
Heswa menghembuskan napasnya kasar. Dia berbaring membelakangi Jati yang sedang terlentan sambil menatapĀ langit langit atap kamar. Bohong jika pikiran Heswa sekarang tidak berkecamuk. Wajahnya saat ini sudah mulai pucat. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Keringat dingin mulai keluar dari setiap pori pori kulitnya.
"Kamu belum tidur?" Suara lembut Jati membuyarkan pikirannya.
"Belum mas, Kenapa mas Jati juga belum tidur?" Heswa masih mempunggungi Jati.
"Dari tadi aku memperhatikanmu yang gelisah." Jati menoleh ke arah Heswa yang meringkuk.
"Aku tidak apa apa mas." Heswa menggigit bibir bawahnya karena gugup.
"Kalau kamu merasa terganggu aku akan tidur di sofa saja." Jati bangkit dari posisinya.
"Ja-jangan mas!!" Ucap Heswa ragu ragu.
Jati mengangkat sebelah alisnya. Dia kembali berbaring di sebelah istrinya. Dia membut batas dengan guling agar istrinya merasa nyaman. Jati meraih ponselnya yang tergeletak di nakas samping tempat tidurnya.
"Mas mau kemana?" Heswa merasakan Jati yang beranjak dari tempat tidurnya.
"Mau kekamar mandi, tiba tiba perutku mules!" Jati membuat alasan agar Heswa bisa tidur.
"Apa kamu baik baik saja? Apa tadi salah makan?" Heswa berteriak dari balik pintu kamar mandi.
"Aku tidak apa apa. Tidurlah Heswa, jangan cemas. Aku tidak akan berbuat apa apa." Jati duduk termenung diatas kloset yang entah sampai kapan.
Merasa sangat lama di dalam kamar mandi Jati keluar dan mengarahkan netranya ke arah Heswa.
'Ternyata sudah tidur' Gumam Jati dalam hati. Jati menghembuskan napas kasar dan bergegas menuju tempat tidurnya dengan perlahan agar tidak menguik tidur Heswa.
***
Pagi hari saat mata hari sudah menampakkan dirinya dan Jati perlahan membuka matanya. Entah sejak kapan posisi tidurnya sudah berubah. Tangan Jati sudah berada di atas badan Heswa saat ini. Tanpa Jati sadari tangannya menyentuh sesuatu yang bulat kenyal namun padat di tangannya.
'Wow, ternyata begini rasanya.' Jati bergumam dalam hati. Jati bergegas bangun dan tidak ingin membangunkan Heswa dari tidurnya. Dia kembali membentuk tangannya merasakan kembali apa yang tadi dia pegang.
Kali ini Jati menyeringai ke arah Heswa. Dia seperti siap memangsa istrinya yang masih terbaring di atas ranjang.
'Andai aku bisa memainkannya pasti sangat menyenangkan.' Jati kembali bergumam dalam hati. Juniornya kini memberontak dibalik celananya. Dia bergegas beranjak dari tempatnya dan menuju ke kamar mandi untuk menenangkan adik kecilnya.
"Sudah, kamu mandi dulu sana. Hari ini aku kenalkan ke mbak Lastri dan pak Lukman." Jati merapikan kerah kemejanya.
"Mas hari ini mau makan apa?" Heswa menawri suaminya dan bergegas mandi agar segera bisa masak.
"Aku mau makan nasi goreng, tapi kamu yang masak ya!" Teriak Jati dari balik pintu.
Heswa menyelesaikan mandinya secepat kilat. agar suaminya tidak telat.
"Sini dasinya!" Heswa meminta dasi dari tangan Jati.
"Cepet banget mandinya." Heswa tergesa gesa memasangkan dasi suaminya dan tanpa di sadri menjerat leher Jati. "Uhuk...uhuk..uhuk.." Jati terbatuk akibat ulah istrinya.
"Ma-maaf mas, aku tidak ingin kamu telat" Heswa menggigit bibir bawahnya karena takut. Jati yang melihat hal itu merasa gemas dengan istrinya. Jati hanya bisa menelan salivanya dan ingin sekali menggantikan gigi istrinya itu.
"Tidak apa apa Heswa. Tapi tolong jangan gigit bibirmu seperti itu nanti luka." Heswa berlari ringan menuju dapur.
"Bu Heswa ya?" Tanya mbak mbak yang sudah menguasai dapur.
"I-iya" Heswa terkejut namun masih tersenyum tipis.
"Heswa ini mbak Lastri" Jati tiba tiba berada di belakangnya dan memperkenalkan mbak Lastri.
"Saya lastri bu, yang biasa bantu bantu pak Jati di rumah ini." Lastri mengulur tangannya ke Heswa.
"Panggil saja saya Heswa mbak, atau mungkin mbak Heswa jika mbak Lastri canggung" Heswa menjabat hangat tangan Lastri.
"Mbak biar istri saya yang masak. Hari ini saya mau makan nasi goreng istri saya." Mbak Lastri menganngguk lalu pergi membersihkan rumah.
Heswa memasak sesuai keinginan Jati. Jati menunggu nasi gorengnya di meja makan. Sekitar lima belas menit akhirnya nasi goreng ala Heswa siap disantap.
"Aku berangkat dulu ya." Heswa mencium tangan Jati dan melihat suaminya menuju garasi mobil setelah mengacak halus rambutnya.
"Maaf bu" Tiba tiba terdengar suara laki laki dari belakangnya.