
Sebelum menikah, bu Sari telah memberikan wejangan kepada Heswa agar selalu siap melayani suami, agar hidupnya berkah. Mangkanya dia berinisiatif memasakan Jati makanan sendiri. Dia baru memulai usahanya untuk
menjadi istri yang baik.
Hampir setengah jam Heswa berkreasi di dapur barunya. Selagi Heswa berada di dapur Jati mengalihkan pandangannya ke layar TV. Jati berusaha berkonsentrasi pada TVnya namun pemandangan di dapurnya ternyata lebih menarik perhatiannya saat ini.
‘Aku harus memikirkan gimana biar bisa gerak cepat.’ Pikiran Jati mulai memberikan ide ide untuk menjadikan Heswa istri sebenarnya.
“Mas makanannya udah siap.” Suara Heswa yang mendekat membuyarkan lamunan Jati seketika.
“Kamu masak apa? Baunya enak!” Jati menghirup aroma masakan menu pertama buatan Heswa untuknya.
“Cuma buat sop ayam. Maaf ya mas kalau lama. Tadi nunggu nasinya mateng dulu.” Heswa mengambil piring dan Nasi untuk suaminya.
“Terima kasih, sayang.” Wajah Heswa mulai memucat dan hatinya tak karuan rasanya untuk saat ini. Sebenarnya dia bingung apakah ini rasa takut atau apa. Heswa tidak bisa menjelaskan dengan kata kata.
“Maaf ya mas kalau cuma masakin kamu ini, takut kamu kelaparan. Oh ya, besok aku mau belanja ya? tadi lihat bahan bahan dapur habis” Heswa meminta iin ke Jati untuk belanja kebutuhan pangan mereka.
“Ya besok aku temani kamu ke super market buat belanja.” Jati melahap makanan bauatan istrinya itu.
Selesai makan bersama Heswa segera membereskan peralatan makan dan masak yang kotor tadi. Tanpa disadarinya Jati selalu memperhatikan kegiatannya.
“Heswa, seprtinya kita harus memulai dari awal!” Heswa dibuat bingung dengan kata kata Jati.
“Maksudnya gimana?” Heswa melepas apron dan membersihkan tangannya.
“Ya, kita mulai dari awal seperti hubungan orang normal, dimulai dari perkenalan. Gimana?” Jati meminta Heswa duduk kembali di kursi makan.
“Ok!” Heswa menyetujuinya.
“Namaku Jati Mahendra Joyoutomo.” Jati mengulurkan tangannya ke Heswa.
“Makanan favorit kamu pasti tumis kangkung ya?” Jati mulai menggoda Heswa. Jati memang sudah mengetahui kesukaan dan ketidak sukaan Hesawa pada sesuatu.
“Loh mas Jati kok tahu? Kalau mas Jati suka makan apa?” Heswa mulai penasaran.
“Aku kan suamimu tentu aku tahu kamu suka tumis kangkung! Aku suka makan apa saja. Apa lagi masakan padang!” Heswa heran dengan suaminya yang setengah bule itu.
“Masa bule makannya rendang, paruh sama otak?” Heswa terkekeh meledek suaminya.
“Teman buleku banyak yang suka makanan Indonesia, apa lagi cewe Indonesia! hahaha” Jati membalas candaan istrinya.
“Mas Jati hobinya apa?” Heswa kembali penasaran dan Nampak antusias. Hal itu berhasil membuat Jati mengulum senyum.
“Aku suka Olah raga, traveling, naik gunung. Kalau kamu pasti lebih suka baca.” Jati mulai mendekat kea rah Heswa.
“Mas Jati curang, kalau begini namanya aku yang belum tahu mas Jati sama sekali.” Jati terkekeh mendengar ucapan Heswa.
“Heswa kamu harus terbiasa dengan aku. Aku ini suamimu jadi kamu harus lebih mengenalku daripada orang lain.” Heswa memandang Jati dengan jantung yang terus berdebar.
“Apa kamu punya pacar atau mantan pacar?” Heswa tiba tiba mengatakan hal yang tak disangka sangka oleh Jati.
“hahaha, aku punya banyak teman dan mantan pacar. Tapi aku hanya punya satu istri. Aku tidak akan pernah main main soal penikahan Heswa. Tenang saja, kamu satu satunya.” Jati meyakinkan Heswa.
“Baiklah aku percaya kamu, dan aku juga berjanji akan segera mencintaimu mas.” Heswa meyakinkan dirinya dan suaminya
“Kalau kamu punya mantan?” Jati iseng bertanya begitu.
“Punya.” Heswa berhasil membuat Jati penasaran.