My Untouchable Wife

My Untouchable Wife
Episode 10



Sepertinya dua minggu ini merupakan minggu minggu yang melelahkan bagi dua keluarga yang sedang berbahagia. Tanpa mereka sadari hampir semua orang bangun kesiangan kecuali bu Sari yang memang sudah biasa bangun


pagi.


“Pak bangun, ayo kita pulang.” Bu sari menggoyangkan badan pak Hasan yang masih lemas.


“Hmmh” pak Hasan masih malas untuk beranjak dari kasur empuk yang sedang memanjakannya.


“Cepet mandi pak, ibu telpon Dara dulu, biar dia bisa siap siap pulang juga.” Dara berbeda kamar dengan mereka dan pastinya masih asik molor.


***


Heswa yang merasa mulai lapar akhirnya membuka matanya dan kaget setelah melihat jam di hpnya menunjukkan angka 08.10. Dia segera bangun dan menuju kamar mandi. Selesai mandi dia melihat suaminya masih terlelap


diatas sofa.


“Mas Jati bangun! Sarapan dulu.” Heswa berusaha membangunkan Jati dengan mendekat kearah Jati.


“Hemm” Jati hanya berdehem lalu melanjutkan tidurnya.


‘Haduh gimana caranya membangunkan Mas Jati kalau begini’ gumam Heswa dalam hati.


Ponsel Jati bordering dengan nyaringnya. Hingga membangunkan sang empunya.


‘Ternyata suara ponsel lebih mempan dari pada suaraku’ Heswa menggerutu dalam batinnya.


“………”


“Iya ma!” menjawab telepon yang ternyata mamanya.


“………”


“Iya, aku mandi dulu, Heswa udah bangun kok!” Jati kembali berbicara dan menghadap ke Heswa memastikan istrinya sudah bangun.


Selesai mematikan telp Jati ingin melanjutkan tidurnya namun dicegah Heswa. Heswa meminta segera mandi dan sarapan dulu sebelum pulang.


“Kita pulang setelah shalat jum’at aja ya” Jati mengangkat sebelah alisnya berusaha bernego dengan istrinya.


“Iya mas!” Jawab Heswa singkat sambil merapikan barang barangnya dan barang milik Jati.


Sebenernya hari ini banyak sekali yang memenuhi pikiran Heswa. Bagaimana caranya dia bisa melewati hari harinya saat tinggal dengan suaminya. Selesai sarapan dan bercengkrama dengan keluarga barunya Heswa


Sesampainya di Rumah Jati. Rumah klasik bergaya Eropa itu berdiri kokohnya. Memang tak sebesar rumah rumah konglomerat pada umumnya namun terlihat asri dan nyaman.


“Ting” suara chat masuk di smartphone Jati saat ia dan akan masuk ke rumah.


Lastri: Pak Jati, maaf seminggu kedepan saya gak masuk dulu. Ini perintah bu Grace pak. Saya tidak berani membantah.


Jati: Iya.


Mulai hari ini sampai minggu depan Lastri, Asisten rumah tangga Jati, tidak diizinkan mengganggu kehidupan Jati dan Heswa. Mama Jati telah menghubungi Lastri jauh jauh hari agar bisa berlibur sebentar dengan


suami dan anak mereka selama satu minggu. Lastri dan Pak Lukman adalah pekerja di rumah Jati.


“Heswa, kalau kamu belum nyaman kamu bisa menempati kamar itu!” Jati menunjuk satu kamar disebelah kamarnya.


“Iya mas, makasih.” Heswa menuju kamar yang ditunjuk Jati dan segera merapikan barang bawaannya.


Jati berusaha memberikan waktu untuk Heswa. Jati tidak ingin egois dalam menghadapi Heswa. Haphephobia Heswa merupakan tantangan untuk Jati selain dunia bisnisnya. Mereka masuk ke kamar mereka masing masing. Rumah ini memang nyaman jika ditinggali untuk single atau pasangan baru.


Satu jam sudah mereka berada di dalam kamar mereka masing masing.


“Heswa…”Jati memanggil Heswa diiringi suara ketukan pintu kamarnya.


“Iya mas, ada apa?” Heswa bergegas membuka pintu kamarnya.


“Ayo keluar, kita beli makan di luar saja. Hari ini mbak Lastri, Asisten rumah tanggaku gak masuk!” Jati merasa kelaparan sambil mengelus perutnya.


“Mas ada bahan buat masak?” Tanya Heswa sambil melirik ke arah dapur.


“Entahlah. Apa kau mau masak?” Jati mengangkat sebelah alisnya seakan tak percaya.


Heswa bergegas menuju dapur dan mencari bahan makanan dan memasak masakan rumahan. Tak lupa ia memasang  apron dan menyepol rambutnya keatas. Memperlihatkan lehernya yang jenjang.


Jati menelan ludahnya karena melihat pemandangan indah di depannya.


‘Bukannya masakanmu yang kumakan, bisa bisa kamu yang aku makan.’ Jati bergumam menahan nafsunya.


‘Sabar Jati, ini tak semudah perempuan lain’ Jati kembali bergumam.