![My Version, Lucia [Hunter X Hunter]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-version--lucia--hunter-x-hunter-.webp)
Setelah berdiskusi panjang dan menghabiskan beberapa jam, semua peserta ujian sibuk untuk mencari cara bagaimana supaya bisa menggerakkan kapal perang besar ini dan segera meninggalkan pulau sebelum badai besar itu datang.
Matahari semakin terik, beberapa peserta ujian yang menolak ikut bekerja sama melakukan aktivitas pribadi mereka masing-masing. Dan masih terlihat beberapa peserta yang tadi berhasil dikelabuhi oleh Tonpa sedang memperbaiki perahu boat. Sedangkan Leorio yang berdiri di dek kapal bagian bawah melihat lurus ke arah lautan.
Leorio : Sudah lewat berapa jam ya semenjak kita berdiskusi itu? Apa benar akan terjadi badai besar? Padahal lautnya begitu tenang sekali.
Leorio merasa panasnya terik matahari. Dia mengangkat tinggi tangannya untuk menutup wajahnya yang terkena sinar matahari.
Leorio : Matahari juga sudah semakin tinggi tapi kita masih belum menemukan petunjuk atau cara untuk menggerakkan kapal ini. Keterlaluan sekali kakek dan nenek itu pergi meninggalkan kami tanpa petunjuk apapun, pengelolah hotel macam apa itu! (mengeluh dengan kesal)
Tiba-tiba Ponzu berteriak. Seluruh peserta ujian melihat ke arah Ponzu.
Ponzu : Hei, kalian lihat ke sini! Kami menemukan radio!
Beberapa dari mereka mengikuti Ponzu dan sekarang mereka berada di sebuah ruangan mesin kontrol dan di ruangan tersebut terdapat radio sebagai alat komunikasi yang biasanya digunakan oleh para Nahkoda.
Terlihat Pokkle sedang mengotak-atik serta memutar-mutar tombol radio untuk mencari signal gelombang.
Gon : Apa itu rusak?
Pokkle : Tidak. Alat komunikasinya tidak rusak.
Ponzu : Hanya saja tanpa sebab yang jelas, dari tadi saat Pokkle mencari di gelombang mana pun tidak terdengar apa pun.
Leorio : Apa? Kalau begitu...
Pokkle membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Leorio.
Pokkle : Kita tidak bisa berkomunikasi ke mana pun.
Lucia : Tentu saja karena ini adalah pulau terpencil yang khusus dibuat untuk ujian, dan disekitar pulau ini tidak ada apa pun kecuali kapal karam.
Pokkle : Aku setuju. Kalau seperti ini keadaannya, bisa dibilang kita semua ini sedang terdampar.
Hanzo : Tapi bisakah kau mencobanya lagi lebih lama?
Pokkle : Baiklah, akan kucoba.
Kurapika : Kalau menemukan sesuatu yang aneh, segera beritahu kami ya. Sekecil apapun itu.
Pokkle : Baik, aku mengerti.
Pokkle terus mencari gelombang suara dari alat radio komunikasi dan dibantu oleh Ponzu. Geretta yang melihat tidak menemukan titik terang memutuskan untuk keluar dalam keadaan diam. Tiba-tiba Gon mendengar sesuatu dari kejauhan.
Gon : Eh? Apa kau tidak mendengar ada suara bunyi aneh barusan, Killua?
Killua : Suara bunyi aneh? Tidak. Tidak terdengar apa pun.
Gon : Begitu? (Aneh banget. Meskipun samar-samar, aku seperti mendengar ada suara angin. Apa cuma perasaanku saja ya?)
Lucia yang bisa mendengar isi hatinya Gon pun memejamkan matanya lalu mencoba fokus.
Lucia : (Aku tidak mendengar ada suara apa pun tapi perasaanku tidak enak, sepertinya badainya sudah semakin mendekat.)
Hanzo : Diam begini pun tidak ada gunanya. Bagaimana kalau kita berpencar sekali lagi dan mencari petunjuk? Terus 30 menit lagi kita berkumpul di anjungan ya.
Peserta lainnya : Okay!
Kurapika : Aku setuju, aku akan mencoba mencari petunjuk sekali lagi di ruangan Nahkoda.
Leorio : Aku akan ke ruangan lainnya.
Killua : Gon, ayo kita pergi ke ruangan sebelah sana!
Gon : Ayo! (semangat)
Lucia : Kalau begitu, aku akan memeriksa ke bagian dek kapal.
Semua pun berpencar dan mulai melakukan tugas masing-masing. Pada saat di dek kapal bagian atas, Lucia memergoki Hisoka dan Illumi yang sedang melakukan sesuatu dipojokan.
Lucia : Apa yang sedang kalian berdua lakukan di sana?
Hisoka melihat sekilas ke arah Lucia.
Hisoka : Oh, kau sudah datang?
Lucia yang penasaran mencoba untuk mendekati mereka. Ternyata Illumi dan Hisoka sedang bermain kartu poker. Lucia tidak bisa marah mau pun berkomentar. Dia hanya terpaku diam melihat kedua orang yang tidak perduli sama sekali itu.
Illumi : (Menggeluarkan kartu King)
Lucia : . . . . . (Dasar kedua orang yang tidak bisa membantu sama sekali \=_\=)
Di bagian Kurapika.
Kurapika kembali mengunjungi ke tempat Pokkle dan Ponzu berada.
Kurapika : Bagaimana perkembangannya? Apa ada perubahan?
Ponzu : Tidak ada. Masih belum bisa.
Pokkle : Aku menyerah, sepertinya tidak sampai waktu yang ditentukan oleh Lucia, nampaknya sebentar lagi badai besar itu akan segera tiba. Sehingga alat radio komunikasi ini tidak bisa berfungsi dikarenakan tekanan udaranya berubah dan itu mempengaruhi kondisi gelombang radio beserta signal frenkuensinya terganggu oleh badai tersebut.
Ponzu : Kita benar-benar tidak akan tahu apa yang akan terjadi (merasa cemas)
Kurapika : Hey, hey! Jangan bikin panik begitu! Ayolah lebih berusaha lagi, aku tidak ingin menyambut badai ditempat seperti ini! Aku rasa kalian berdua pasti bisa, karena cuma kalian berdua yang mengerti mengenai mesin kapal perang ini! (mencoba memberi semangat)
Pokkle dan Ponzu hanya bisa tersenyum tipis.
Pokkle : Baiklah, akan kucoba mencari gelombangnya sedikit lagi. Dan juga akan kucoba mengotak-atik mesinnya.
Ponzu : Akan kubantu.
Kurapika : Tolong ya kalian berdua (tersenyum)
30 menit kemudian di anjungan...
Kurapika : Leorio, Hanzo bagaimana?
Leorio mendekati Kurapika yang berdiri di anjungan lalu menggelengkan kepalanya. Sedangkan Hanzo hanya menghela nafas panjang. Dia menunjukkan wajah lesunya lalu mengangkat ke dua bahunya ke atas.
Hanzo : Sial, tidak ada satu pun petunjuk yang tersisa (merasa kecewa)
Kurapika : Begitu ya, sudah kuduga. Terus bagaimana dengan kalian berdua? Apa menemukan sesuatu?
Gon : Aku dan Killua menemukan sesuatu yang unik!
Gon : Di ruangan yang ditempatkan senjata nukril, ada sebuah baju selam yang digunakan orang-orang untuk menyelam ke dasar laut.
Leorio : Baju selam?
Killua : Tapi biar ada baju selam pun tidak ada gunanya. Kita tidak mungkin bisa pakai baju itu untuk bisa sampai tujuan, kan?
Gon : Hahaha benar juga ya katamu (tertawa kaku)
Hanzo : Aku merasa curiga, ujian ini benar-benar aneh. Tentang apa ujian ini? Sedikit pun tidak ada pemberitahuan, hanya sebuah peta yang sangat sederhana, kapal perang yang tidak bisa bergerak, juga banyak sekali kapal karam, beserta harta yang tertinggal. Semua itu seperti disengaja untuk mengacaukan pengamatan dan pikiran kita. Apa yang sebenarnya yang ingin mereka uji?
Hanzo memegangi dagunya dan berpikir keras. Setelah Hanzo berkata seperti itu, bukan hanya Leorio, akan tetapi Gon, Kurapika, Killua dan beberapa peserta lainnya juga ikut melihat ke sekeliling mereka yang dipenuhi oleh kapal karam.
Tiba-tiba Gon kembali menyadari sesuatu, dia mendengar sesuatu yang dirasakannya sejak tadi. Dengan segera dia melihat ke arah lautan lalu karena merasa ada yang aneh, dia maju selangkah ke depan.
Killua : Eh? Gon, ada apa?
Gon mengabaikan pertanyaan Killua. Dia menutup matanya dan menggunakan penciumannya yang tajam juga fokus untuk mendengarkan suara yang dari tadi mengganggunya.
Gon : Lagi-lagi suara bunyi aneh itu.
Kurapika : Suara apa?
Gon menoleh ke arah Kurapika sekilas lalu kembali melihat lurus ke arah lautan luas dan menunjuk ke arah sumber suara yang dia dengar dari tadi.
Gon : Dari arah laut, aku mendengarkan sesuatu! Killua, apa kau tidak mendengar bunyi aneh itu?
Killua melihat ke arah lautan yang sangat tenang sekali.
Killua : Tidak terdengar sedikit pun. Yang terdengar hanya bunyi ombak.
Gon : Tapi aku sungguh-sungguh mendengarnya...
Di bagian peserta ujian lainnya.
Geretta sibuk mengotak-atik perahu boat yang sangkut di atas batu karang besar.
Geretta : Syukurlah mesinnya masih berfungsi dengan baik. Kalau begini tanpa orang-orang bodoh itu, aku bisa duluan sampai ke pulau Zebil (tersenyum licik)
Sedangkan tiga bersaudara Amori menemukan sebuah balon udara. Seketika wajah mereka bertiga berubah menjadi cemerlang, mereka memulai memeriksa dan mengotak-atik balon udara tersebut.
Terlihat sudah banyak peserta lainnya mulai bersiap-siap untuk berangkat dengan menggunakan perahu boat yang sudah selesai mereka perbaiki.
Peserta 3 : Ayo cepat kita berangkat! (semangat)
Peserta lainnya : Ayo, ayo! (semangat)
Kembali di bagian Kurapika dan lainnya.
Tidak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat. Hari semakin sore, terlihat matahari yang awalnya berada tegak di ujung kepala pun mulai sedikit demi sedikit menurun ke bawah.
Langit berubah menjadi warna merah kejinggaan dengan keadaan laut yang masih sama, begitu tenang akan tetapi burung camar semakin banyak yang berterbangan secara tidak teratur di atas kapal untuk saling memperingati sebagai tanda akan segera munculnya bahaya.
Gon dan Killua memutuskan untuk kembali menggeledahi kapal perang tersebut. Dan pada saat Leorio hendak menyusul Kurapika dan Hanzo yang sudah kembali ke dalam kapal.
Leorio melihat beberapa peserta ujian lainnya dengan perahu boat mereka sudah berlayar ke lautan. Dia pun bergegas ingin melaporkan hal ini ke Hanzo dan Kurapika yang berada di ruangan Nahkoda.
Hanzo : Jadi apa langkah kita selanjutnya?
Kurapika : Waktu terus berjalan, dan badai semakin mendekat. Setidaknya kita harus cepat dan segera melakukan sesuatu, apa pun itu.
Hanzo : Kurapika...
Kurapika melihat ke arah Hanzo.
Hanzo : Ada satu hal lagi yang mengganjal pikiranku, mengenai laut ini sewaktu Gon mengatakan ada mendengar sesuatu dari laut ini, firasat ninjaku mengatakan akan terjadi suatu yang gawat. Perasaanku benar-benar tidak enak. Mungkin akan segera terjadi sesuatu.
Kurapika mengangguk tanda setuju dengan pendapat Hanzo.
Kurapika : Bisa jadi justru itulah yang akan menjadi ujian kita yang sebenarnya.
Leorio : Setelah Gon mengatakan hal itu, sepertinya beberapa peserta ujian yang tadinya di pihak kita mulai panik dan ketakutan, sehingga mereka langsung memutuskan ikut berlayar mengikuti peserta lainnya dan mereka sudah mulai berlayar dengan menggunakan perahu boat, Kurapika.
Meskipun tenang, akan tetapi terlihat cukup jelas wajah terkejutnya Kurapika.
Leorio : Tapi kamu tidak perlu khawatir karena masih ada sebagian yang ingin berjuang dan bekerja sama dengan kita. Dan mereka semua berpikiran dan merasakan hal yang sama dengan kita.
Terlihat cukup banyak peserta ujian termasuk Tonpa, Gozz, Bourbon, dan lainnya berdiri di ambang pintu ruangan Nahkoda. Hanzo tersenyum puas dan Kurapika tanpa sadar ikut tersenyum lega.
Leorio : Lalu sebelum terjadi sesuatu, hanya ada satu hal yang bisa kita lakukan sekarang.
Hanzo : Apa yang bisa kita lakukan itu?
Leorio : Itu adalah...
Leorio bergantian melihat ke arah Kurapika dan Hanzo lalu melihat ke arah peserta lainnya yang berada di ambang pintu.
Leorio : Kita menentukan siapa pemimpin kita dan mulai bekerja!
Hanzo dan Kurapika saling pandang sejenak. Lalu setelah mereka berdiskusi beberapa saat kemudian, mereka menentukan dan memutuskan kalau Hanzo yang akan memimpin mereka semua.
Selain itu di bagian Gon dan Killua.
Gon dan Killua memanjat ke atas kapal dan menemukan sebuah pintu yang terletak di sudut dekat cerobong asap. Killua dan Gon saling menendang pintu itu untuk memaksa masuk ke dalam ruangan itu sampai pintu tersebut roboh.
Killua : Tidak kusangka ada sebuah ruangan tersembunyi. Kau hebat Gon bisa menemukan sebuah tangga pada cerobong asap kapal ini.
Gon hanya tertawa senang.
Killua : Benar-benar berantakan. Ruangannya pun bau pengap. Ayo cepat geledahi ruangannya!
Gon melihat ada sebuah meja kayu kecil yang terletak di sudut ruangan yang tidak begitu terlihat karena tidak disinari oleh cahaya matahari. Dia langsung berlari menuju meja tersebut lalu menemukan sebuah buku.
Gon : Killua, lihat ini! Aku menemukan sebuah buku.
Killua : Ini adalah catatan harian kapal ini. Bagus! Penemuan yang hebat Gon! (mengelus-elus kepala Gon dengan bangga)
Gon : Ayo cepat kita tunjukkan buku ini ke Kurapika dan Hanzo!
-Bersambung-
☆PLEASE COMMENT AND LIKE☆