My Untouchable Wife

My Untouchable Wife
Episode 9



Maheswari mengidap haphephobia. Apa itu haphephobia? Haphephobia adalah rasa takut dan kecemasan yang dapat sangat mengganggu kehidupan seseorang yang memilikinya, yang dipicu oleh sentuhan. Tidak sembarang orang yang bisa menyentuhnya. Pengobatan yang paling populer untuk fobia adalah untuk menemui seorang psikolog, psikiater, hipnoterapis. Namun Heswa selalu tidak mau untuk diajak terapi. Dia lebih suka menghabiskan


waktunya sendiri di perpustakaan atau kamarnya. Setiap pak Hasan dan Bu Sari mengajaknya untuk ke pskiater selalu saja Heswa mengeluarkan berjuta alasan hingga mereka menyerah.


"Klek", Suara pintu kamar mandi terbuka dan Jati keluar dengan menatap Heswa yang duduk di sofa kamar mereka.


“Wa, kamu sudah bawa baju gantimu semua? Besok pagi kamu mulai tinggal di rumahku!” Jati merapikan


rambutnya.


“Iya mas.” Jawab Heswa masih gugup.


“Aku udah mulai lapar. Ayo kita turun sekarang!” Jati berusaha membuat Heswa nyaman dengan keberadaanya.


“Mas, maaf kalau saat ini aku belum bisa menjadi istri yang sesungguhnya buat kamu!” Heswa memberanikan


diri mengatakan apa yang telah dipendam sejak akad nikah tadi berlangsung.


“Lihat mataku Heswa jika ingin bicara padaku!” Heswa berusaha menatap mata Jati lagi.


“Iya!” Jawab Heswa singkat.


“Kita turun sekarang ya, aku tidak menuntutmu untuk saat ini. Aku menghormati semua yang ada padamu.” Jawab


Jati dan berjalan menuju pintu. Heswa mengekor di belakang suaminya yang gagah


itu.


Mereka berjalan menuju restoran untuk makan malam bersama keluarga. Karena sudah dekat dengan restoran


Jati berjalan mengiring Heswa meskipun masih ada jarak.


“Pengantin baru kita ini kok masih malu malu” Bu Grace menggoda kedua anaknya itu.


“Hehehe” Heswa dan Jati  tertwa bersama.


“Jangan lupa cepet kasih cucu buat mama!” bu Grace merengek seperti anak lima tahun yang meminta coklat


pada orang tuanya.


dulu!” Jati mulai ngeles dari permintaan mamanya.


Semua tertawa dengan jawaban dari mulut jati yang to the point. Pak Hasan hanya bisa menggelengkan


kepala karena tak yakin akan bisa cepat mendapat cucu.


Mereka makan bersama diselingi canda tawa yang mereka lemparkan satu sama lain. Apalagi pak Hasan dan Pak


Hermanto yang memang teman sebangku saat sekolah. Sekarang mereka menjadi keluarga yang sesungguhnya.


Saat malam mulai larut dan wajah lelah mereka sudah tidak bisa disembunyikan lagi segera mereka menuju


kamar masing masing yang telah disediakan.


“Mas, aku tidur di sofa ya, maaf..”belum selesai Heswa mengatakan unek uneknya Jati memotongnya.


“Biar aku saja yang tidur sofa, kamu tidur di kasur.” Jati berjalan santai menuju sofa.


“Tapikan mas..!” Jati kembali memotong Heswa yang belum selesai bicara.


“Ssstt, apa kamu mau kita tidur berdua di tempat tidur? Aku kan laki laki sudah biasa tidur di sofa!” Jati


menggoda istrinya agar tidak melanjutkan perdebatan mereka.


“Mas….” Heswa memanggil suaminya yang melenggang santai ke sofa.


“Apa?” Jati berbalik sambil menguap dan ditutupi dengan telapak tangannya.


“Maaf!” Heswa berlalu menuju tempat tidur besar itu dan mengambil selimut besar dan bantal yang berjajar


rapi untuk suaminya.


Mereka berdua tidur di tempat masing masing. Tidak ada canda tawa, obrolan panjang, atau hubungan yang


lain seperti pasangan pengantin baru pada umumnya. Karena terlalu lelah mereka tertidur dengan pulasnya.