My Untouchable Wife

My Untouchable Wife
Episode 4



Semua telah berkumpul di ruang tamu pak Hasan kecuali Heswa yang masih berada di kamar. Sepuluh menit telah berlalu yang ditunggu tak kunjung keluar.


"maaf pak Hasan, Maheswari belum siap?" tanya seorang bule berambut coklat lebat itu memotong pembicaraan antara pak Hasan dan pak Herman, yang tak lain adalah ibu Jati.


"Dara, tolong panggilkan mbakmu di kamarnya!" Dara segera bergegas menuju lantai 2 untuk memanggil kakaknya yang belum ingin beranjak dari kamar.


"Mbak Heswa, ayo keluar semua sudah nunggu Mbak Heswa." Dara berusaha mengetuk dan mendorong sedikit pintu kamar Heswa agar terbuka.


Heswa bergegas keluar namun masih ragu ragu. Dia berusaha menata hatinya agar tidak membuat malu keluarganya. Dara mendekati kakaknya yang terlihat tegang dan kacau itu.


" Tenang mbak, Mas Jati orangnya ganteng loh. Pasti mbak suka, keren lagi mbak. Pokoknya gak bapak gak salah pilih lah" Dara berusaha menenangkan hati kakaknya.


Heswa segera memeluk adik kesayangannya itu, dia berusaha mengambil napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Heswa segera meminta Dara menemaninya turun untuk bertemu tamu "penting" kedua orang tuanya.


"Nah, ini Maheswari biasanya kita panggil Heswa. Dia yang akan dijodohkan dengan Nak Jati! " pak Hasan memperkenalkan Heswa yang tertunduk didepan keluarga Joyoutomo.


"Heswa ingat kita kan? Saya dan Pak Hermanto dulu sering datang kesini dan bermain bersamamu dan mendiang kakakmu." bu Grace berusaha mencairkan suasana hati Heswa agar tidak merasa canggung dengan keluarganya.


Jati berusaha memperhatikan fisik calon istrinya itu, namun sayang wajah Heswa yang manis kurang begitu jelas karena Heswa terus menunduk.


" Iya tante, aku ingat tapi itu sudah lama jadi tidak begitu banyak mengingatnya" Heswa berusaha menghilangkan rasa gugupnya.


"Jangan panggil tante dong, kan mau jadi anakku. Panggil saja Mama!" sambil menepuk pundak Heswa yang sudah mulai tenang.


"Iya ma!" Heswa sudah merasa lebih baik sekarang. Dia mulai berani menatap bu Grace dengan senyum manisnya.


Jati adalah anak pertama dan anak laki-laki satu satunya dari pak Hermanto dan bu Grace. Soal wajah tak perlu diragukan. Dia memiliki wajah perpaduan Asia dan Eropa. Badannya atletis dan memiliki tinggi sekitar 185cm. Rambutnya lurus, hitam dan selalu rapi.


"Jadi kedatangan kami kesini ingin sekali meminta Heswa jadi menantu kami." Pak Hermanto mengutarakan maksud kedatangannya langsung di depan Heswa.


"Heswa mau kan jadi menantu kami? Kami sangat berharap kamu mau menerima anakku itu." sambil menunjuk kearah Jati yang tetap stay cool.


"Iya, tapi apa boleh saya mengajukan syarat?" Heswa menatap mantap kearah bu Grace dan Pak Hermanto.


"Syarat apa yang harus kupenuhi?" Jati mulai bersuara dan tampak tidak percaya dengan apa yang indranya dengar.


"Saya ingin melanjutkan kuliah saya sampai selesai walaupun sudah menikah, saya juga ingin meraih cita cita saya dengan bekerja dibidang yang selama ini saya inginkan. Dan yang terakhir saya tidak mau jika nanti acara pernikahannya digelar mewah. Saya ingin hanya ada orang orang terdekat saja. " Heswa berusaha tenang menjelaskan semua syarat yang ia ajukan.


Semua orang saling menatap satu sama lain. Pak Hasan menatap heran putrinya yang mengucapkan syarat itu. Selama ini Heswa tidak pernah membicarakannya.


" Baiklah akan kami penuhi semua syaratmu!" Jati berbicara dengan tegas sembari menatap wajah calon istrinya.


Pernikahan yang direncanakan itu akan digelar dua minggu lagi. Mereka mantap memilih hari kamis untuk melakukan ijab qabul dan resepsi sederhana sesuai permintaan Maheswari.


Karena semua setuju akhirnya acara lamaran yang sederhana itu ditutup dengan sesi makan bersama dan semua menikmati masakan rumahan ala keluarga Maheswari.


Selesai sesi acara makan bersama keluarga Joyoutomo bergegas pulang dan mempersiapkan semua surat dan syarat untuk pernikahan Jati dan Heswa.