My Untouchable Wife

My Untouchable Wife
Episode 2



Air mata Heswa mulai bercucuran seakan tak terima dengan keputusan kedua orang tuanya.


"Besuk mereka akan datang untuk melamarmu. Hanya ada keluarganya saja." jelas pak Hasan mengarahkan pandangannya ke Heswa yang tertunduk lesu.


Heswa bergegas menuju kamarnya meluapkan semua emosi yang sudah tak terbendung. Dia berteriak sekras mungkin namun wajahnya ditutupi bantal agar teriakannya tak terdengar. Heswa tak sadar matanya telah terlelap karena lelah menangis.


Tok...tok...Tok...tok bu Sari berusaha membujuk anaknya keluar.


"Heswa.... Sudah malam nak, ayo makan dulu." bu Sari menerobos masuk ke kamar sederhana milik Heswa.


"..." Heswa tak menjawab ibunya.


Bu Sari mulai membelai kepala anaknya yang ditumbuhi rambut hitam dan tebal itu.


"Bangun Heswa... Sekarang sudah malam. Kita makan dulu ya! Nanti kalau gak makan sakit perut loh!" bu Sari berusaha membujuk anaknya.


"Bu... Aku gak mau nikah! Aku gak siap. Aku masih pengen kuliah, Kerja, main sama temen atau mungkin aku bisa lanjut S2." Heswa berusaha meyakinkan ibunya dengan cita citanya.


"Dia tahu Heswa kamu masih kuliah. Dia juga mau membiayai kuliahmu. Dia siap jika kau mau melanjutkan S2." bu Sari berusaha menceritakan hal baik tentang calon mantunya.


"Apa dia bisa menerima kondisi traumaku?" Heswa berusaha menakuti ibunya dengan hal menakutkan bagi keluarganya.


Bu Sari diam agak lama, membelai rambut anaknya yang panjangnya sebahu itu.


"Bisa... Bapak sudah menceritakan kondisimu!" jelas bu Sari meyakinkan anak gadisnya.


Heswa terdiam sejenak. 'Apa benar nanti dia bisa menerima kondisiku saat ini yang masih trauma dengan lawan jenisku' gumam Heswa dalam hati.


Acara makan malam yang biasanya begitu hangat sekarang terasa hening dan dingin. Semua mata tertuju pada wajah Heswa yang sembab sebab banyak menangis. Selesai makan mereka melanjutkan aktifitas mereka masing masing. Heswa segera bergegas menuju kamar tanpa mengatakan apapun.


"mbak..." teriak Dara dari balik pintu kamar kakaknya.


"Masuk ra..." sura Heswa terdengar agak serak.


"Mbak, jangan nangis terus. Besok bisa bisa calon mbak dan ortunya kaget lihat mbak kaya gini. Yang aku dengar calon mbak Heswa pengusaha muda, anak dari pemilik usaha Sukomoro Group." Dara menatap kearah kakaknya dengan penuh penasaran.


"sepertinya begitu Ra..." jawab Heswa dengan wajah datar.


"Emang bener mereka mau berbesan dengan seorang PNS yang pas pasan?" Dara semakin penasaran dengan mereka.


"Kamu tuh kebanyakan nonton sinetron yang gak jelas" Heswa mengacak rambut adiknya sembari berjalan menuju arah kaca.


"Mbak nanti kalau mbak nikah aku curhat sama siapa dong? Mbak pasti sibuk dengan keluarga mbak sendiri." Dara tertunduk lesu di pinggir tempat tidur Heswa.


"Kamu kan bisa curhat sama ibu atau bapak Ra" Heswa berusaha menghibur adiknya.


"Mereka terlalu tua mbak. Gak asik kaya mbak kalau diajak curhat" gerutu Dara pada kakak kesayangannya.


Dara sekarang masih duduk dibangku SMA kelas 1. Dia begitu mengidolakan kakaknya yang cantik itu. Dia ingin sekali bisa kuliah dan menjadi yang terbaik di sekolah seperti kakaknya. Dara belum siap melihat kakaknya harus terpisah darinya.


"Kamu kan bisa telp atau chat mbak! Ra, kita semua akan baik baik saja seperti biasa." Heswa berusaha meyakinkan dirinya dan Adiknya yang tertunduk lesu.


Heswa meminta adiknya kembali ke kamar dan istirahat untuk mempersiapkan hari esok.