
"Bapak.." Sapa Jati pada pak Hasan dan mencium tangan pak Hasan dan bu Sari. Tak lupa ia juga melihat kearah Heswa.
"Kak Jati di sini juga?"tanya Dara heran.
"Iya..Ini pasti Dara pengen beli minuman kekinian ala anak muda jaman sekarang ya?" Jati mengarahkan
pandangannya pada Dara.
"Pak, bu..boleh pinjam Heswanya sebentar? Saya mau beli cincin nikah!" Jati meminta izin pada orang tua
Heswa.
"Iya.." jawab pak Hasan dan bu Sari bersamaan.
Mereka berdua pergi kearah toko perhiasan yang letaknya di bawah lantai food court tersebut. Heswa tidak berjalan mendampingi Jati tetapi dia berada satu langkah di belakang Jati. Jati merasa kalau dia sedang berjalan dengan pegawainya. Jati segera menarik tangan tunangannya itu untuk berjalan sejajar dengannya.
"Mas Jati lepas!" Heswa kaget karena tiba tiba jati menarik lembut tangannya. Wajah Heswa mulai memucat karena takut.
"Maaf Heswa, gak bermaksud menakutimu!" Jati melembutkan suaranya dan melepaskan tangan Heswa dengan segera.
"Tolong beri aku jarak, biar aku nyaman. Tenang saja mas, aku akan berusaha bisa agar hubungan kita tidak aneh." Heswa berbicara dengan menundukkan kepalannya.
"Kamu harus belajar memandangku saat bicara denganku!" Jati berusaha mendekati Heswa secara perlahan.
"Baiklah!" Heswa berusaha menatap wajah Jati dengan tenang. Mereka kembali berjalan bersama secara beriringan walaupun masih ada jarak diantara mereka.
Sesampainya di toko perhiasan milik teman mama Jati. Mereka memilih milih perhiasan yang ada di etalase toko dan katalog yang tersedia di toko tersebut. Tanpa Jati sadari sang pemilik toko sudah berada di dekatnya.
"Tante Rosa!" Jati segera menyalami wanita paruhbaya itu.
"Ini adalah cincin yang dipesan mamamu satu bulan yang lalu!" Bu Rosa mengeluarkan kotak perhiasan yang ia simpan.
Jati segera meraih dan melihat seksama. Heswa yang penasaran ikut melihat sambil menjijitkan kakinya namun tetap tak nampak karena terhalang punggung Jati.
"Kamu mau tahu?" Jati menggoda Heswa yang tak mnyadari Jati mengetahui apa yang dia perbuat.
"Iya mas!" Jawab Heswa sambil berusaha mengarahkan pandangannya ke kotak perhiasan itu.
"Sini tangannya" Jati meminta Heswa mengulurkan tangannya pada tangan Jati.
"Belajar pegang tanganku!" Jati bersuara lirih agar Heswa tak malu.
Heswa memegang tangan Jati penuh keraguan. Jati segera menangkap lembut tangan Heswa dan mengeluarkan cincin itu dari kotaknya. Jati yang ingin memasangkan cincin itu ke jari Heswa kaget karena Heswa menarik tangannya dengan cepat.
"Aku coba sendiri ya?" Heswa memelas pada Jati.
"Tapi kan..." belum selesai Jati melanjutkan bicaranya.
"Please....." Heswa kembali memelas dengan wajah memerah seperti tomat memandang kearah Jati.
Deg deg deg. Jantung Jati rasanya ingin melihat wajah Heswa yang mnggemaskan baginya itu. Dia mengulum senyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju. Jati tahu kalau Heswa merasa malu dan tidak bisa berlama lama memegang tangannya.
Heswa segera memasang cincin itu di jari manisnya tapi sayangnya cincin itu terlalu besaer melingkar di jari manisnya. Jati segera meminta tante Rosa untuk memperbaikinya sesuai ukuran jari manis Heswa. Tante Rosa manyanggupi dan berjanji dua hari lagi akan selesai. Jati dan Heswa bergegas keluar dan mencari keberadaan keluarga Heswa. Heswa dan Jati menemukan keluarga pak Hasan di toko kain di lantai yang sama.