
Ponsel Jati terus berdering nyaring. Jati segera menerima panggilan dari mamanya itu.
"Halo ma, ada apa?" Jati masih memandang Heswa yang sedang memasak.
"......"
"Iya, sekarang?"
"...." Jati menutup sambungan teleponnya.
"Wa, mama mau mampir kesini. Udah deket katanya. Cuma mau nganter kue aja" Jati menjelaskan lalu pergi dari hadapan Heswa.
Sekitar sepuluh menit berlalu bu Grace menampakkan batang hidungnya. Bu Grace hanya ingin memberikan kue yang tadi dia beli lalu bergegas pulang karena tak ingin mengganggu waktu anak dan menantunya.
Menjelang malam Jati dan Heswa makan bersama. Mereka masih melanjutkan pembicaraan soal saling mengetahui satu sama lain. Pertanyaan yang terlontar mulai dari hari ulang tahun, warna favorit, tempat makan favorit, dan lain lain.
***
Tiga hari kemudian, pagi pagi sekali Jati menuju kekantor perusahaanya dengan penuh semangat. Ya, hari ini Jati naik jabatan menjadi CEO. Pak Hermanto sudah menyiapkan semuanya termasuk pesta perpisahan kecil kecilan untuk para karyawan kantornya.
"Selamat Jati, akhirnya naik jabatan juga" Ujar Adrian berbisik di telinga sahabatnya.
"Thanks" Jati menjawabnya sambil tersenyum puas.
Jati pulang kembali ke rumah setelah semua selesai. Tak lupa Heswa juga menyiapkan pesta kecil untuk mereka rayakan berdua. Heswa juga membelikan dasi baru sebagai hadiah untuk suaminya.
"Selamat mas, ini hadiah buat kamu Heswa mencium tangan suaminya." Sebenernya tadi Heswa sudah berencana ingin memeluknya tapi tiba tiba detak jantungnnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Thanks. Apa ini?" Tanya Jati penasaran
"Buka saja!" Heswa berlalu menuju meja makan yang sudah terhidang makanan favorit Jati.
"Siapa takut." Heswa menjawab dengan percaya diri. Sebenarnya Heswa masih belum percaya dengan apa yang dia ucapkan tapi dia yakin akan melakukannya.
Keesokan harinya saat Jati akan berangkat kerja dia keluar kamar dengan membawa dasi ditangannya.
"Heswa!!" Jati menyodorkan dasi yang ada di tangannya.
"Iya" Heswa menuju ke arah jati mengambil dasi itu dan berusaha menyimpul dasi untuk Jati. Tak bisa dipungkuri tangan Heswa terasa lemas saat harus memasangkannya di leher Jati.
"Boleh pegang kepala kamu?" Jati meminta izin untuk mengusap lembut kepala Heswa. Heswa hanya mengangguk lemah sambil menutup matanya.
Jati bergegas pergi menuju kantor setelah berhasil membelai kepala istrinya.
***
Seminggu sudah mereka menjalin hubungan suami istri. Besok adalah hari dimana mbak Lastri, pak Lukman dan anaknya kembali kerumah itu.
"Heswa, hari ini kamu pindah ke kamar utama!" Jati mengingatkan Heswa karena besok mbak Lastri sudah kembali kerja.
"Deg" Jantung Heswa rasanya mau berhenti berdetak. Dia bingung bagaimana nanti kalau terjadi apa apa (Sesuatu yang diinginkan Jati).
"Iya mas, aku beresin barang barangku dulu." Heswa segera bergegas menuju ke kamarnya.
"Aku bantu ya?" Jati mengekor di belakang Heswa. Heswa hanya mengangguk pasrah.
Jati dan Heswa berkemas barang barang Heswa yang lumayan banyak. Mereka memindahkan semua barang ke kamar Jati. Ini pertama kalinya Heswa memasuki kamar Jati.
Kamar Jati ternyata luas dengan tempat tidur besar berada di tengah tengahnya. Jendelanya juga lebar dengan tirai warna abu yang menggantung indah pada setiap sudut jendelanya. Ada sofa dan deretan buku yang berjajar rapi di raknya. Semua tampak rapi menurut Heswa. Kamar mandinya juga luas ada shower dan bathtub juga. Sepertinya Heswa akan menyukai kamar ini.