![My Version, Lucia [Hunter X Hunter]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/my-version--lucia--hunter-x-hunter-.webp)
Gon dan lainnya sudah memasuki ruangan kecil. Pintu besi di ruangan tersebut terkunci rapat secara otomatis. Leorio berjalan menuju ke arah sofa panjang yang ada di dekatnya. Dia meletakkan tasnya lalu duduk dengan santainya.
Kurapika : Killua...
Leorio, Killua, Gon dan Lucia refleks melihat ke arah Kurapika. Sedangkan Tonpa melihat ke sekeliling di ruangan ini.
Killua : Huh?
Kurapika : Yang tadi itu, bagaimana caranya kamu bisa mengeluarkan jantungnya dengan mudah? Bisa kamu jelaskan tekniknya?
Killua : Teknik?
Lucia : Itu bukan teknik, Kurapika.
Kurapika menunjukan ekspresi bingung dan keingintahuan. Lucia tidak melanjutkan perkataannya, dia duduk di salah satu sofa tunggal yang ada di ruangan ini, lalu mengeluarkan sebuah gelang pemberian Zeno dari dalam tasnya dan memakainya.
Killua : Aku hanya mencongkelnya keluar.
Leorio : Mencongkel?! (merasa ngeri)
Killua : Benar (tersenyum menyeramkan) Seperti ini, biar mudah, aku memanipulasi tanganku.
Killua tersenyum menyeramkan. Dia menunjukkan tangannya ke atas, lalu memfokuskan mengalirkan aliran darahnya ke arah jari-jari tangannya sampai urat-uratnya muncul dan memanipulasi kukunya, hal ini menyebabkan killua bisa mencongkel jantung orang dengan mudah dan cepat.
Leorio yang memperhatikan tersentak kaget, sedangkan Gon hanya tercengang.
Leorio : Ku-kukunya...
Gon : Wah, hebat! (merasa kagum)
Killua : Orang yang tadi itu (Johness) adalah pembunuh amatiran, aku ini profesional (menunjuk diri sendiri dengan bangga) Tapi...
Lucia memotong pembicaran Killua.
Lucia : Seluruh anggota keluarga bisa melakukan hal seperti itu tapi aku tidak suka melakukan itu.
Gon : Kenapa? (tanya polos)
Gon melihat ke arah Lucia yang sedang duduk santai dan sambil merogoh isi tasnya.
Killua : Pftt. Bagi Luci langsung menggunakan darah lalu memotong kepala lawan, itu lebih mudah, benar? (tersenyum)
Lucia : Begitulah, lagian setiap darah yang kuubah, itu tidaklah kalah tajam dari kukumu.
Killua : Tapi ayah dan kakek lebih hebat dari kita. Ketika mereka mencongkel jantung, tidak ada sedikitpun darah yang keluar (tersenyum bangga)
Lucia : Benar! Ayah dan kakek itu sungguh luar biasa! (merasa kagum)
Killua hanya terkekeh melihat Lucia yang sedang berbinar-binar sambil menggenggam kedua tangannya ke atas.
Leorio : Ha ha ha (tertawa kaku) Keluarga Zoldyck memang begitu gila (merasa ngeri)
Kurapika melihat ke arah Lucia dan Killua yang sedang asyik membicarakan ayah dan kakek mereka.
Kurapika : (Syukurlah mereka berdua ada di pihak kita)
Leorio pun penasaran dan mulai mendekati Lucia.
Leorio : Tokorode Lucia (ngomong-ngomong Lucia), bisa kau tunjukkan sekali saja?
Lucia : Apa?
Leorio : Proses sewaktu darah berubah menjadi benda tajam itu.
Lucia : Hmmm... Boleh, tapi sebagai gantinya...
Leorio : Apa maksud senyumanmu itu? (merasa curiga)
Gon : Aku juga mau lihat! (semangat)
Killua : Oh, aku juga mau! (duduk tepat di samping Lucia)
Gon : Eh? Killua juga? Memangnya kamu tidak pernah melihatnya?
Killua : Pernah sekali, tapi itu sudah sangat lama sekali.
Kurapika meletakkan tasnya lalu dia yang juga penasaran pun ikut mendekat ke arah Lucia. Semua berkumpul mendekati Lucia. Sedangkan Tonpa tidak memerdulikan mereka, dia langsung duduk di sofa tunggal untuk menghilangkan rasa lelahnya.
**************************************
Di bagian Hisoka dan lainnya.
Operator : Geretta, nomor 384, yang keempat keluar dari ujian tahap ke-3. Waktu keseluruhan : 12 jam 37 menit.
Semua tatapan mata yang tajam dan tidak menyenangkan tertuju pada Geretta, akan tetapi Geretta yang tidak perduli dengan semua tatapan mata itu langsung berjongkok dan bersandar pada tembok yang tepat berada di pintu yang tadi dia keluar.
Geretta : Yah, tidak buruk juga, menurutku (bergumam)
Kembali di bagian tim Gon.
Waktu denda yang tersisa di bagian tim Gon adalah sisa 9 jam 37 menit.
Malam semakin larut, akan tetapi semua orang belum ada yang tertidur dan mereka sibuk dengan privasi mereka masing-masing.
Tonpa menonton TV sambil menikmati teh hijaunya, Leorio duduk bengong di sofa panjang miliknya, Kurapika sedang asyik membaca buku, sedangkan Killua sedang asyik bermain berdua dengan Gon. Killua mengajari Gon cara berdiri di atas skateboard miliknya.
Lucia duduk santai di sofa tunggal miliknya yang tidak jauh dari Killua dan Gon berada. Dia sedang berpura-pura mengikuti Tonpa menonton TV, akan tetapi pikirannya sedang fokus ke arah lain. Dia menggunakan sedikit kekuatan Nen nya supaya bisa bertelepati jarak jauh dengan Zeno melalui gelang pemberian Zeno.
Lucia : "Kakek, apa kau bisa mendengar suaraku?"
Zeno yang sedang bermeditasi sendirian di ruangannya pun tersenyum saat terdengar suara yang tidak asing baginya keluar melalui kepalanya, dengan perlahan-lahan dia membuka matanya.
Zeno : "Luci, bagaimana kabarmu dan Kil?"
Lucia tersenyum tipis, dia cukup berhati-hati supaya tidak mengundang kecurigaan dari Killua maupun lainnya.
Lucia : "Kami baik-baik saja, kek. Apa ayah dan kakek baik-baik saja? Ah, aku rindu sekali dengan kalian semua kecuali mama, kalluto dan kakak kedua"
Zeno bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju ke ruangan Silva.
Zeno : "Cukup basa-basinya. Katakan langsung ke intinya saja"
Lucia : "Seperti biasa, kakek tidak sabaran. Hihihi... Baik dengarkan baik-baik ya. Aku dan oniichan bertemu di kota Zaban dan kita mengikuti ujian Hunter dan aku bertemu aniki, ternyata aniki juga mengikuti ujian Hunter lalu bla bla bla..."
Lucia menceritakan semuanya dari awal pertemuannya dengan Killua di kota Zaban sampai kejadian sekarang. Akan tetapi ada sedikit yang dia manipulasi dan tidak diceritakan ke Zeno.
Lucia tidak menceritakan kalau dia dan Killua sudah berteman baik dengan Gon, Kurapika dan Leorio.
Lucia : "Pokoknya kakek harus memarahi aniki ya, dia sungguh pelit membagi darahnya ke aku!!"
Zeno : "Hohoho... Ternyata kalian semua lebih akrab dari yang kuduga"
Lucia : "Apa?! Tentu saja tidak! Aniki tidak pernah menunjukkan jati dirinya ke oniichan. Dan aku dan aniki selalu berjaga jarak satu sama lain. Ah! Apa ayah atau kakek yang menyuruh aniki membuntuti kami?"
Zeno : "Tidak. Luci, Silva mau berbicara denganmu."
Lucia : (Silva?! Ada apa ya? Aduh dia pasti mau menyuruhku pulang atau melakukan sesuatu dan aku belum siap diinterview oleh Silva. Aku harus mencari cara untuk menghindarinya, tapi bagaimana ya...) *berpikir keras*
Tiba-tiba Killua memanggil dan melambaikan tangannya ke arah Lucia.
Killua : Luci!! Kemari sebentar!!
Lucia : Nice oniichan!! (mengacung jempolnya ke arah Killua) "Ah, kakek sampai di sini dulu, oniichan memanggilku. Katakan kepada ayah simpan percakapan dan pertanyaan untuk di waktu berikutnya. Byeeee"
Telepati langsung terputus. Zeno membalikkan tubuhnya ke arah Silva lalu menggelengkan kepalanya. Silva hanya bisa tersenyum licik.
Zeno : Dia sungguh berbakat, dia seperti mengetahui apa yang kita pikirkan.
Silva : Fufufu... Dia jarak seperti ini, dia tidak mungkin bisa membaca pikiran kita.
*************************************
Matahari hampir terbit, waktu denda yang tersisa di bagian tim Gon adalah sisa 6 jam 03 menit lagi. Semua sudah tertidur dengan lelapnya, terdengar Leorio dan Tonpa yang mendengkur, akan tetapi baik Lucia maupun Killua masih terjaga.
Killua melihat ke sekeliling ruangan, dia memandangi langit-langit kamar di ruangan kecil itu. Sesekali melihat ke arah jam besar yang tertempel pada dinding ruangan.
Killua : (Sisa 6 jam lagi ya...)
Setelah itu, Killua menoleh ke arah kiri, dilihatnya Gon sudah menutupi matanya. Lalu dia menoleh ke arah kanan, meskipun Lucia menutupi matanya, Killua tahu kalau Lucia belum tidur.
Killua : Luci, kenapa waktu berjalan lama sekali ya? Aku bosan.
Lucia membuka matanya lalu dilihatnya Killua sedang melihat ke arahnya.
Lucia : Oniichan tidak bisa tidur ya?
Killua : Kamu kan tahu aku ini susah tidurnya.
Lucia : Benar, oniichan bisa tahan selama dua atau tiga hari tanpa tertidur sedikit pun.
Killua : Begitulah. Lagipula di antara seluruh keluarga, kamu yang paling mudah tertidur tapi kenapa kamu masih belum tidur?
Killua langsung bangkit dari tempat tidurnya dengan semangat lalu duduk menghadap ke arah Lucia dan membelakangi Gon.
Killua : Ok, kalau begitu---
Killua menajamkan kukunya dan hendak mau menggoreskan telapak tangannya.
Gon : Aku!! Aku!!
Killua : Gon? Bukannya kamu sudah tidur? (sedikit kaget)
Gon : Aku gak bisa tidur. Hehe.. (memegangi kepalanya dengan satu tangan) Ah, Lucia aku belum memberikanmu darahku, kan? Nih ambillah...
Gon mengulurkan tangannya ke arah Lucia dengan suka rela.
Lucia : Tidak usah Gon (tersenyum)
Gon : Tidak! Janji tetaplah janji! (menatap serius)
Lucia : (Percuma menolak, anak ini sungguh keras kepala) Hmm, baiklah. Kalau begitu...
Lucia mengambil belati kecil dari dalam tasnya dan menggeluarkan sebuah botol kecil berukuran 50ml. Gon mengambil belati kecil itu dan siap menggoreskan telapak tangannya.
Killua : Botol itu untuk apa?
Lucia : Menampung darahnya Gon.
Killua : Untuk apa? Kan kamu bisa meminumnya langsung.
Gon menghentikan aksinya dan dengan diam memerhatikan kedua temannya yang memulai perdebatan dengan bingung.
Lucia : Ah, untuk cadangan.
Gon : Anu...
Killua : Hmm, botol punyaku?
Lucia : Tidak ada dan tidak perlu (polos)
Gon : Anu... Killua... Lucia...
Killua : Hah?! Kenapa tidak ada dan tidak perlu?! (suara mulai meninggi)
Lucia : Aku kan bisa kapan saja meminum darahmu, oniichan... (menjawab dengan acuh tak acuh)
Gon yang kebingungan hanya bisa diam dan menyimak perdebatan antara Lucia dan Killua.
Killua : Apa bedanya dengan Gon, kamu juga bisa meminum darahnya kapan pun juga, kan?! (merasa kesal dan sambil menunjuk ke arah Gon)
Lucia : Tidak dan berbeda (jawab santai sambil melipatkan kedua tangan di dada)
Pada saat Killua mau membalas perkataan Lucia dengan cepat Gon meleraikan keduanya sebelum terjadi pertengarkan lebih lanjut.
Gon : Kalian berdua tenanglah. Begini saja biar adil, pada botol ini isinya kita bagi dua saja. Setengah darahku, lalu setengahnya lagi darah Killua. Bagaimana?
Killua : Oh! Gon, itu ide bagus!
Lucia : Boleh juga, lagian aku belum pernah menyoba rasa darah campur.
Gon : Ok, kalau begitu aku duluan ya!
Kurapika yang sebenarnya belum tidur dan dari tadi mendengar perdebatan mereka dalam keadaan diam akhirnya bisa merasa lega karena dilihatnya tidak terjadi pertengkaran. Dia tersenyum lalu membalikkan tubuhnya dan kembali mencoba untuk tidur.
*************************************
Di bagian Hisoka dan Illumi.
Matahari sudah muncul sangat tinggi di permukaan. Terlihat sudah banyak peserta yang mencapai lantai paling dasar.
Meskipun saling berhati-hati, semua peserta yang sudah lulus sedang menikmati sarapan mereka di tempat masing-masing.
Tiba-tiba ada dua pintu terbuka. Semua peserta refleks melihat ke arah pintu tersebut sambil mengunyah makanan mereka.
Pokkle : Yosha (baiklah), goal!! (senang) Huh? (terdiam)
Pokkle tidak merasa senang karena seseorang juga keluar bersamaan dengannya.
Operator : Pokkle, nomor 53 dan Goz, nomor 371. Keduanya bersamaan yang ke keluar dari ujian tahap ke-3. Waktu keseluruhan : 30 jam 40 menit.
Pokkle : Cih! Sialan...
Pokkle pergi meninggalkan Goz dengan kesal dan mengambil makanan yang tersedia di depannya.
Kembali di bagian Gon dan lainnya.
Waktu denda yang tersisa adalah sisa 4 jam 40 menit lagi. Kurapika melanjutkan membaca bukunya. Leorio menikmati sarapannya bersama Killua dan Gon.
Leorio : 4 jam 40 lagi ya... (sambil mengunyah)
Tonpa : Syukurlah waktu berjalan sangat cepat, aku sudah bosan sekali (sedang menggunting kukunya)
Leorio : Maaf deh!! (merasa kesal)
Tonpa tersenyum licik.
Leorio : Apa yang kau tertawakan, hah?! (masih merasa kesal)
Tonpa : Tidak ada (cuek)
Leorio : Aku tahu, kau pasti sedang merencanakan sesuatu lagi, kan?! (mulai emosi)
Tonpa langsung mengalihkan pandangannya ke samping.
Tonpa : Tentu saja tidak. Aku hanya ingin mengistirahatkan diri di tempat damai ini saja.
Leorio : Dasar pembohong! Aku tidak mempercayaimu, tahu!
Leorio langsung membelakangi Tonpa dan melanjutkan sarapannya dengan kesal.
Tonpa : Hmph! (Aku juga begitu!)
Gon : Killua, setelah keluar dari sini apa ya berikutnya? (mengunyah roti)
Killua : Entahlah. Luci, menurutmu?
Lucia : Pilihan suara terbanyak (sambil mengunyah roti)
Leorio : Apa? Lagi-lagi suara terbanyak? (mengeluh kesal)
Kurapika menutupi bukunya lalu menatap ke arah Lucia.
Kurapika : Apa akan ada pertarungan yang sama seperti sebelumnya?
Lucia : Tidak. Kita akan menjawab pertanyaan dan memilih dengan suara terbanyak, lalu...
Lucia terdiam sejenak lalu melirik ke arah Tonpa dan tersenyum licik. Semua mengikuti arah pandang Lucia.
Tonpa : Eh? Apa? Kenapa kalian semua melihatku? (merasa risih)
Killua : Yah, pokoknya apa pun yang terjadi kita berempat tetap akan kompak meskipun pak tua itu menghalanginya.
Lucia : Benar-benar (mengangguk-angguk)
Leorio : Awas saja kalau dia mencari gara-gara!
Tonpa : Memangnya apa?! (merasa tersinggung)
Setelah itu, mereka kembali sibuk dengan privasi mereka masing-masing dan tanpa sadar, sisa waktu mereka tinggal 01 menit lagi. Gon merenggangkan tubuhnya. Semua kembali bersemangat dan sudah bersiap-siap di depan pintu.
Leorio : Akhirnya...
Gon : Yosha! (Baiklah!) Aku siap!
Kurapika : Satu menit lagi!
Lucia : Sebentar lagi ya...
Killua : Satu menit pun lama ya...
Dan akhirnya pintu besi pada ruangan tersebut terbuka lebar. Gon langsung menerobos keluar terlebih dahulu dengan penuh semangat.
Leorio : Ah!! Oi, Gon kau curang!!
Killua langsung mengejar Gon.
Killua : Gon, tunggu!! (tersenyum)
-Bersambung-
Sorry for the late update 😅 Well, enjoy it. I hope you like this episode. Don't forget to LIKE, FAVORITE, VOTE AND COMMENT 😊🙏 Thank you...