
“Sepertinya warna ini cocok dikulit mbak Heswa bu” Dara menunjukkan kain yang disentuhnya.
“Ini buat nikah Ra, bukan wisuda. Harusnya warna putih saja” Jawab bu Sari sembari pergi mencari bahan yang lain.
“Jaman sekarang gak harus putih kok bu!” Jati tiba tiba menyahut dari belakang mereka dan mencoba membela calon adik iparnya.
Mereka akhirnya memutuskan menggunakan warna silver. Bu Sari awalnya tidak setuju, namun semua mendesak agar untuk menggunakan warna silver. Karena merasa kalah suara akhirnya bu Sari mengalah dan mengikuti kemauan
semuanya.
Mereka semua pulang setelah menyelesaikan pembayaran.
Jati bergegas menuju rumah orang tuanya untuk makan siang bersama. Jalanan hari ini begitu padat hingga Jati harus menghabiskan waktu hampir empat puluh lima menit untuk menuju rumah orang tuanya.
“Assalamu’alaikum” teriak Jati saat memasuki rumah orang tuanya.
“Waalaikumsalam” sahut mama Grace dan Ardina berbarengan dari meja makan.
“Jati sore nanti kita cari orang untuk buat baju nikah kalian!” Bu Grace meminta Jati agar bisa mencari designer.
“Gak perlu ma, Ibu udah mau buatin Heswa baya sendiri. Nanti tinggal aku cari suit yang pas sama kebaya Heswa.” Jati menenangkan mamanya agar tidak terlalu sibuk mengurusi semuanya.
“Tapikan …” belum selesai mamanya berbicara Jati kembali memotong.
“Kita juga harus menghargai keputusan mereka untuk menentukan kebaya anak perempuan mereka.” Jati mengingatkan mamanya sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.
Akhirnya mereka memutuskan segera makan dan mengurusi
kebutuhan yang lain. Kedua pihak keluarga setuju melangsungkan acara pernikahan
Jati dan Heswa di cabang hotel milik keluarga Jati yang ada di kota tersebut.
***
Tiga hari setelah itu Jati sedang berada di ruangan perusahaan mereka. Dia begitu sibuk dengan agenda rapat di dalam perusahaan maupun di luar perusahaannya. Negosiasi a lot dengan client sudah menjadi hal biasa baginya. Hari ini terasa begitu melelahkan baginya.
“Huft” dia menghembuskan napas kasar.
“Pak, nanti jam tiga kita ada rapat dengan Pak Dirut untuk laporan bersama para manager” Adrian sekretaris sekaligus tangan kanannya menyampaikan agenda selanjutnya.
“Yan, tolong pesenin makan. Saya lapar soalnya tadi belum jadi makan.” Perintah Jati pada Adrian.
“Siap Boss!!” Ucap Adrian dan segera bergegas memsan makanan via online. Adrian juga meminta Kinan skretaris Jati yang lain untuk menyiapkanberkas untuk rapat nanti sore.
Rapat kurang lima menit Jati dan bawahannya sudah siap di ruang meeting menunggu kedatangan pak Hermanto. Rapat berlangsung dengan lancar. Tanpa basa basi pak Hermanto juga mengumumkan bahwa beliau akan pensiun.
Jati yang akan menggantikan posisinya sebagai pewaris utama. Tak lupa pak Hermanto juga mengumumkan pernikahan Jati dan meminta mereka datang.
***
Sementara dikediaman Heswa. Heswa sedang asik chatting dengan teman temannya. Kedua teman Heswa sedang sibuk menyiapkan persiapan magang mereka dan Heswa. Tia dan Selvi membantu Heswa menyiapkan semua keperluan magangnya. Mereka tahu bahwa Heswa sedang sibuk menyiapkan pernikahannya yang mendadak.
“Heswa, semua sudah beres. Nanti kamu tunggu kabar lagi dari kami ya?!” Suara Tia dari sebrang telpon.
“Iya…Makasih banyak ya udah mau bantu aku.” Heswa lega mendapat kabar dari Tia.
“Tadi kita udah ajukan kebeberapa perusahaan yang gede juga. Siapa tahu jodoh bisa magang di sana. Hehehe” Tia tertawa dengan penuh harapan.
Tia tidak mengetahui bahwa Sukomoro group adalah perusahaan milik keluarga calon suami Heswa. Tia hanya tahu bahwa Sukomoro grup adalah perusahaan besar impian para lulusan jurusan arsitektur. Tia dan Selvi juga memasukkan Heswa pada perusahaan tersebut.