.
Bertepatan dengan selesainya perkataan Kurapika, terdengar suara berisik dari koridor.
Lucia : Tampaknya paman sudah kembali (tersenyum)
Leorio : Aduuhh sialan telingaku kemasukan air! (mengomel tidak jelas)
Killua hanya tertawa.
Gon : Nanti juga kering kok! (menyeringai)
Leorio melangkah di depan Gon dan Killua dengan cepat di koridor. Dia merasa kesal dan mau protes ke Kurapika dan Hanzo. Tiba-tiba langkah Leorio terhenti tepat di depan pintu ruangan.
Dia tersentak karena dia tidak menyangka semua berada di ruangan Nahkoda. Dia merasa canggung karena banyak sekali tatapan mata yang tertuju kepadanya.
Leorio : A-ada apa ini? Kenapa kalian semua berada disini? Apa kalian sedang menyambut kedatanganku? (terharu)
Kurapika : Kita hanya berdiskusi untuk langkah selanjutnya.
Seketika raut wajah Leorio berubah kecewa, dia berdeham sekali lalu dengan cepat memasuki ruangan dengan raut wajah yang sedikit memerah. Dari belakang juga terlihat Killua dan Gon yang sedang berjalan santai menuju ke ruangan Nahkoda.
Lucia : Oniichan, Gon selamat datang kembali.
************************************
Waktu berlalu dengan cepat. Terlihat matahari sudah semakin tinggi. Seluruh peserta ujian kecuali Hisoka dan Illumi telah berkumpul di satu ruangan yaitu ruangan mesin utama. Pokkle dan Ponzu bersiap pada posisi mereka untuk menarik tuas mesin.
Hanzo : Kalian siap? Kuberi aba-aba ya sampai hitungan ketiga, lalu tarik tuasnya!
Pokkle dan Ponzu : Ya!!
Semua peserta ujian hanya diam melihat dan berjaga jarak beberapa meter dari tempat Pokkle dan Ponzu yang memegangi tuas. Mereka semua kecuali Lucia dan Killua merasa tegang dengan situasi saat ini. Tonpa menelan ludahnya dia berdoa dalam hatinya supaya mesin bisa hidup kembali.
Hanzo : Satu... Dua...
Deg ! Deg ! Deg !
Suasana semakin menegang. Jantung berdebar dengan cepat pada setiap peserta ujian saat mendengar hitungan Hanzo yang mencapai puncaknya.
Hanzo : Tiga! Tarik!!!
Di bagian Hisoka dan Illumi.
Hisoka berdiri di ujung tiang kapal karam. Sedangkan Illumi berdiri di atas batu karang besar tepat di sebelah Hisoka dekat kapal perang mereka. Baik Hisoka mau pun Illumi hanya saling diam memandang ke arah lautan.
Terlihat banyaknya awan hitam bergerak menuju ke arah mereka dan angin kencang tiba-tiba bertiup menyapu wajah Hisoka.
Ombak di lautan semakin tinggi dan membesar menghantam batu karang. Air laut yang awalnya tenang sedikit bergetar dan semakin naik ke permukaan. Seketika raut wajah Hisoka berubah.
Hisoka : Hmm.. Badainya lebih cepat datang dari yang diperkirakan.
Tanpa menunjukkan ekspresi di wajahnya, Illumi hanya bisa tersenyum dalam hatinya.
Kembali di bagian Lucia dan peserta lainnya.
Setelah terdengar suara teriakan hitungan ketiga yang dikeluarkan dari mulut Hanzo. Pokkle dan Ponzu dengan sekuat tenaga secara bersamaan menarik tuasnya ke arah bawah.
Akan tetapi, suara mesin tidak terdengar dan mesin juga tidak bergerak sama sekali seperti yang diharapkan. Seketika raut wajah mereka berubah menjadi kecewa.
Tonpa : Bagaimana sih?! Bukannya tadi kalian mengatakan tidak ada masalah pada mesinnya?! (mulai emosi)
Peserta lainnya : Iya, bagaimana sih?! Kami tidak mau terhanyut dan mati disini!
Pokkle : Y-ya seharusnya sih tidak ada masalah, kalian sendiri juga melihatnya. Semua mesin disekitarnya itu berfungsi!
Kericuhan dan keributan mulai terjadi.
Tonpa : Buktinya mesinnya tidak bergerak!
Pokkle menaikan kembali tuasnya ke atas.
Gon : Apa yang salah ya?
Ponzu mencoba untuk memberikan semangat dan harapan mulai kembali lagi.
Ponzu : Jangan menyerah hanya gagal sekali. Ayo di coba sekali lagi!
Hanzo : Itu benar sekali!
Mereka sudah mencoba menaikan dan menurunkan tuas beberapa kali, akan tetapi hasilnya tetap sama yaitu nihil. Killua menendang mesinnya sekali.
Leorio : Killua jangan ditendang seperti itu! Kalau semakin rusak bagaimana?!
Lalu tiba-tiba mesinnya bergerak dan terdengar suara mesin.
Leorio : Eh?! (kaget)
Tidak hanya Leorio, semua peserta ujian yang berada disana terbengong-bengong. Mereka merasa bingung tapi disamping itu mereka langsung bersorak dengan senang.
Lucia : Oniichan, good job! (mengacungkan jempolnya)
Killua dan Gon saling memandang lalu tertawa. Hanzo, Kurapika, Pokkle dan Ponzu juga saling memandang dengan heran lalu tersenyum lega.
Lucia : Bukan saatnya untuk bersenang-senang, badainya semakin mendekat. Paman (Hanzo), bisakah kau membantu kakak nomor 80 di ruangan penembakan?
Hanzo : Tidak masalah (tersenyum)
Siper : Serahkan padaku (tersenyum)
Lucia : Kurapika berikan komando untuk penembakan melalui speaker yang ada di ruangan Nahkoda. Aku akan melihat keadaan diluar. Dan lainnya, ku harap kalian bisa membantu untuk menyiapkan pelurunya.
Peserta lainnya : Baik!! (serentak)
Killua : Aku akan ikut denganmu, Luci (tersenyum)
Gon : Aku juga! (menyeringai)
Di bagian Lippo.
Lippo duduk di sebuah kursi putar miliknya dengan santai sambil memakan cemilan yang ada di tangannya, dia terus memantau para peserta ujian melalui monitor TVnya. Pintu ruangan terbuka, seorang narapidana memasuki ruangan.
Narapidana : Tuan, pesawat balonnya sudah siap.
Lippo yang membelakangi narapidana tersebut memutar kursinya melihat narapidana itu lalu berdiri.
Lippo : Baiklah. Ayo kita berangkat! (tersenyum licik)
Lippo menaiki pesawat balon udara yang sudah dipersiapkan oleh Asosiasi Hunter. Balon udara terbang tinggi ke atas menuju ke pulau sabit.
Lippo : (Kira-kira berapa peserta yang pantas menerima hadiah kelulusan ini?) *tersenyum licik*
-bersambung-
☆PLEASE LIKE AND COMMENT☆