
"Maaf pak, ada pak Adrian datang." Mbak Lastri melaporkan kepada Jati tentang kedatangan Adrian yang mendadak. Jati segera menghampiri Adrian di ruang tamu.
"Ada apa Yan? Tumben datang mendadak." Jati menaikan satu alisnya.
"Tanda tangan dulu tuh dua berkas yang kau abaikan tadi." Adrian meletakkan dua map yang tadi belum sempat Jati tanda tangani.
"Ya udah sini." Jati meraih berkas itu lalu menanda tanganinya dengan cepat.
"Gara gara ini aku harus sedikit lembur." Jawab Adrian ketus.
"Silakan diminum mas tehnya" Heswa menyodorkan dua gelas teh.
"Terima kasih mbak" Adrian tersenyum manis.
"Jangan genit sama istri boss!" Jati sedikit kesal melihat ekspresi Adrian.
"Dia siapa mas?" Heswa berbisik lirih ke telinga Jati.
"Heswa, ini Adrian Sanjaya asistenku dan Adrian ini Heswa istriku." Jati memperkenalkan mereka. Jati meminta agar Heswa bersalaman dengan Jati. Heswa meraih tangan Adrian agak ragu.
Sebenarnya Adrian sudah tahu Heswa. Adrian selalu mendampingi Jati dimana pun, bahkan saat Jati menikah Adria juga yang sibuk mengurus semuanya.
"Aku masuk ya mas!! Silakan diminum tehnya" Heswa kembali ke ruang TV melanjutkan nonton filmnya.
"Sudah tidak ada hal penting lagi kan? Kau bisa pulang sekarang" Jati mulai terusik dengan kedatangan Adrian.
"Ya ampun boss!! Berilah aku waktu sebentar untuk istirahat. Kau pikir ini tadi keteledoran siapa?" Adrian mulai berani menyalahkan bossnya.
"Kau..."Jati belum sempat menyelesaikan kalimat ancamannya namun Adrian sudah berlari menuju mobilnya.
Jati kembali menghampiri Heswa yang tertawa lepas menonton film komedi. Menurut Jati Heswa terlihat begitu menggemaskan saat dia tertawa.
"Kamu makan apa?" Jati merampas potato chips yang Heswa dekap sedari tadi.
"Iiihh Mas.." Kali ini Heswa mengerucutkan bibirnya beberapa centi. Dia begitu kesal dengan tingkah suaminya.
"Pak Lukman, besok tolong ganti oli mobilnya." Jati melihat pak Lukman yang sedang mengambil air minum di dapur.
"Bukannya mobil itu tidak pernah dipakai pak?" Pak Lukman mulai mendekat.
"Mama sering pakai kalau pergi keluar kota." Tegas Jati.
"Baik pak." Pak Lukman hendak beranjak dari tempatnya.
"Pak Lukman" Panggil Heswa gugup.
"Iya bu.." Pak Lukman menundukkan kepalanya.
"Maafkan sikap saya tadi ya. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya punya fobia bersentuhan dengan lawan jenis." Heswa berusaha meleburkan ketidak nyamanannya dengan pak Lukman.
"Iya bu, tidak apa apa. Saya mengerti" pak Lukman tersenyum lega.
"Panggil mbak Heswa saja pak." Heswa kurang suka dengan panggilan bu atau nyonya.
"Iya mbak" Pak Lukman mencoba mengulanginya.
"Coba sekarang kamu salaman sama pak Lukman." Jati ingin melatih Heswa supaya tidak kaku lagi bila menghadapi orang baru.
Melihat Heswa dan pak Lukman berslaman Jati merasa senang. Ternyat tindakan Jati selama ini mulai membuahkan hasil.
"Pak, mbak, makan malamnya sudah siap" Mbak Lastri mengahampiri mereka. Pasangan itu segera menuju ruang makan yng letaknya hanya bersebrangan.
***
Grup Tiga Srikandi
Selvi: Kalian juga mendapat email dari Sukomoro juga?
Tia: Iya..mereka memberikan tes membuat design.
Heswa: Iya, aku sudah mengirimkan design-ku.
Tia: Aku masih proses pembuatan.
Heswa: Siapa takut.
Tia: Ok. Semoga ada jalan untuk kita bertiga.
Heswa kembali meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Kamu rencananya magang di mana?" Jati ingin sekali Heswa masuk ke perusahaannya
"Belum tahu mas. Aku dan teman temanku sudah memasukkan lamaran ke beberapa perusahaan." Jelas Heswa sedikit lesu.
"Apa kamu juga melamar di perusahaan kita?" Jati mulai KEPO.
"Mas, misalkan aku memasukkan lamaran kesana jangan sampai mas Jati ikut campur ya. Aku ingi tahu kemampuanku sendiri. Jangan samapi ada yang tahu statusku adalah istri boss mereka. Kalau sampai mas Jati meminta karywan Mas menerimaku tanpa prosedur aku bakalan pulang kerumah bapak selama satu bulan." Heswa mulai berani mengancam Jati kali ini.
"ok. Aku janji" Jati bersumpah di depan Heswa sambil mengacungkan dua jarinya.
"Karena Tia yang mendaftar jadi aku juga kurang tahu apakah dia mendaftarkanku ke tempatmu" Heswa meringkuk ke dalam selimut untuk menghindari pertanyaan Jati.
"Heswa.." Jati memanggil istrinya mesra
"Hmmm" Heswa berbalik melihat kearah suaminya.
"Boleh cium kening?" Jati mulai berani meminta lebih.
"Gak" Heswa terkekeh melihat wajah Jati yang kecewa. "Bercanda mas, ya pasti boleh dong. Kamu kan suamiku." Heswa tak tahan melihat wajah Jati yang kecewa.
"Cup" Heswa menutup matanya kala Jati mengecup keningnya. Jantungnya terasa berhenti sejenak.
"Mulai sekarang kalau kita mau tidur, bangun tidur dan tiap aku berangkat kerja aku akan melakukannya." Heswa tertunduk malu dan mulai memngigit bibir bawahnya lagi karena merasa gugup dan takut.
"Mas, maaf ya. Sudah hampir dua minggu kita menikah tapi aku belum bisa menjadi istri yang sesungguhnya." Heswa membenamkan kepalanya di bantal.
"Sudahlah, kita lakukan saja pelan pelan. Aku janji tidak akan memaksa kamu." Jati meyakinkan istrinya dengan menatap lekat kedua mata Heswa.
"Apa kamu sudah mengantuka?" Heswa menggelengkan kepalanya. "Mau pergi jalan jalan malam?" Jati mengulurkan tangannya.
"Kita mau kemana mas?" Heswa meraih tangan Jati.
"Wisata kuliner malam" mereka beranjak dari tempat tidur.
"Mas yakin masih bisa makan?" Tanya Heswa heran.
"Kita jajan aja. Beli martabak atau beli martabak manis" Heswa mengangguk antusias.
Jati melajukan mobilnya ke tempat jajanan yang biasa buka pada malam hari. Kali ini mobil Jati berhenti di tempat yang seperti pasar pada malam hari. Banyak sekali penjual yang berjajar menjajakan makanannya.
"Kita beli martabak aja ya" Jati bertanya kepada Heswa sambil menganngkat sebelah alisnya.
"Iya mas. Kamu mau Daging, Ayam atau sosis?" Heswa sedikit bingung.
"Daging aja deh mas" Jati mengangguk setuju.
"Pak, martabak isi daging spesial satu." Jati memesan kepada pemilik kedai.
"Iya mas, di tunggu ya" dengan sigap pemilik kedai membuatkan pesanan Jati.
Setelah menunggu sedikit lama pesanan mereka sudah siap. Jati segera membayar dan kembali ke mobilnya.
"Wah.. harum banget baunya..."Heswa menciumi kardus yang sedang dia pegang.
"Kita cari tempat buat makan." Heswa mengeryitkan dahinya.
"Kita gak makan di rumah mas?" Jati menggelengkan kepalanya.
"Nah, di pinggir taman itu saja" Jati menunjuk kearah taman kiri jalan yang masih agak ramai.
Mereka menikmati martabak di dalam mobil. Layaknya pasangan yang baru pacaran dan tidak tahu harus kemana. Jati dan Heswa menikmati martabak yang hangat itu. Begitu merasa puas mereka pulang kerumah dengan perut kenyang.
"Terima kasih mas, udah ajak aku merasakan kencan kedua setelah agenda belanja kita waktu itu." Baru kali ini aku merasakan kencan yang seperti orang lain rasakan" Jati terkekeh mendengar ucapan Heswa. Istrinya begitu mempesona saat dia merasa malu.