My Version, Lucia [Hunter X Hunter]

My Version, Lucia [Hunter X Hunter]
39 - Fake x Or x Truth? Part 2



Majitani : Hehehe... (Gimana? Sekarang kalian pasti takut padaku, kan?) *tersenyum licik*


Majitani masih bergaya, dia sedang memamerkan tato laba-labanya dengan penuh rasa kepercayaan diri.


Baik Leorio maupun Tonpa sangat terkejut saat melihat tato laba-laba itu dan membelalakan mata mereka.


Leorio : Tato laba-laba berkaki dua belas... Itu...



Tonpa : Ya, aku juga tahu tentang itu... Semua yang ingin menjadi Hunter pasti sudah pernah mendengarnya. Itu adalah simbol dari anggota penjahat yang sangat terkenal dan sangat kuat, anggota dari Genei Ryodan!





Gon : Benarkah?


Leorio : Ya, tidak salah lagi. Mereka sudah sangat terkenal. Aku juga sudah mendengarnya langsung dari Kurapika.



Majitani : (Baja yang dipasang dalam tubuhku yang bisa memecahkan batu sekalipun, dan juga simbol Genei Ryodan. Setelah melihat kedua itu... Bahkan bocah sialan yang telah membunuh sahabatku, Bendot dan siapapun itu, pasti tidak akan ada yang berani melawanku!) *tersenyum licik*




Kurapika masih terpaku diam di tempat dengan kepala tertunduk ke bawah. Tiba-tiba Lucia tertawa keras. Tonpa, Leorio, Gon dan Killua sedikit tersentak kaget karena Lucia tertawa, dan mereka refleks melihat ke arah Lucia.



Tonpa, Leorio dan Gon pun merasa kebingungan. Sedangkan Majitani yang sedang asyik memamerkan tatonya pun tersentak kaget saat terdengar suara tawa Lucia yang menggelegar diseluruh ruangan ini.


Majitani : (Lagi-lagi bocah sialan (Lucia) itu! Dari awal dia selalu menggangu. Sekarang apa lagi? Bukannya semua aksi gaya dan dialogku sudah terlihat sempurna? Dan kenapa juga dengan peserta yang di depanku ini? Kenapa dia dari tadi diam saja?)


Killua melirik ke arah Lucia dan tiba-tiba dia teringat akan sesuatu.


Killua : (Ah, simbol laba-laba itu... Sebelumnya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya...)


Disela-sela tawanya, Lucia akhirnya mengatakan sesuatu.


Lucia : Hee... Genei Ryodan yang sangat terkenal, ya? Hehehe...


Leorio : Benar. Apa kamu tahu sesuatu?


Lucia : Tidak (tersenyum)


Gon : Terus kenapa kamu tertawa?


Lucia : Itu karena aku merasa lucu saja. Hehe..


Leorio : Apa maksudmu?


Lucia : Setelah mendengar cerita kalian tentang Genei Ryodan dan melihat orang itu dengan tato Genei Ryodan. Aku rasa kalian sudah tertipu. Hehehe...


Leorio : A-apa?! (kaget)


Majitani mulai panik dan kebingungan. Dia tidak tahu mau apa lagi sekarang karena semua bualan bahkan kartu ASnya yang termasuk tato palsu kebanggaannya pun sudah dipamerkannya. Akan tetapi masih tidak ada reaksi dari Kurapika.


Tiba-tiba Kurapika berdiri lalu mengangkat kepalanya sehingga bola matanya yang memerah pun terlihat dengan sangat jelas.




Majitani yang melihatnya pun sangat kaget dan ketakutan. Seketika dia refleks mundur ke belakang.



Majitani : (Baiklah, aku akan mencoba untuk bertahan sedikit lagi...) Aku salah satu dari ketua Genei Ryodan, Majit---


Belum sempat Majitani menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba leher Majitani sudah terpotong. Darah bercucuran keluar tanpa henti sampai habis tak bersisa lalu tubuhnya ambruk.


Semua orang yang berada di sana tersentak kaget termasuk para napi. Kurapika pun langsung menoleh melihat ke belakang tepatnya ke arah Lucia.



Gon, Tonpa dan Leorio : E-eh?! (kaget)





Seketika semuanya menjadi hening sejenak. Meskipun Majitani sudah mati, akan tetapi Lucia masih bisa merasakan kemarahan pada diri Kurapika. Bola matanya pun masih belum kembali normal. Tiba-tiba terdengar suara Lippo dari speaker.


Lippo : Peserta 100 telah mencampuri pertarungan peserta 404, maka kalian telah dinyatakan kalah karena sudah melanggar peraturan, meskipun napi sudah mati.


Lucia : Tidak masalah (tersenyum)


Terlihat angka skor lawan dengan tim Gon menjadi 2-1. Kurapika kembali berjalan ke tempatnya dengan kepala sedikit tertunduk.


Lucia : Ah, selamat datang kembali, Kurapika-san! (tersenyum)


Baik Leorio maupun Gon yang merasa khawatir mencoba menenangkan akan tetapi, gagal. Sedangkan Tonpa hanya bisa melihat saja dan terpaku diam di tempat. Dia merasa ngeri sehingga tidak bisa berkata apa-apa.


Leorio : Kurapika, beristirahatlah dulu sejenak... (khawatir)


Gon : Apa kau baik-baik saja, Kurapika? (khawatir)


Kurapika mengabaikan mereka semua, suasana hatinya sangat buruk setelah bertarung melawan Majitani. Dia tidak ingin berbicara ataupun melakukan apapun lagi saat ini. Dia langsung duduk di dalam dan bersandar ke tembok untuk menenangkan dirinya.



Lucia mendekati Kurapika yang sedang duduk di dalam.


Lucia : Maaf Kurapika-san, karena aku telah mencampuri pertarunganmu, jadinya kita kalah...


Kurapika : Tidak. Terima kasih karena sudah membantuku untuk membunuhnya. Kalau saja bukan kau, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama (tersenyum)


Lucia, Leorio dan Gon tersenyum lega karena merasa Kurapika sudah kembali seperti biasanya.


Leorio : Jadi apa kau benar-benar baik-baik saja sekarang, Kurapika?


Kurapika : Ya! Aku tidak terluka.


Leorio : Eh, begitu ya... (masih merasa ragu)


Gon : Kurapika tadi aku melihat matamu berubah menjadi merah, apa kamu tidak apa-apa? (masih merasa khawatir)


Kurapika langsung sedikit menunduk dan memegangi salah satu matanya sehingga membuat Leorio dan Gon dengan hati-hati mendekatinya, lalu ikut sedikit menunduk supaya bisa melihat wajah Kurapika dengan jelas.



Kurapika : Ah, maaf mengagetkan kalian. Saat aku melihat tatonya, dan meskipun aku sudah tahu itu palsu dan dia juga lemah, tapi entah kenapa saat aku melihat gambar laba-laba itu... Semua dalam penglihatanku berubah menjadi merah... (pupil mata sedikit bergetar)


Leorio : Yah, aku tidak bisa menyalahkanmu juga sih... Tapi apa maksudmu dengan kata palsu?


Kurapika : Ah, tato Genei Ryodan yang asli memiliki angka digambar laba-labanya. Lalu, mereka tidak menghitung berapa banyak orang yang sudah mereka bunuh. Dan aku ingin mengatakan yang sebenarnya...


Killua, Gon, Leorio : Hm?


Kurapika : Meskipun yang kulihat adalah laba-laba asli, kepribadianku juga bisa langsung berubah, dan aku tidak bisa menahan diri sehingga akan lepas kendali seperti tadi.


Lucia, Leorio, Gon, Tonpa dan Killua : E-ehh?! (kaget)


Leorio : Se-seharusnya kau katakan itu lebih awal dong... (merasa gugup)


Kurapika : Itu berarti... Rasa dendamku masih kuat seperti sebelumnya. Mungkin saja aku malah mensyukuri hal ini (kembali menundukkan kepalanya)


Gon : Kita harus menjauhkan Kurapika dari laba-laba (berbisik ke Leorio)


Leorio : Setuju (berbisik ke Gon)



Lucia : Yah, yang penting sekarang kau sudah baik-baik saja, itu sudah cukup. Ya kan, teman-teman? (tersenyum)


Killua : Kau tahu Kurapika, padahal pak tua ini sudah merasa ketakutan lho tadi.


Leorio : Si-siapa yang kau maksud, hah?! (mulai marah)


Semua tertawa kecuali Tonpa. Dan suasana yang tegang pun akhirnya mencair dan kembali normal seperti biasanya. Setelah itu, Leorio melihat ke arah lawannya.


Leorio : Baiklah, aku berikutnya! Aku akan memenangkan pertarungan ini, maka kita akan keluar dari sini! Siapa dari kalian yang berikutnya? Silakan maju! (menunjuk ke arah lawan dengan semangat 45)



Terlihat seorang napi berikutnya dengan masih memakai jubah hitamnya yang menutupi wajahnya serta tangan yang masih diborgol melangkah maju ke depan.



-Bersambung-


Please VOTE, LIKE, FAVORITE AND COMMENT ❤ THANK YOU ❤